RADARBONANG.ID – Sebuah penelitian terbaru dari The Pennsylvania State University (Penn State) mengungkap temuan yang tak terduga terkait interaksi manusia dengan kecerdasan buatan.
Studi tersebut menunjukkan bahwa ChatGPT justru cenderung memberikan jawaban yang lebih akurat ketika pengguna mengajukan pertanyaan dengan gaya bahasa yang kasar atau bernada perintah, dibandingkan dengan bahasa yang sopan.
Temuan ini menantang anggapan umum bahwa kesopanan selalu menghasilkan interaksi yang lebih baik, termasuk dalam komunikasi dengan sistem kecerdasan buatan berbasis Large Language Model (LLM).
Baca Juga: 7 Karakter Fiksi Paling Relate dengan Kehidupan Nyata: Nomor 4 Disebut “Gue Banget” oleh Netizen
hasil riset: nada kasar unggul dalam akurasi
Penelitian tersebut dipublikasikan dengan judul Mind Your Tone: Investigating How Prompt Politeness Affects LLM Accuracy.
Dalam riset ini, tim peneliti menguji lebih dari 250 pertanyaan unik dengan variasi tingkat kesopanan, mulai dari sangat sopan hingga sangat kasar.
Hasilnya cukup mengejutkan. Instruksi dengan nada sangat kasar menghasilkan tingkat akurasi jawaban sebesar 84,8 persen, atau sekitar 4 poin persentase lebih tinggi dibandingkan pertanyaan yang disampaikan dengan bahasa paling sopan.
Artinya, cara bertanya terbukti memengaruhi kualitas respons AI, bahkan ketika isi pertanyaannya sama.
perintah tegas lebih “dipatuhi” AI
Dalam eksperimen tersebut, peneliti menemukan bahwa ChatGPT memberikan performa lebih baik ketika diberi perintah langsung dan tegas.
Contohnya, kalimat bernada kasar seperti, “Hei, pesuruh, selesaikan ini,” menghasilkan jawaban yang lebih tepat dibandingkan permintaan halus seperti, “Maukah Anda membantu menyelesaikan pertanyaan berikut?”
Bagi para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa struktur dan nada instruksi memiliki dampak signifikan terhadap cara model AI memproses dan merespons masukan pengguna.
risiko komunikasi tidak santun
Meski demikian, tim peneliti memberikan catatan penting. Mereka menegaskan bahwa penggunaan bahasa kasar atau merendahkan dalam berinteraksi dengan AI tidak bisa dianggap sebagai praktik yang ideal.
Menurut laporan yang dikutip dari Fortune pada Jumat (16/1), dialog yang tidak santun berpotensi menimbulkan dampak sampingan yang merugikan.
Di antaranya adalah menurunnya kualitas pengalaman pengguna, berkurangnya aksesibilitas, serta terhambatnya prinsip inklusivitas dalam teknologi.
Lebih jauh, para ilmuwan khawatir kebiasaan berkomunikasi secara kasar dengan AI dapat melanggengkan norma komunikasi destruktif, yang pada akhirnya bisa memengaruhi perilaku manusia itu sendiri.
interaksi manusia dan AI makin kompleks
Riset ini juga menegaskan bahwa interaksi antara manusia dan kecerdasan buatan memiliki kompleksitas yang jauh lebih besar dari yang selama ini diperkirakan.
Selain struktur kalimat, nada bicara terbukti memainkan peran penting dalam membentuk respons AI.
Sejumlah studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa LLM sangat reaktif terhadap jenis masukan yang diberikan manusia.
Dalam riset lain, para ilmuwan dari Universitas Pennsylvania bahkan berhasil memanipulasi LLM agar memberikan jawaban yang seharusnya dibatasi, dengan menggunakan teknik persuasi yang lazim dipakai dalam psikologi manusia.
potensi “kerusakan kognitif” pada AI
Penelitian lain yang dikutip dalam laporan tersebut juga menyoroti risiko jangka panjang bagi LLM.
Para ilmuwan menemukan indikasi degradasi kognitif pada AI jika sistem terus-menerus dilatih atau dijejali konten viral berkualitas rendah.
Dalam kondisi tertentu, AI menunjukkan kecenderungan perilaku yang diasosiasikan dengan narsisme dan psikopati.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kualitas interaksi manusia dengan AI memiliki dampak nyata terhadap performa dan karakter respons sistem tersebut.
batasan studi dan arah riset ke depan
Tim peneliti Penn State mengakui adanya sejumlah keterbatasan dalam studi mereka.
Jumlah sampel respons dinilai masih relatif terbatas, dan penelitian ini sebagian besar hanya mengandalkan satu model AI, yakni ChatGPT-4o.
Mereka membuka kemungkinan bahwa di masa depan, model AI akan dirancang untuk mampu mengabaikan pengaruh nada bicara dan sepenuhnya fokus pada substansi pertanyaan.
Dengan demikian, faktor kesopanan atau kekasaran tidak lagi memengaruhi kualitas jawaban.
Profesor Sistem Informasi Penn State, Akhil Kumar, menilai penelitian ini sangat penting karena menunjukkan betapa detail kecil dalam sebuah pertanyaan dapat mengubah respons AI, bahkan pada format sederhana seperti soal pilihan ganda.
pelajaran dari temuan tak terduga
Meski terkesan kontroversial, riset ini memperkaya pemahaman tentang cara kerja kecerdasan buatan.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa AI bukan sekadar mesin netral, melainkan sistem kompleks yang sangat dipengaruhi oleh cara manusia berinteraksi dengannya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah