Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Utang Rp8 Triliun, Kodak Terancam Tutup Usaha setelah 133 Tahun Berdiri

Amin Fauzie • Jumat, 15 Agustus 2025 | 06:05 WIB
Gedung Kodak World Headquarters di Rochester, NY, AS. Perusahaan fotografi legendaris Eastman Kodak Company ini kini menghadapi ancaman gulung tikar akibat beban utang. Foto diambil pada 3 Maret 2020.
Gedung Kodak World Headquarters di Rochester, NY, AS. Perusahaan fotografi legendaris Eastman Kodak Company ini kini menghadapi ancaman gulung tikar akibat beban utang. Foto diambil pada 3 Maret 2020.

RADARBONANG.ID – Perusahaan fotografi legendaris Eastman Kodak Company kini berada di ujung tanduk.

Perusahaan yang telah beroperasi selama 133 tahun ini menghadapi ancaman gulung tikar akibat beban utang besar yang segera jatuh tempo.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal II-2025, Kodak mengaku kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran utang sebesar US$500 juta atau sekitar Rp8,04 triliun.

Perusahaan bahkan menyatakan ada keraguan substansial terkait kemampuan mereka untuk melanjutkan bisnis.

Kodak berencana menggunakan dana dari program pensiun karyawan untuk melunasi sebagian besar kewajibannya sebelum tenggat.

Rencana ini mencakup pemanfaatan sekitar US$300 juta (Rp4,8 triliun) yang diharapkan masuk dari pengembalian dan penyelesaian Rencana Pendapatan Pensiun Kodak (KRIP) pada Desember 2025.

Namun, perusahaan menegaskan bahwa pencairan dana KRIP tidak sepenuhnya berada dalam kendali mereka.

Berdasarkan aturan akuntansi AS (GAAP), hal ini membuat proyeksi pembayaran masih belum dapat dipastikan.

Dikutip dari The Verge, Kamis (13/8), CMO sekaligus Kepala Penjualan EAMER Kodak, Denisse Goldbarg, menjelaskan bahwa istilah going concern dalam dokumen keuangan mereka merupakan kewajiban pengungkapan karena utang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.

Dia optimistis, setelah proses ini selesai, Kodak akan memiliki neraca keuangan yang lebih kuat dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Goldbarg juga menambahkan bahwa perusahaan yakin mampu melunasi sebagian besar pinjaman sebelum jatuh tempo, serta melakukan restrukturisasi atau refinancing untuk sisa utang dan kewajiban saham preferen.

Meski optimistis, Kodak tidak menutup mata bahwa kondisi saat ini berisiko tinggi.

Perusahaan yang bermarkas di Rochester, New York, itu telah memperingatkan para investor bahwa kelangsungan bisnis mereka bergantung pada keberhasilan strategi pembayaran utang ini.

Selain itu, untuk menghemat arus kas, Kodak berencana menghentikan sementara pembayaran program pensiunnya.

Langkah ini diharapkan membantu memperkuat likuiditas perusahaan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Kodak juga menegaskan bahwa kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden AS Donald Trump tidak akan berdampak signifikan pada bisnis mereka.

Pasalnya, sebagian besar produk seperti kamera, tinta, dan film masih diproduksi di Amerika Serikat.

CEO Kodak, Jim Continenza, mengatakan bahwa meskipun tantangan bisnis semakin kompleks, perusahaan tetap berusaha menjalankan rencana jangka panjangnya.

“Pada kuartal kedua, Kodak terus membuat kemajuan terhadap rencana jangka panjang kami, meskipun menghadapi tantangan lingkungan bisnis yang tidak pasti,” ujarnya, dikutip dari CNN International, Kamis (13/8).

Bagi pecinta fotografi, Kodak adalah merek yang lekat dengan sejarah dan inovasi.

Namun, perjalanan panjang perusahaan ini kini terhenti di persimpangan penting: bertahan lewat restrukturisasi atau terpaksa mengucapkan selamat tinggal dari panggung industri.

Dengan utang triliunan rupiah di depan mata dan ketergantungan pada dana pensiun sebagai penyelamat, nasib Kodak akan ditentukan dalam beberapa bulan ke depan. (*)

Editor : Amin Fauzie
#beban utang #Kodak #Perusahaan fotografi legendaris #bisnis #gulung tikar