RADARBONANG.ID — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sering disebut sebagai salah satu teknologi yang berpotensi besar membantu manusia menghadapi tantangan besar abad ini, termasuk krisis iklim global.
Teknologi ini bisa menganalisis data skala besar, memprediksi perubahan cuaca ekstrem, mengoptimalkan distribusi energi, serta membantu mitigasi dampak perubahan iklim.
Namun semakin dalam dikaji, manfaat teknologi ini ternyata tidak dirasakan secara merata oleh semua pihak.
Bahkan dalam beberapa aspek, AI justru berisiko memperlebar ketimpangan global dan memberi keuntungan yang jauh lebih besar bagi negara maju dan korporasi besar.
Baca Juga: Kenapa Avatar: The Last Airbender Beda dengan Avatar James Cameron
Potensi Besar AI untuk Iklim — tapi Masalahnya “Untuk Siapa?”
AI memang memiliki sejumlah fungsi yang dapat memperkuat respons terhadap perubahan iklim.
Teknologi ini mampu memproses data iklim dengan cepat, memberikan prediksi cuaca yang lebih akurat untuk persiapan bencana, mengoptimalkan jaringan energi, atau memetakan deforestasi dan kualitas udara.
Ini membuat AI tampak sebagai alat penting untuk strategi adaptasi dan mitigasi iklim yang lebih efektif.
Namun demikian, studi terbaru menunjukkan bahwa manfaat mitigasi dari AI justru lebih banyak dinikmati oleh negara-negara maju yang memiliki infrastruktur digital kuat dan kapasitas institusi yang stabil.
Algoritma AI dilatih dengan data dari wilayah yang sudah maju secara teknologi, sehingga hasil optimalnya cenderung berlaku di kota besar seperti London, New York, atau kota di Eropa Barat yang memiliki sumber data dan sumber daya besar.
Sementara itu, negara berkembang yang paling rentan terhadap perubahan iklim — misalnya negara tropis di Afrika atau Asia Tenggara — sering kali tidak mendapat manfaat yang sama karena keterbatasan akses digital, data, dan teknologi.
Infrastruktur Digital: Kesenjangan yang Memperluas Ketidakadilan
Masalah utama dalam ketimpangan ini adalah perbedaan kapasitas digital dan infrastruktur antara negara maju dan berkembang.
Banyak negara miskin atau berpenghasilan menengah tidak memiliki infrastruktur digital yang memadai, akses internet yang luas, dan tenaga ahli yang dibutuhkan untuk memanfaatkan AI secara efektif.
Data satelit, model AI prediktif, dan layanan berbasis cloud yang mendukung mitigasi iklim sering berada di luar jangkauan mereka.
Selain itu, sektor teknologi ini membutuhkan sumber daya besar, termasuk energi listrik untuk pusat data yang besar serta logam langka untuk chip dan perangkat keras.
Sementara negara-negara maju memiliki modal untuk menyediakan infrastruktur tersebut, negara berkembang kerap menjadi pemasok sumber daya atau lokasi fasilitas dengan biaya rendah, namun justru menanggung beban lingkungan dan sosial, tanpa mendapatkan imbal hasil teknologi secara langsung.
Biaya Lingkungan AI dan Dampaknya
Selain isu ketimpangan akses, AI juga memiliki jejak lingkungan signifikan. Pusat data besar yang menopang operasi AI memerlukan listrik dalam jumlah sangat besar, yang sering kali berasal dari sumber energi fosil.
Selain itu, konsumsi air untuk pendinginan fasilitas semacam ini serta limbah elektronik dari produksi perangkat keras menambah tekanan pada lingkungan lokal di tempat fasilitas tersebut berada.
Ini berarti AI bukan hanya soal akses digital, tetapi juga biaya ekologis yang tidak merata bagi komunitas tertentu.
Dimana Keuntungan Bertumpu?
Kesenjangan ini tak hanya bersifat geografis, tetapi juga menyasar sektor ekonomi tertentu.
Negara dengan pusat inovasi teknologi tinggi dan modal besar mampu menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas industri, mengembangkan infrastruktur energi bersih, atau menghasilkan solusi berbasis data yang membantu pengambilan keputusan cepat dalam kebijakan iklim.
Mereka yang memiliki akses ke data berkualitas tinggi, laboratorium riset canggih, dan tenaga ahli akan mendapatkan keuntungan kompetitif lebih tinggi di era digital ini.
Sebaliknya, di negara berkembang, keterbatasan tersebut sering kali berarti bahwa AI masih cenderung menjadi alat mahal yang sulit diakses secara luas.
Akibatnya, negara-negara ini mungkin melewatkan peluang besar dari teknologi ini dalam upaya mereka menghadapi efek perubahan iklim yang secara fisik justru lebih langsung mereka rasakan.
Tantangan Etika dan Keadilan Teknologi
Para pakar menekankan bahwa ketimpangan AI ini merupakan bagian dari gambaran besar ketidakadilan iklim global.
Krisis iklim itu sendiri tak merata: negara yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi karbon sering kali paling terdampak oleh kenaikan suhu, banjir, kekeringan, dan bencana cuaca ekstrem.
Ketika teknologi seperti AI hadir tanpa diimbangi kebijakan yang adil dan inklusif, teknologi ini justru bisa menjadi alat yang memperlebar jurang antara yang “mampu” dan yang “tertinggal”.
Baca Juga: Investasi Terbaik Bukan Saham atau Kripto, Tapi Diri Sendiri: Kenapa Anak Muda Mulai Sadar?
Menuju Akses dan Manfaat yang Lebih Merata
Solusi yang dipandang banyak pengamat adalah pembentukan kebijakan dan kerangka kerja global yang memastikan teknologi seperti AI dapat dikelola secara etis dan inklusif.
Ini termasuk investasi dalam infrastruktur digital di negara berkembang, pembagian data yang lebih adil, peningkatan kapasitas tenaga ahli lokal, serta peraturan global yang mendukung kolaborasi internasional.
Jika hal-hal ini tidak diperhatikan, AI berisiko mendukung model pertumbuhan yang menguntungkan segelintir pihak saja, sementara dampak lingkungan dan sosialnya dirasakan oleh banyak orang yang tidak mendapat manfaat.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah