RADARBONANG.ID – Platform komunikasi populer, Discord, resmi menunda penerapan sistem verifikasi usia secara global setelah menuai beragam kritik dari pengguna di berbagai negara.
Kebijakan yang semula direncanakan hadir dalam waktu dekat itu kini dipastikan mundur setidaknya hingga paruh kedua 2026.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh manajemen Discord sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang dinilai masih memunculkan kekhawatiran, terutama terkait privasi dan keamanan data pengguna.
Ditunda Hingga 2026
Dalam pernyataan resminya, Discord menyebut bahwa penundaan dilakukan untuk memberi waktu tambahan dalam melakukan penyesuaian teknis maupun kebijakan.
Perusahaan ingin memastikan sistem verifikasi usia yang diterapkan nantinya benar-benar fleksibel dan tidak membebani pengguna.
Meski demikian, penjadwalan ulang ini tidak berlaku bagi negara-negara yang telah memiliki regulasi ketat terkait verifikasi usia digital, seperti Inggris, Australia, dan Brasil.
Di wilayah tersebut, Discord tetap harus menyesuaikan diri dengan aturan lokal yang berlaku.
Langkah ini dinilai sebagai upaya perusahaan untuk menyeimbangkan antara kepatuhan hukum dan perlindungan privasi pengguna.
Tambah Metode Verifikasi, Tak Wajib Selfie
Salah satu perubahan signifikan yang diumumkan adalah penambahan metode verifikasi usia. Nantinya, pengguna dapat mengonfirmasi usia mereka menggunakan kartu kredit yang masih berlaku.
Dengan metode ini, pengguna tidak lagi diwajibkan mengunggah identitas resmi atau video selfie untuk pemindaian wajah—dua hal yang sebelumnya banyak dikritik karena dianggap berpotensi mengancam privasi.
CTO sekaligus salah satu pendiri Discord, Stanislav Vishnevskiy, menegaskan bahwa sistem ini semata-mata bertujuan memastikan usia pengguna, bukan untuk mengumpulkan atau menyimpan data pribadi yang sensitif.
“Kami ingin membangun sistem yang efektif sekaligus menghormati privasi komunitas kami,” demikian garis besar komitmen perusahaan.
Lebih Transparan Soal Mitra Teknologi
Selain menambah opsi verifikasi, Discord juga berjanji akan lebih transparan mengenai mitra penyedia layanan verifikasi usia.
Perusahaan menyatakan tidak akan bekerja sama dengan vendor pemindai wajah, kecuali prosesnya sepenuhnya dilakukan di perangkat pengguna (on-device processing), sehingga data biometrik tidak dikirim ke server eksternal.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, Discord menghentikan kolaborasinya dengan Persona yang sebelumnya terlibat dalam sistem verifikasi.
Menurut perusahaan, kerja sama itu tidak lagi sejalan dengan standar privasi internal yang ingin diperkuat.
Keputusan ini disambut beragam oleh komunitas. Sebagian mengapresiasi langkah tegas tersebut, sementara yang lain masih mempertanyakan efektivitas sistem baru nantinya.
Hadirkan Fitur “Saluran Spoiler”
Tak hanya soal verifikasi usia, Discord juga tengah mengembangkan fitur baru bernama “Saluran Spoiler”.
Fitur ini dirancang agar server dengan konten terbatas tidak perlu mewajibkan seluruh anggotanya menjalani verifikasi usia.
Dengan sistem ini, hanya pengguna yang ingin mengakses konten tertentu saja yang perlu melakukan konfirmasi usia.
Pendekatan ini dinilai lebih proporsional dan tidak memberlakukan kebijakan secara menyeluruh kepada semua anggota server.
Masih Ada Kekhawatiran
Meski Discord telah menjanjikan fleksibilitas dan transparansi lebih besar, kekhawatiran soal keamanan data tetap menjadi sorotan.
Verifikasi usia digital kerap memicu perdebatan, terutama terkait risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi pribadi.
Untuk meredam kekhawatiran tersebut, Discord berencana merilis penjelasan teknis lengkap mengenai sistem penentuan usia otomatis sebelum kebijakan diterapkan secara luas.
Perusahaan juga menegaskan bahwa perlindungan privasi menjadi prioritas utama dalam setiap tahap pengembangan.
Meski ditunda, Discord memastikan bahwa verifikasi usia tetap menjadi bagian dari rencana jangka panjang perusahaan.
Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan transparan, platform ini berharap dapat menjaga keseimbangan antara keamanan pengguna muda dan hak privasi seluruh komunitasnya. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah