Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Persaingan E-commerce RI Makin Ketat, Survei Ungkap Hanya 4 Platform Raksasa yang Bertahan

Amin Fauzie • Selasa, 9 September 2025 | 03:25 WIB
Ilustrasi platform e-commerce.
Ilustrasi platform e-commerce.

RADARBONANG.ID - Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memperlihatkan dominasi nyata dari beberapa platform besar.

Shopee menempati peringkat pertama sebagai marketplace paling banyak diakses dengan persentase 53,22%.

Di posisi kedua ada TikTok Shop (27,37%), lalu Tokopedia (9,57%).

Sementara itu, Lazada berada di peringkat keempat dengan 9,09% pengguna, disusul Blibli yang hanya meraih 0,29%.

Data ini menunjukkan betapa tajamnya kesenjangan antara pemain besar dengan platform kecil di Indonesia.

Laporan Momentum Works 2025 juga menegaskan dominasi Shopee, baik di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Shopee mencatat gross merchandise value (GMV) sebesar US$66,8 miliar atau sekitar 52% dari total transaksi di kawasan ASEAN.

Di Indonesia sendiri, Shopee membukukan transaksi sekitar US$25,99 miliar dari total nasional US$56,5 miliar GMV.

Tokopedia menempati posisi kedua dengan US$12,99 miliar, diikuti TikTok Shop (US$6,21 miliar), Bukalapak (US$5,65 miliar), Lazada (US$3,9 miliar), dan Blibli (US$9,04 miliar).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti kondisi pasar digital Indonesia yang semakin timpang.

Dia menyebut kemampuan bersaing platform e-commerce kecil kian sirna di tengah dominasi empat pemain besar yang terus menguasai pasar.

Menurutnya, fenomena ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan.

Pernyataan tersebut dia sampaikan dalam acara Kick-Off Road to Harbolnas 2025 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (8/9).

Di hadapan audiens, Airlangga menyampaikan bahwa Menteri Perdagangan, Budi Santoso, perlu menyoroti lebih jauh kondisi persaingan di sektor ini agar ekosistem digital Indonesia tetap sehat.

“Pak Mendag mungkin perlu dilihat karena platform-platform lain sepertinya semakin kehilangan kemampuan untuk bersaing,” ujar Airlangga dalam pidatonya.

Dia menekankan bahwa bila tidak ada intervensi, peta e-commerce Indonesia akan semakin terkonsentrasi pada segelintir pemain besar.

Airlangga menambahkan, salah satu penyebab utama platform kecil kalah bersaing adalah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi algoritma yang lebih canggih pada raksasa e-commerce.

Teknologi ini membuat pemain besar semakin unggul dalam membaca perilaku konsumen, sementara platform kecil kesulitan mengejar ketertinggalan.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadikan industri ini semakin padat modal. Pemain dengan sumber daya besar akan terus bertahan, sementara yang kecil terpaksa tenggelam karena tidak mampu menutup biaya operasional yang semakin tinggi.

Meski begitu, Airlangga juga menyoroti sisi positif dari kondisi perekonomian nasional.

Dia menyebut Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat dari 49,2 pada Juli 2025 menjadi 51,5 pada Agustus 2025.

Peningkatan ini menunjukkan aktivitas industri dalam negeri mulai pulih di tengah ketidakpastian global dan situasi politik.

“Kita lihat PMI manufaktur meningkat di 51,5. Ini mendorong kontribusi positif sektor manufaktur terhadap perekonomian,” jelas Airlangga.

Data ini sejalan dengan survei ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggambarkan tren serupa.

Selain itu, Airlangga menyebutkan inflasi nasional tetap terkendali di level 2,31% (year on year) pada Agustus 2025.

Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 118,1 pada Juli 2025, menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Dari sisi investasi, pemerintah melihat kondisi kuartal II-2025 relatif stabil dan diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan pada semester kedua.

“Likuiditas juga tumbuh, uang beredar meningkat, dan ini menunjukkan pergerakan ekonomi yang sehat,” ucapnya.

Airlangga menilai momen Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) bisa menjadi salah satu motor penggerak konsumsi masyarakat.

Namun, dia mengingatkan agar dominasi e-commerce besar tidak menghilangkan kesempatan bagi pemain kecil untuk ikut tumbuh dalam ekonomi digital. (*)

Editor : Amin Fauzie
#e-commerce #pasar digital Indonesia #marketplace #platform #survei