Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Meta Borong Akses Chip AI Google, Strategi Besar Mengamankan Masa Depan Kecerdasan Buatan

Tulus Widodo • Jumat, 27 Februari 2026 | 16:33 WIB

Vibes, aplikasi baru Meta berbasis AI mulai dari gambar hingga video pendek mirip Instagram Reels.
Vibes, aplikasi baru Meta berbasis AI mulai dari gambar hingga video pendek mirip Instagram Reels.

RADARBONANG – Persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) global memasuki babak baru. Meta Platforms dilaporkan meneken kesepakatan bernilai miliaran dolar Amerika Serikat dengan Google untuk menyewa chip AI dalam kontrak jangka panjang.

Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Itu mencerminkan perlombaan senyap antar raksasa teknologi dunia dalam mengamankan “bahan bakar utama” AI: komputasi berdaya tinggi.

Perburuan Daya Komputasi AI Makin Brutal

Menurut laporan The Information dilansir dari IDX Channel, kontrak multi-tahun tersebut ditujukan untuk menopang pengembangan model AI milik Meta—termasuk yang menopang ekosistem Facebook dan Instagram.

Dalam industri yang kini ditentukan oleh siapa paling cepat, paling kuat, dan paling hemat daya komputasi, akses terhadap chip AI menjadi senjata strategis.

Perusahaan yang terlambat mengamankan pasokan berisiko tertinggal jauh dalam pengembangan model generatif dan layanan berbasis AI.

Meta Tak Mau Bergantung pada Satu Pemasok

Langkah Meta menyewa chip dari Google memperlihatkan strategi diversifikasi yang semakin agresif. Sebelumnya, Meta sudah mengunci kesepakatan besar dengan Nvidia, pemasok GPU AI yang saat ini mendominasi pasar global.

Tak berhenti di situ, awal pekan ini Advanced Micro Devices (AMD) mengumumkan rencana penjualan chip AI senilai hingga USD 60 miliar—sekitar Rp 1.007 triliun—kepada Meta.

Artinya jelas: Meta tidak ingin masa depan AI-nya bergantung pada satu vendor saja.

Google Dorong TPU Jadi Penantang Nvidia

Bagi Google, kerja sama ini menjadi panggung penting. Berdasarkan laporan Reuters, Google sejak akhir tahun lalu aktif memposisikan Tensor Processing Unit (TPU) sebagai alternatif serius GPU Nvidia yang selama ini menjadi tulang punggung industri AI.

TPU dikembangkan secara internal Google dan selama bertahun-tahun dipakai untuk kebutuhan internal.

Kini, Google mulai membuka akses lebih luas—termasuk dengan skema sewa—untuk menarik pelanggan eksternal skala besar seperti Meta.

Negosiasi Lanjutan dan Model Bisnis Baru

Selain menyewa chip, Meta disebut tengah bernegosiasi untuk membeli TPU Google bagi pusat data mereka, dengan target paling cepat tahun depan.

Meski belum final, pembicaraan ini menunjukkan potensi pergeseran strategi jangka panjang Meta dari sekadar penyewa menjadi pemilik infrastruktur AI sendiri.

Di sisi lain, Google juga dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan investasi besar (tidak disebutkan namanya) untuk membiayai usaha patungan penyewaan TPU kepada klien lain.

Model bisnis ini membuka peluang baru: chip AI sebagai layanan (AI compute as a service).

AI Bukan Lagi Soal Software, Tapi Infrastruktur

Kesepakatan Meta–Google menegaskan satu hal penting: perang AI tidak lagi dimenangkan semata oleh algoritma atau aplikasi.

Ia ditentukan oleh siapa yang menguasai infrastruktur—chip, pusat data, dan efisiensi energi.

Di tengah investasi ratusan miliar dolar yang digelontorkan raksasa teknologi global, langkah Meta menyewa chip AI Google menjadi sinyal keras bahwa era AI kini memasuki fase industrial—di mana skala, pasokan, dan ketahanan infrastruktur menjadi kunci utama. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#infrastruktur kecerdasan buatan #Meta dan Google AI #strategi AI Meta #Meta sewa chip AI Google #TPU Google vs Nvidia