RADARBONANG.ID - Dunia teknologi kembali diguncang transaksi jumbo. Perusahaan konsultasi teknologi asal Irlandia, Accenture, resmi mengakuisisi layanan pemantau kecepatan internet Ookla dengan nilai fantastis US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 20 triliun.
Kesepakatan ini membuat layanan populer seperti Speedtest dan Downdetector berpindah tangan. Bagi pengguna internet, kedua platform itu mungkin sekadar alat mengecek kecepatan jaringan atau melihat apakah layanan digital sedang gangguan.
Namun bagi industri teknologi global, data di balik layanan gratis tersebut jauh lebih berharga daripada yang terlihat di layar pengguna.
Data Jaringan Internet Jadi “Tambang Emas” Baru AI
CEO Accenture, Julie Sweet, menegaskan bahwa data jaringan yang dikumpulkan Ookla akan menjadi bahan bakar penting untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Menurutnya, data tersebut akan digunakan untuk membantu klien perusahaan—baik korporasi maupun pemerintah—mengembangkan sistem AI dalam skala besar.
“Menggunakan produk Ookla untuk mengumpulkan data yang akan membantu klien di seluruh bisnis dan pemerintah meningkatkan skala AI dengan aman,” ujar Julie Sweet, dikutip dari CNBC Indonesia yang melansir The Verge, Jumat (6/3).
Dalam praktiknya, data jaringan global yang dikumpulkan dari jutaan pengujian internet setiap hari memberi gambaran rinci tentang kualitas konektivitas digital di berbagai negara.
Informasi ini sangat berharga bagi penyedia layanan cloud hingga perusahaan AI yang membutuhkan infrastruktur jaringan stabil.
Layanan Gratis Tetap Berjalan
Accenture memastikan bahwa layanan populer milik Ookla tetap akan berjalan seperti biasa meskipun kepemilikan berubah.
Kepada Ars Technica, perusahaan menegaskan pengguna masih bisa memakai Speedtest dan Downdetector secara gratis seperti sebelumnya.
Selain dua layanan tersebut, portofolio produk Ookla juga mencakup:
- Ekahau, perangkat lunak desain dan troubleshooting jaringan WiFi
- RootMetrics, platform analisis performa jaringan seluler
Seluruh produk itu selama ini menjadi sumber data jaringan yang sangat besar dan terus diperbarui secara real time.
Ambisi Ekspansi Data Jaringan Global
CEO Ookla, Stephen Bye, menyambut akuisisi tersebut sebagai peluang memperluas jangkauan bisnis data jaringan.
Ia menilai dukungan Accenture akan mempercepat pengembangan teknologi analitik jaringan sekaligus memperluas penetrasi ke perusahaan-perusahaan besar dunia.
“Bergabung dengan Accenture memungkinkan kami mengembangkan bisnis data jaringan unggulan di perusahaan terbesar dunia dan mempercepat tujuan menciptakan pengalaman terhubung yang lebih baik,” jelasnya.
Bisnis di Balik “Tes Internet Gratis”
Akuisisi ini juga menegaskan satu hal penting dalam ekonomi digital modern: data sering kali lebih bernilai dibanding layanan itu sendiri.
Jutaan pengguna yang setiap hari melakukan tes kecepatan internet sebenarnya ikut menyumbang data besar mengenai kualitas jaringan, stabilitas koneksi, dan distribusi infrastruktur internet global.
Data tersebut menjadi bahan analisis strategis bagi perusahaan teknologi untuk memetakan pasar, memperbaiki jaringan, hingga merancang sistem AI yang lebih adaptif.
Ookla sendiri sebelumnya dimiliki oleh perusahaan media digital Ziff Davis, yang juga menaungi sejumlah situs teknologi dan hiburan seperti CNET, IGN, dan Eurogamer.
Industri Teknologi Masuk Era “Perang Data Infrastruktur”
Di balik transaksi Rp 20 triliun ini, ada sinyal kuat tentang arah industri teknologi global.
Jika sebelumnya perusahaan teknologi berlomba membangun aplikasi dan platform digital, kini persaingan bergeser ke penguasaan data infrastruktur internet—fondasi utama bagi cloud computing dan kecerdasan buatan.
Dengan menguasai data jaringan global dari Ookla, Accenture bukan sekadar membeli perusahaan teknologi.
Mereka membeli peta detail tentang bagaimana internet dunia bekerja. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah