RADARBONANG.ID – Keputusan OpenAI menjalin kerja sama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat memicu gelombang reaksi keras dari sebagian pengguna di AS.
Dampaknya terasa cepat: aplikasi ChatGPT dilaporkan mengalami lonjakan penghapusan instalasi hingga 295 persen hanya dalam sehari.
Berdasarkan data dari Sensor Tower, angka tersebut jauh melampaui rata-rata penghapusan harian yang biasanya berada di kisaran 9 persen dalam periode 30 hari. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah kabar kerja sama tersebut mencuat ke publik.
Tak hanya uninstall yang melonjak, jumlah unduhan baru juga ikut tertekan. Pada Sabtu (28/2), unduhan ChatGPT turun 13 persen dibanding hari sebelumnya.
Penurunan berlanjut pada Minggu dengan tambahan koreksi 5 persen. Tren ini menandai salah satu tekanan pengguna terbesar yang pernah dialami aplikasi tersebut di pasar Amerika Serikat.
Baca Juga: Jika Anda Ingin Terlihat Lebih Muda dalam 30 Hari, Mulailah Mempraktikkan 7 Kebiasaan Harian Ini
Respons atas Langkah Strategis
Gelombang penolakan muncul setelah CEO OpenAI, Sam Altman, menyetujui penggunaan ChatGPT di jaringan rahasia militer AS.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran terkait etika, privasi, dan potensi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam sektor pertahanan.
Sebagian pengguna mempertanyakan sejauh mana teknologi AI dapat digunakan dalam konteks militer tanpa melanggar prinsip transparansi dan keamanan publik.
Isu ini berkembang pesat di media sosial, memunculkan perdebatan tentang batasan peran perusahaan teknologi dalam kerja sama dengan institusi pertahanan.
Di saat bersamaan, pesaing OpenAI mengambil posisi berbeda. Anthropic melalui CEO-nya, Dario Amodei, secara terbuka menolak kerja sama serupa dengan Pentagon.
Alasan yang dikemukakan adalah kekhawatiran bahwa AI dapat digunakan untuk pengawasan massal atau pengembangan sistem senjata otonom.
Claude Melonjak
Sikap tersebut justru mendapat respons positif dari publik AS. Aplikasi chatbot milik Anthropic, Claude, mencatat lonjakan unduhan signifikan.
Di AS, unduhan Claude melonjak 51 persen pada 28 Februari dan untuk pertama kalinya melampaui ChatGPT dalam jumlah unduhan harian.
Claude bahkan sempat menduduki peringkat pertama aplikasi iPhone gratis di AS hingga 2 Maret.
Selain itu, aplikasi tersebut juga memimpin di enam negara lain, yakni Belgia, Kanada, Jerman, Norwegia, Luxembourg, dan Swiss.
Selain data unduhan, sentimen negatif terhadap ChatGPT juga tercermin dalam ulasan pengguna. Ulasan bintang satu melonjak hingga 775 persen pada Sabtu, sementara ulasan bintang lima turun 50 persen.
Perubahan drastis ini menunjukkan adanya reaksi emosional yang kuat dari sebagian basis pengguna.
Baca Juga: Mudik 2026 Diprediksi Lebih Mahal? Ini Perkiraan Kenaikan Biaya dan Tips Hematnya
Munculnya Gerakan “QuitGPT”
Fenomena ini turut diperkuat oleh gerakan akar rumput bertajuk “QuitGPT”, yang mendorong pengguna untuk menghapus aplikasi dan beralih ke alternatif yang dinilai lebih berfokus pada etika serta privasi.
Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah tren ini bersifat jangka panjang atau hanya reaksi sementara terhadap isu yang sedang hangat.
Industri AI sendiri tengah berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab sosial, terutama ketika bersinggungan dengan sektor pertahanan.
Perkembangan selanjutnya akan menjadi indikator penting apakah keputusan strategis OpenAI akan berdampak permanen pada loyalitas pengguna, atau justru menjadi bagian dari dinamika persaingan yang semakin ketat di industri kecerdasan buatan global.
Editor : Muhammad Azlan Syah