RADARBONANG.ID – Rantai pasok kembali menunjukkan wajah kerasnya. Honda Motor memperpanjang penghentian operasional di tiga pabriknya di Tiongkok akibat kelangkaan semikonduktor otomotif.
Keputusan itu diumumkan Senin, seperti dilansir Nikkei Asia, dan langsung berdampak pada jadwal produksi yang semula diharapkan pulih pekan ini.
Produksi Tertahan, Jadwal Mundur
Dilansir dari Jawapos.com, kebijakan ini menghantam fasilitas GAC Honda Automobile, perusahaan patungan Honda dengan Guangzhou Automobile Group.
Tiga pabrik yang sebelumnya direncanakan kembali beroperasi pada Senin—setelah penutupan lima hari hingga Jumat—kini harus menunggu lebih lama.
Honda memperkirakan produksi baru akan dimulai kembali pada 19 Januari. Adapun produksi kendaraan bermesin bensin dan model lain tetap dihentikan hingga 16 Januari.
Perubahan jadwal ini mencerminkan ketidakpastian pasokan chip yang belum menunjukkan tanda pulih cepat.
Berbeda dengan GAC Honda, Dongfeng Honda Automobile—usaha patungan Honda dengan Dongfeng Motor—dijadwalkan tetap melanjutkan kegiatan produksi.
Perbedaan ini menegaskan bahwa dampak krisis chip tidak seragam, bergantung pada jenis komponen dan sumber pasokan yang digunakan tiap fasilitas.
Jepang Ikut Terseret
Masalah tak berhenti di Tiongkok. Honda juga menghentikan sementara produksi di dua pabriknya di Jepang pada Senin dan Selasa.
Penghentian mencakup pabrik Suzuka di Prefektur Mie serta pabrik Yorii di Prefektur Saitama.
Pabrik Suzuka memproduksi sejumlah model populer untuk pasar domestik, termasuk mobil mini N-Box—produk volume tinggi yang sensitif terhadap gangguan pasokan sekecil apa pun.
Nexperia Jadi Titik Lemah Rantai Pasok
Akar masalahnya jelas: terhentinya pengiriman dari Nexperia, produsen semikonduktor berbasis di Belanda yang dimiliki perusahaan Tiongkok.
Honda menggunakan semikonduktor siap pakai buatan Nexperia untuk beberapa komponen kendaraan, bahkan sepenuhnya bergantung pada perusahaan tersebut untuk komponen tertentu.
Ketergantungan ini membuat dampaknya cepat dan dalam. Sejak pengiriman dari Nexperia berhenti, Honda telah memangkas produksi beberapa model andalan di Amerika Utara sejak akhir Oktober.
Untuk menjaga stabilitas operasional, perusahaan kini berburu sumber pasokan alternatif—sebuah proses yang tidak instan.
Tekanan Laba Makin Nyata
Honda memperkirakan kelangkaan semikonduktor di Amerika Utara akan menekan laba operasional sekitar 150 miliar yen atau setara USD 958 juta pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.
Dampak dari penghentian produksi terbaru ini belum dimasukkan dalam proyeksi pendapatan perusahaan.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ini mencerminkan betapa rapuhnya industri otomotif global ketika satu mata rantai pasok tersendat.
Bagi Honda, krisis ini bukan hanya soal mesin yang berhenti berputar, tetapi juga peringatan keras tentang risiko ketergantungan pada pemasok tunggal di era industri yang makin kompleks. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah