Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Harga Memori Menggila, Galaxy S26 Terancam Naik: Samsung Ditekan Realitas Biaya Produksi Global

Tulus Widodo • Rabu, 7 Januari 2026 | 11:40 WIB

Harga memori melonjak tajam, Samsung dihadapkan pada pilihan sulit: menahan harga Galaxy S26 atau mengalihkan beban ke konsumen.
Harga memori melonjak tajam, Samsung dihadapkan pada pilihan sulit: menahan harga Galaxy S26 atau mengalihkan beban ke konsumen.

RADARBONANG.ID — Bukan desain bodi atau kecanggihan kamera yang kini paling membuat Samsung Electronics berhitung keras, melainkan deretan angka di balik meja produksi.

Lonjakan harga memori global memaksa raksasa teknologi asal Korea Selatan itu mengkaji ulang strategi penetapan harga Galaxy S26, seri ponsel andalan yang dijadwalkan meluncur tahun ini.

Persoalannya terbilang sederhana, tetapi dampaknya berat. Biaya komponen naik terlalu cepat, sementara pasar smartphone semakin sensitif terhadap harga.

Samsung kini berada di persimpangan strategis: menyerap kenaikan biaya demi menjaga daya saing, atau mengalihkan tekanan tersebut ke konsumen melalui banderol harga baru.

Baca Juga: Bos Samsung Buka Suara: HP Galaxy Akan Dikuasai AI, Target 800 Juta Unit

Memori Jadi Komponen Termahal

Menurut sumber industri yang dikutip Korea Times, harga memori DRAM dan NAND melonjak hampir dua kali lipat sejak awal 2025.

Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan tren yang secara langsung menggerus struktur biaya perangkat elektronik, terutama ponsel pintar kelas premium.

Pengamat pasar dari Omdia mencatat harga LPDDR5 96 GB—memori utama untuk smartphone—naik sekitar 70 persen sejak awal 2025.

Pada saat yang sama, harga NAND flash untuk penyimpanan ponsel melonjak hingga 100 persen. Lonjakan ini membuat ruang gerak produsen semakin sempit, termasuk bagi Samsung yang selama ini dikenal memiliki rantai pasok kuat.

BoM Membengkak, Harga Sulit Ditahan

Kenaikan harga memori secara otomatis mendorong biaya bill of materials (BoM). TrendForce memperkirakan BoM smartphone tahun ini tumbuh 5–7 persen dibandingkan 2025.

Sementara itu, Counterpoint Research memprediksi harga memori masih berpotensi naik hingga 40 persen sampai kuartal II tahun ini.

Jika prediksi tersebut terwujud, BoM smartphone dapat melonjak 8–15 persen dari level saat ini. Dampaknya tidak kecil.

Counterpoint memperkirakan kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual rata-rata smartphone hingga 6,9 persen.

Di pasar yang mulai jenuh dan penuh persaingan, kenaikan sekecil apa pun bisa memengaruhi keputusan beli konsumen.

Strategi Exynos Tak Cukup Menahan Tekanan

Untuk Galaxy S26, Samsung sempat berharap bisa menekan biaya dengan menggunakan prosesor aplikasi Exynos 2600 buatan sendiri pada model standar.

Strategi ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Namun, lonjakan harga memori datang jauh lebih agresif dari perkiraan. Upaya efisiensi di satu sisi tidak mampu menutup pembengkakan biaya di sisi lain.

Sejumlah sumber industri menilai, dalam kondisi seperti ini, penyesuaian harga menjadi opsi yang semakin sulit dihindari.

Sinyal dari Pasar Laptop

Tekanan biaya serupa sebenarnya sudah lebih dulu terasa di sektor PC. Data DRAMeXchange menunjukkan harga tetap DRAM PC pada kuartal IV 2025 naik 38–43 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sejumlah produsen PC global bahkan telah memberi sinyal akan menaikkan harga laptop pada paruh pertama 2026.

Samsung sendiri dijadwalkan mengumumkan harga lini laptop terbarunya pada akhir bulan ini. Pejabat industri menilai, keputusan harga di segmen PC dapat menjadi indikator awal arah kebijakan harga Galaxy S26.

Negosiasi Krusial di CES 2026

Di tengah tekanan tersebut, laporan menyebut CEO Samsung Electronics sekaligus kepala divisi Mobile Experience, Roh Tae Moon, berencana bertemu CEO Micron, Sanjay Mehrotra, dalam ajang CES 2026 di Las Vegas. Pertemuan ini disebut akan membahas pasokan LPDDR5X untuk seri Galaxy S26.

Namun, karena negosiasi berada di tahap akhir, pelaku industri menilai Micron berada dalam posisi tawar yang lebih kuat.

Sebelumnya, upaya divisi ponsel Samsung untuk menjajaki perjanjian pasokan jangka panjang dengan unit memori internal pada Desember lalu dilaporkan gagal.

Baca Juga: Daun Sirsak: Antara Manfaat Kesehatan dan Mitos yang Perlu Diluruskan

Harga Masih Abu-Abu, Pasar Menunggu

Hingga saat ini, Samsung menegaskan belum mengambil keputusan final terkait harga Galaxy S26. Seri terbaru ini dijadwalkan meluncur dalam acara Galaxy Unpacked di San Francisco pada 25 Februari.

Meski demikian, di tengah lonjakan biaya komponen dan tekanan margin yang semakin nyata, pasar menangkap satu pesan jelas.

Jika harga Galaxy S26 benar-benar naik, itu bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan konsekuensi dari realitas industri global yang tengah tidak ramah—bagi produsen, dan pada akhirnya, juga bagi konsumen. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#memori DRAM #harga Galaxy S26 #NAND flash #Samsung Galaxy S26 #biaya produksi smartphone