Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

ByteDance Bangun Infrastruktur AI Raksasa di Malaysia, Gandeng Nvidia dan Aolani Cloud

Andika Julia Perdana Putra • Minggu, 15 Maret 2026 | 13:55 WIB

ByteDance membangun pusat komputasi AI raksasa di Malaysia dengan puluhan ribu chip Nvidia untuk memperkuat pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
ByteDance membangun pusat komputasi AI raksasa di Malaysia dengan puluhan ribu chip Nvidia untuk memperkuat pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

RADARBONANG.ID – Raksasa teknologi yang menaungi platform video pendek TikTok, yakni ByteDance, dilaporkan tengah memperkuat ambisinya di bidang kecerdasan buatan (AI).

Perusahaan asal Tiongkok itu disebut sedang membangun infrastruktur komputasi berskala besar di luar negeri sebagai bagian dari strategi ekspansi teknologi global.

Proyek tersebut dikabarkan akan dibangun di Malaysia, dengan menggandeng perusahaan komputasi awan Asia Tenggara Aolani Cloud serta produsen chip AI terkemuka Nvidia.

Langkah ini dinilai sebagai upaya ByteDance untuk memperkuat kapasitas komputasi AI mereka sekaligus memperluas penelitian dan pengembangan teknologi di luar Tiongkok.

Baca Juga: Ngabuburit Tanpa Keluar Rumah: Dari Tenggelam di Buku hingga Marathon Dracin, Senja Ramadan Tetap Seru

Gunakan Arsitektur Nvidia Blackwell

Berdasarkan laporan terbaru, proyek tersebut akan menghadirkan sekitar 500 sistem komputasi berbasis arsitektur Nvidia Blackwell.

Teknologi ini merupakan generasi terbaru dari platform komputasi AI milik Nvidia yang dirancang khusus untuk menangani beban kerja kecerdasan buatan berskala besar.

Infrastruktur tersebut diperkirakan akan menampung sekitar 36.000 unit chip Nvidia B200, yang saat ini menjadi salah satu prosesor AI paling canggih yang diproduksi oleh Nvidia.

Chip ini dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan komputasi AI modern, termasuk pelatihan model bahasa besar, pengolahan video, hingga pengembangan sistem kecerdasan buatan generatif yang semakin populer di dunia teknologi.

Investasi Capai Rp 40 Triliun

Dalam proyek ambisius ini, ByteDance diperkirakan menggelontorkan investasi hingga 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 40 triliun.

Nilai investasi tersebut jauh melampaui kapasitas perangkat keras yang saat ini dimiliki oleh Aolani Cloud, yang diperkirakan hanya sekitar 100 juta dolar AS.

Besarnya investasi ini menunjukkan betapa seriusnya ByteDance dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan yang mampu bersaing di tingkat global.

Dengan kapasitas komputasi sebesar itu, perusahaan berpotensi mempercepat pengembangan berbagai teknologi AI yang dapat digunakan untuk layanan digital, termasuk pengembangan algoritma rekomendasi, analisis data, hingga pembuatan konten berbasis AI.

Strategi AI di Luar Tiongkok

Pembangunan infrastruktur ini juga dinilai sebagai strategi penting bagi ByteDance untuk memperluas aktivitas penelitian dan pengembangan AI di luar Tiongkok.

Selain meningkatkan kapasitas teknologi internal, pusat komputasi tersebut juga diharapkan dapat memenuhi permintaan global terhadap layanan AI yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Permintaan terhadap teknologi AI generatif, komputasi awan, serta pemrosesan data berskala besar memang mengalami lonjakan signifikan di berbagai sektor industri, mulai dari teknologi hingga media digital.

Dampak Pembatasan Chip dari AS

Langkah ByteDance membangun infrastruktur AI di luar negeri juga muncul di tengah meningkatnya pembatasan ekspor chip AI canggih dari Amerika Serikat ke Tiongkok.

Chip Nvidia B200 yang digunakan dalam proyek ini termasuk dalam kategori perangkat keras yang diawasi secara ketat oleh pemerintah Amerika Serikat karena teknologi tersebut dirancang di wilayah AS dan memiliki kemampuan komputasi tinggi.

Meski demikian, juru bicara Nvidia menjelaskan bahwa aturan ekspor yang berlaku masih memungkinkan perusahaan untuk membangun dan mengoperasikan layanan komputasi awan berbasis chip tersebut di luar negara yang terkena pembatasan.

Namun demikian, setiap mitra yang ingin menggunakan produk Nvidia tetap harus melalui proses peninjauan dan persetujuan terlebih dahulu guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi internasional.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pulang Kampung! Tren “Slow Mudik” Bikin Perjalanan Lebaran Lebih Santai dan Penuh Cerita

Aolani Cloud Klaim Patuhi Aturan

Sementara itu, pihak Aolani Cloud menyatakan bahwa perusahaan telah mematuhi seluruh aturan pengendalian ekspor yang berlaku dalam kerja sama ini.

Mereka juga menegaskan bahwa ByteDance hanyalah salah satu dari sekian banyak pelanggan yang menggunakan layanan komputasi awan milik perusahaan tersebut.

Hingga saat ini, ByteDance sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait proyek pembangunan infrastruktur AI raksasa di Malaysia tersebut.

Namun jika proyek ini benar-benar terealisasi, langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu investasi infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia Tenggara sekaligus memperkuat persaingan global dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#infrastruktur AI Malaysia #Aolani Cloud #ByteDance AI #Nvidia B200 #Investasi AI ByteDance #Nvidia Blackwell