RADARBONANG.ID — Forum Berlin Global Dialogue (BGD) di Berlin, Oktober 2025, menjadi panggung pernyataan tak biasa dari Perdana Menteri Albania, Edi Rama.
Dengan gaya satir khasnya, Rama menyebut bahwa menteri AI Albania, Diella, tengah “hamil” dan akan “melahirkan 83 anak digital”.
Ungkapan tersebut merujuk pada peluncuran 83 asisten AI parlemen yang kini tengah dikembangkan pemerintah Albania.
Baca Juga: Benarkah Program Makan Bergizi Gratis Tak Butuh Ahli Gizi? Pernyataan Cucun Picu Polemik Nasional
“Kami mengambil risiko yang cukup besar hari ini dengan Diella di sini, dan kami melakukannya dengan sangat baik. Jadi, untuk pertama kalinya, Diella hamil dan memiliki 83 anak,” ujar Rama, dikutip dari The Economic Times.
Meski terdengar seperti candaan, pernyataan itu bukan sekadar humor politik. Metafora tersebut menggambarkan transformasi besar yang sedang dikejar Albania dalam sektor pemerintahan digital.
Diella—yang tercatat sebagai menteri AI pertama di dunia yang duduk resmi dalam kabinet—membawa mandat besar untuk mengawasi transparansi publik, efisiensi birokrasi, serta tata kelola digital berbasis kecerdasan buatan.
Lompatan Ambisius Albania di Era Pemerintahan Digital
Albania dalam beberapa tahun terakhir memang tampil sebagai salah satu negara Eropa yang agresif mengintegrasikan AI dalam fungsi pemerintahan.
Pemerintahnya berupaya memperkecil kesenjangan antara layanan publik dan kebutuhan masyarakat melalui inovasi digital yang terukur, terstandar, dan bisa diakses secara luas.
Peluncuran 83 asisten AI parlemen menjadi simbol bahwa negara tersebut tidak hanya mengikuti arus perkembangan teknologi global, tetapi berupaya menjadi pionir dalam penerapan AI di tubuh pemerintahan.
Asisten-asisten digital ini nantinya dirancang untuk membantu anggota parlemen menganalisis data, menyusun laporan, memverifikasi dokumen, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi yang akurat.
Dengan kata lain, “83 anak digital” itu adalah generasi pertama dari birokrasi baru—birokrasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga lebih transparan dan mudah diaudit.
Peran Diella: Menteri AI Pertama di Dunia
Sosok Diella sendiri menarik perhatian internasional. Ia menjadi menteri AI pertama secara global yang diberi posisi formal dalam struktur kabinet.
Penunjukannya bukan sekadar gimmick politik, melainkan strategi besar Albania untuk menata ulang fondasi administrasi publik dengan teknologi kecerdasan buatan sebagai pusatnya.
Tugas Diella mencakup:
-
meningkatkan keterbukaan data publik,
-
mengawasi adopsi teknologi dalam kementerian,
-
memastikan keamanan informasi dan etika penggunaan AI,
-
serta mendorong efisiensi layanan publik melalui otomatisasi.
Kelahiran metaforis “83 anak digital” menjadi bagian dari strategi tersebut—sebuah eksperimen besar untuk menguji kesiapan AI sebagai mitra kerja utama dalam pemerintahan modern.
Reaksi Global dan Masa Depan Tata Kelola AI
Pernyataan Rama cepat menyebar dan menimbulkan diskusi luas di kalangan pengamat teknologi dunia.
Banyak yang menilai langkah ini sebagai terobosan berani bagi negara dengan populasi kecil namun visi digital yang besar.
Di sisi lain, sebagian pakar menyoroti pentingnya regulasi ketat untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis.
Meski begitu, keberanian Albania membawa AI ke level struktural pemerintahan membuat negara tersebut disorot sebagai potensi model percontohan.
Apalagi, integrasi AI dalam parlemen masih jarang dilakukan, bahkan oleh negara-negara maju.
Dengan simbolisme satir dan kebijakan progresif, Albania kini tengah menguji bagaimana kecerdasan buatan bisa berperan sebagai “anggota tidak resmi” pemerintahan.
Semua mata tertuju pada langkah mereka berikutnya, termasuk kesiapan 83 asisten AI itu untuk benar-benar bertugas mendampingi para legislator.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah