RADARBONANG.ID – China menetapkan langkah ambisius di kancah luar angkasa dengan mengajukan rencana untuk meluncurkan lebih dari 200.000 satelit internet ke orbit rendah Bumi (LEO).
Ini menjadi bagian dari strategi Beijing untuk memperkuat posisi dalam persaingan global layanan internet satelit yang selama ini didominasi oleh Starlink, jaringan milik SpaceX yang dipimpin Elon Musk.
Langkah ini bukan sekadar ambisi teknologi, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik untuk memperluas jangkauan infrastruktur komunikasi global di angkasa.
Pendaftaran tersebut diajukan ke International Telecommunication Union (ITU), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur alokasi frekuensi dan slot orbit satelit.
Baca Juga: Tak Terlihat, Tapi Nyata: Masalah Ini Diam-Diam Menggerogoti Jutaan Orang Setiap Hari
Pendaftaran Besar untuk Konstelasi Satelit Mega
China mengajukan pendaftaran konstelasi satelit lewat beberapa perusahaan besar dan lembaga riset, yang secara kolektif merencanakan lebih dari 200.000 unit satelit LEO dalam sekitar 14 jaringan berbeda.
Dua dari aplikasi besar saja masing-masing mengusulkan sekitar 96.714 satelit.
Namun perlu dicatat bahwa pengajuan ke ITU sendiri belum berarti satelit tersebut akan diluncurkan secara langsung.
Setiap proyek harus melewati tinjauan teknis, memenuhi persyaratan peluncuran, dan melaksanakan tahap pembangunan sebelum mendapatkan hak resmi atas frekuensi dan slot orbit.
Persaingan Langsung dengan Starlink
Rencananya China ini dipandang sebagai tantangan langsung terhadap Starlink, yang saat ini menjadi jaringan satelit internet terbesar di dunia.
SpaceX sendiri telah mendapatkan persetujuan untuk menambah hingga 7.500 satelit generasi kedua, yang berarti total kepemilikan Starlink bisa mencapai sekitar 15.000 unit satelit selama beberapa tahun ke depan.
Perbedaan skala antara keduanya cukup mencolok. Sementara rencana China bisa mencapai lebih dari 200.000 satelit, target Starlink masih di angka puluhan ribu.
Hal ini menunjukkan ambisi Beijing untuk tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga mendominasi sumber daya orbit dan cakupan layanan internet global dari luar angkasa.
Fokus Frekuensi dan Slot Orbit
Salah satu elemen krusial dalam persaingan ini adalah alokasi frekuensi radio dan slot orbit di LEO, yang jumlahnya terbatas.
Negara atau perusahaan yang lebih dulu memperoleh persetujuan dari ITU akan memiliki prioritas dalam penggunaan spektrum dan ruang orbit yang strategis.
Dengan mengajukan jumlah luar biasa besar, China berupaya mengamankan posisi awal dalam antrean tersebut.
Namun persetujuan akhir tetap bergantung pada peninjauan teknis dan kemampuan pelaksanaan nyata dari proyek-proyek yang diajukan.
Ambisi Masa Depan untuk Infrastruktur Luar Angkasa
Pendaftaran mega-konstelasi satelit ini bukanlah rencana jangka pendek.
Banyak analis melihatnya sebagai bagian dari strategi jangka panjang China dalam membangun infrastruktur komunikasi berbasis luar angkasa—mulai dari layanan internet global, telekomunikasi, hingga teknologi komersial lainnya yang bergantung pada jaringan satelit.
Pendekatan ini mencerminkan transformasi pesat industri satelit China dari fase awal pengembangan teknologi menjadi persaingan nyata di panggung global, setara dengan para pemain utama seperti SpaceX, OneWeb, dan lain-lain.
Baca Juga: Bukan Masalah Baterai, Samsung Ungkap Penyebab Galaxy Ring Membengkak
Tantangan dan Risiko Perlombaan di Orbit
Meski ambisius, rencana ini menghadirkan tantangan besar. Orbit rendah Bumi telah menjadi arena yang semakin padat.
Jumlah objek—baik satelit aktif maupun puing—semakin bertambah setiap tahun, meningkatkan risiko tabrakan dan gangguan sinyal. Keselamatan dan koordinasi lintas operator menjadi isu penting dalam kelayakan operasional jaringan satelit skala besar seperti ini.
Selain itu, pembangunan dan peluncuran puluhan ribu satelit membutuhkan investasi besar, logistik kompleks, dan teknologi canggih yang harus dijalankan dalam periode panjang untuk menjadi nyata.
Editor : Muhammad Azlan Syah