RADARBONANG.ID – Laporan riset terbaru dari perusahaan keamanan siber DeepStrike mengungkapkan sepuluh negara yang paling banyak menjadi target serangan hacker sepanjang 2025.
Analisis ini menghimpun data dari IBM X Force, Radware, NordVPN, Acronis, hingga komentar para pakar keamanan siber.
Amerika Serikat tercatat sebagai negara yang paling banyak diserang, disusul Ukraina, Israel, dan Jepang.
Sementara di Eropa, Inggris, Jerman, dan Polandia mendominasi daftar.
Berikut rangkuman negara dengan volume serangan siber tertinggi tahun ini:
1. Amerika Serikat
AS menempati peringkat pertama dengan 86% insiden di kawasan Amerika Utara.
Ribuan serangan menghantam organisasi di Negeri Paman Sam setiap pekan, mulai dari lembaga federal, bank, rumah sakit, hingga infrastruktur energi.
Dengan lebih dari 260 aktor ancaman yang berfokus pada AS, negara ini menjadi target utama berkat ekonominya yang besar dan aset digital bernilai tinggi.
2. Ukraina
Konflik geopolitik membuat Ukraina jadi salah satu negara paling rentan.
Radware mencatat lebih dari 2.000 serangan siber terjadi pada 2024, mayoritas bermotif politik dan disponsori oleh Rusia.
Serangan DDoS, wiper malware, hingga spionase terus menghantam sektor energi, militer, dan perbankan Ukraina.
3. Israel
Israel menghadapi 1.550 serangan pada 2024, terutama dari hacktivist pro-Palestina dan kelompok yang didukung Iran.
Infrastruktur vital seperti energi, air, hingga telekomunikasi menjadi sasaran utama.
Konflik regional membuat Israel tetap menjadi target favorit meski punya pertahanan siber kuat.
4. Jepang
Sebagai pusat ekonomi Asia Pasifik, Jepang mencatat 66% insiden di kawasan APAC.
Perusahaan otomotif, elektronik, hingga manufaktur sering jadi target kelompok APT dari China, Korea Utara, dan Rusia.
Selain spionase industri, phishing dan ransomware juga marak menyerang sektor keuangan Jepang.
5. Inggris Raya
Inggris menjadi negara dengan volume serangan tertinggi di Eropa, mencapai 25% dari total insiden benua tersebut.
Lebih dari 100 juta upaya serangan terjadi hanya dalam satu kuartal.
Bank, universitas, hingga layanan kesehatan kerap jadi korban serangan phishing, malware, hingga pencurian identitas.
6. Arab Saudi
Di Timur Tengah, Arab Saudi menyumbang 63% insiden serangan siber.
Sektor energi, bank, dan lembaga pemerintah jadi sasaran utama.
Konflik regional dengan Iran semakin memperbesar ancaman yang dihadapi negara kaya minyak ini.
7. Brasil
Brasil memimpin jumlah serangan di Amerika Latin, dengan 53% insiden kawasan terjadi di sana.
Ransomware, penipuan finansial, dan phishing banyak menargetkan rumah sakit, pemerintahan, hingga fintech.
Politik dan pemilu juga sering dimanfaatkan untuk menyebarkan disinformasi.
8. India
India melonjak ke daftar 10 besar setelah mencatat 12,4% serangan malware global.
Ledakan populasi digital, pertumbuhan fintech, hingga smart city menjadikan India target empuk.
Phishing berbasis AI dan ransomware menyerang bank, layanan kesehatan, hingga portal pemerintah.
9. Jerman
Sebagai ekonomi terbesar Eropa, Jerman menyumbang 18% serangan di kawasan.
Perusahaan otomotif, kimia, hingga manufaktur kerap jadi target pencurian data dan spionase.
Peran Jerman di NATO dan Uni Eropa juga menjadikannya incaran kelompok hacker negara.
10. Polandia
Polandia semakin sering diserang, terutama oleh aktor Rusia. Setiap hari, 20–50 percobaan serangan terjadi pada sistem pemerintah, militer, dan utilitas.
Lokasinya yang dekat dengan Ukraina membuat Polandia jadi target strategis.
Tahun ini, pemerintah bahkan meningkatkan anggaran pertahanan siber hingga €1 miliar.
Dari AS hingga Polandia, setiap negara di daftar ini menghadapi ancaman berlapis—mulai dari ransomware, phishing, hingga serangan negara-bangsa.
Dengan meningkatnya ketergantungan dunia pada teknologi, pertahanan siber kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama bagi negara dan industri strategis. (*)
Editor : Amin Fauzie