Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Samsung Ungkap Alasan Memilih On-Device AI di Galaxy S26, Fokus pada Kecepatan, Privasi, dan Koneksi Internet yang Tidak Selalu Stabil

Muhammad Azlan Syah • Kamis, 12 Maret 2026 | 15:00 WIB

Samsung Galaxy S26 mengandalkan on-device AI agar fitur kecerdasan buatan lebih cepat, aman, dan tetap berjalan meski tanpa koneksi internet.
Samsung Galaxy S26 mengandalkan on-device AI agar fitur kecerdasan buatan lebih cepat, aman, dan tetap berjalan meski tanpa koneksi internet.

RADARBONANG.ID - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) pada smartphone terus mengalami percepatan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun di tengah tren penggunaan AI berbasis cloud yang dominan, Samsung justru mengambil pendekatan berbeda pada seri ponsel terbarunya, Samsung Galaxy S26.

Perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu memilih mengandalkan on-device AI, yaitu pemrosesan kecerdasan buatan langsung di dalam perangkat tanpa harus bergantung penuh pada server cloud.

Strategi ini disebut sebagai salah satu fondasi utama pengembangan teknologi AI di lini ponsel terbaru Samsung.

Baca Juga: THR Datang Bagai Hujan Deras, Lalu Hilang Sekejap: Fenomena “Uang Lewat Doang” yang Sering Dialami Anak Muda

Menurut Presiden Samsung Electronics Indonesia, Harry Lee, pendekatan tersebut dipilih agar fitur AI dapat bekerja lebih cepat dan tetap optimal meskipun koneksi internet tidak stabil.

“On-device AI di Galaxy S26 memungkinkan pemrosesan AI langsung di smartphone tanpa sepenuhnya bergantung pada cloud,” jelasnya.

Respons AI Lebih Cepat Tanpa Bergantung Internet

Salah satu alasan utama Samsung mengandalkan teknologi ini adalah kecepatan respons. Dengan pemrosesan yang dilakukan langsung di dalam perangkat, pengguna tidak perlu menunggu data dikirim ke server lalu kembali lagi ke ponsel.

Hal tersebut membuat berbagai fitur AI dapat bekerja secara real-time, seperti pengeditan foto otomatis, pengaturan jadwal pintar, hingga asisten digital yang mampu memahami konteks penggunaan.

Selain itu, pendekatan ini juga sangat relevan bagi pengguna di negara dengan konektivitas internet yang belum merata. Di banyak wilayah, sinyal 4G maupun 5G masih belum stabil sehingga fitur AI berbasis cloud sering mengalami lag.

Dengan on-device AI, fitur-fitur tersebut tetap dapat digunakan meskipun pengguna berada di area dengan jaringan terbatas.

Sebagai contoh, fitur seperti penerjemah percakapan secara langsung atau pengeditan foto berbasis AI tetap bisa berjalan tanpa membutuhkan koneksi data.

Privasi Data Pengguna Lebih Terjaga

Selain soal kecepatan, faktor privasi juga menjadi alasan penting di balik keputusan Samsung.

Dalam sistem AI berbasis cloud, data pengguna biasanya harus dikirim terlebih dahulu ke server eksternal untuk diproses. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan data pribadi.

Dengan teknologi on-device AI, sebagian besar data sensitif diproses langsung di dalam perangkat sehingga tidak perlu dikirim keluar.

Data seperti foto pribadi, catatan, atau percakapan tetap berada di smartphone pengguna, sehingga risiko kebocoran informasi dapat diminimalkan.

Perangkat Galaxy juga dilengkapi sistem keamanan berlapis Samsung Knox yang dirancang untuk melindungi informasi sensitif dari akses tidak sah.

Didukung Chipset dan NPU yang Lebih Canggih

Kemampuan menjalankan AI langsung di perangkat tidak lepas dari perkembangan hardware smartphone.

Chipset terbaru di Galaxy S26 dilengkapi Neural Processing Unit (NPU) yang dirancang khusus untuk memproses algoritma AI secara cepat dan efisien. Komponen ini memungkinkan model AI berjalan langsung di smartphone tanpa menguras baterai secara berlebihan.

Dengan dukungan NPU yang semakin kuat, smartphone kini mampu menjalankan berbagai tugas AI kompleks seperti pengenalan gambar, penerjemahan bahasa, hingga pemrosesan suara secara lokal.

Masa Depan AI Smartphone: Hybrid

Meski mengandalkan pemrosesan lokal, Samsung tidak sepenuhnya meninggalkan AI berbasis cloud.

Baca Juga: BRIN Ungkap Indonesia Perlu 200 Peneliti Nuklir Demi Wujudkan Pembangkit Listrik Nuklir 2032

Ke depan, perusahaan ini diperkirakan akan menggabungkan kedua pendekatan tersebut dalam sistem AI hybrid, di mana sebagian tugas AI dilakukan di perangkat dan sebagian lainnya diproses melalui cloud untuk kebutuhan komputasi yang lebih berat.

Pendekatan ini memungkinkan pengguna mendapatkan kombinasi terbaik antara kecepatan respons, privasi data, dan kekuatan komputasi yang lebih besar.

Dengan strategi tersebut, Galaxy S26 tidak hanya sekadar menghadirkan fitur AI baru, tetapi juga menunjukkan arah perkembangan smartphone masa depan—di mana kecerdasan buatan menjadi bagian inti dari pengalaman penggunaan perangkat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#samsung galaxy s26 ai #Galaxy ai samsung s26 #fitur ai galaxy s26 #on device ai samsung #teknologi ai smartphone samsung