RADARBONANG.ID - Sejak dirilis pada 15 September 2025, Apple memperkenalkan sistem operasi terbaru mereka, iOS 26, kepada jutaan pengguna iPhone di seluruh dunia.
Namun, beberapa bulan setelah peluncuran, data menunjukkan bahwa banyak pengguna yang justru belum berminat untuk memperbarui perangkat mereka ke versi terbaru ini.
Fenomena ini dinilai cukup menarik karena adopsi sistem operasi Apple pada peluncuran versi-versi sebelumnya biasanya berjalan cepat dan masif.
Baca Juga: Review Jujur atau Konten Settingan? Saat Food Influencer Tak Lagi Sekadar Soal Rasa
Adopsi iOS 26 yang Cenderung Lambat
Berdasarkan data yang dirilis oleh layanan analitik StatCounter, tingkat adopsi iOS 26 di kelompok pengguna iPhone diperkirakan hanya sekitar 15 sampai 16 persen per Januari 2026.
Mayoritas pengguna masih memilih untuk tetap menggunakan iOS 18, yang sebelumnya menjadi versi stabil dengan adopsi sangat tinggi.
Angka adopsi yang rendah ini menjadi indikasi bahwa banyak pengguna “menahan” diri untuk tidak segera memperbarui sistem operasi perangkat mereka.
Jika dibandingkan dengan versi sebelumnya, tren ini jelas menjadi anomali.
Sebagai gambaran, iOS 18 berhasil mencapai tingkat adopsi lebih dari 60 persen hanya beberapa bulan setelah peluncurannya.
Begitu pula dengan iOS 17 dan iOS 16 yang masing-masing memperoleh adopsi yang cukup tinggi pada periode waktu yang sama setelah dirilis.
Alasan Utama Pengguna Menunda Update
Beberapa faktor diyakini menjadi alasan mengapa banyak pengguna ragu memperbarui perangkat mereka ke iOS 26.
Salah satu faktor yang paling mencolok adalah perubahan visual besar-besaran yang disebut “Liquid Glass”.
Desain baru ini memperkenalkan elemen antarmuka semi transparan, latar belakang blur, serta efek visual dinamis yang cukup berbeda dari tampilan iOS sebelumnya.
Meski tampak modern dan ambisius, desain Liquid Glass ternyata mendapat sambutan yang campur aduk dari pengguna iPhone.
Sebagian pengguna merasa desain baru ini terlalu dramatis, membingungkan saat pertamakali digunakan, dan mengubah banyak aspek antarmuka yang sudah mereka kenal selama bertahun-tahun.
Sistem navigasi, ikon, serta tampilan kontrol yang berubah menjadi alasan beberapa pengguna memilih tetap bertahan pada versi lama sistem operasi.
Selain masalah desain, terdapat sejumlah laporan dari komunitas pengguna yang mengeluhkan penurunan performa setelah update seperti baterai cepat habis atau perangkat menjadi lebih cepat panas.
Meskipun beberapa perangkat akhirnya stabil setelah beberapa saat, pengalaman awal yang kurang nyaman ini turut memengaruhi keputusan sebagian pengguna untuk menunda update.
Dukungan Keamanan untuk Versi Lama
Salah satu faktor lain yang membuat pengguna enggan segera memperbarui adalah karena Apple masih menyediakan dukungan keamanan untuk versi iOS lama, seperti iOS 18.
Perusahaan masih merilis pembaruan keamanan untuk sistem operasi tersebut, sehingga pengguna merasa aman selama belum muncul ancaman yang signifikan.
Dukungan semacam ini membuat sebagian pengguna memilih menunggu hingga pembaruan terbaru benar-benar stabil sebelum memutuskan upgrade.
Pengguna Menunggu Stabilitas dan Riak Bug
Sangat umum bagi sebuah sistem operasi baru untuk mengalami beberapa bug atau gangguan performa awal.
Baca Juga: Dari Inovasi ke Kontroversi: Grok AI, Kebebasan Ekspresi, dan Ancaman Konten Asusila Digital
Banyak pengguna iPhone memilih menunggu laporan stabilitas dari sesama pengguna atau review independen sebelum melakukan pembaruan.
Ini termasuk kekhawatiran bahwa update besar semacam iOS 26 bisa membawa isu yang belum sepenuhnya terselesaikan, setidaknya di fase awal peluncurannya.
Dampaknya Bagi Apple
Perlambatan adopsi iOS 26 muncul sebagai tantangan bagi Apple karena update sistem operasi biasanya menjadi kunci untuk menghadirkan fitur baru, peningkatan keamanan, serta inovasi pada ekosistem perangkat mereka.
Jika pengguna terus menunda update dalam jumlah besar, perusahaan mungkin perlu mengevaluasi strategi pembaruan, termasuk bagaimana memperkenalkan fitur baru atau memberikan alasan kuat bagi pengguna untuk segera memperbarui perangkat mereka.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah