RADARBONANG.ID – Internet sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Berdasarkan survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2025 ini jumlah pengguna internet di Indonesia alias yang telah terkoneksi mencapai 229.428.417 jiwa.
Angka tersebut setara dengan tingkat penetrasi sebesar 80,66%.
Ketua APJII, Muhammad Arif, mengungkapkan dalam acara peluncuran “Profil Internet Indonesia 2025” yang digelar di Jakarta, Rabu (6/8), bahwa angka penetrasi tahun ini mengalami peningkatan sekitar 1,16% dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 79,50%.
Menurutnya, tren pertumbuhan pengguna internet saat ini tidak secepat saat pandemi COVID-19.
Dia memperkirakan kenaikan ke depan akan berkisar 2% per tahun. Meski demikian, Arif mengakui masih ada sekitar 19,34% masyarakat Indonesia yang belum terjangkau layanan internet, sebagian besar akibat belum meratanya infrastruktur telekomunikasi.
Ironisnya, meski jumlah penyedia layanan internet (ISP) sudah mencapai sekitar 1.300 perusahaan, akses internet belum sepenuhnya merata.
Arif menyebut hal ini sebagai pekerjaan rumah bersama, dan menegaskan pentingnya regulasi yang tak hanya mendorong pemerataan tapi juga meningkatkan kualitas jaringan di seluruh Indonesia.
Secara geografis, Pulau Jawa masih mendominasi dengan tingkat penetrasi internet tertinggi, yaitu 84,69% dan kontribusi sebesar 58,14% dari total pengguna nasional.
Disusul Sumatera (77,12%), Kalimantan (78,72%), Sulawesi (71,64%), Bali dan Nusa Tenggara (76,86%), serta Maluku dan Papua yang masih berada di angka 69,26%.
Arif juga menyoroti hasil survei di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Daerah 3T hanya menyumbang 1,91% dari total pengguna internet, sementara wilayah non-3T mendominasi hingga 98,09%.
Penetrasi internet di kawasan 3T sendiri mencapai 80,55%, hanya sedikit di bawah daerah non-3T yang berada di angka 80,95%.
Meski porsinya kecil, Arif menekankan pentingnya tetap memberi perhatian khusus bagi masyarakat di wilayah 3T.
Dari sisi gender, distribusi pengguna internet hampir merata dengan kontribusi laki-laki sebesar 51,5% dan perempuan 48,5%.
Tingkat penetrasi untuk laki-laki tercatat 82,73%, sedangkan perempuan sedikit lebih rendah di angka 78,57%.
Dibedah menurut kelompok generasi, generasi milenial dan Gen Z jadi penyumbang terbesar.
Gen Z mencatatkan kontribusi 25,54% dan milenial 25,17%, dengan tingkat penetrasi masing-masing 87,80% dan 89,12%.
Gen Alpha juga mulai mencuat dengan kontribusi 23,19% dan tingkat penetrasi 79,73%.
Sementara generasi yang lebih tua seperti Gen X, Baby Boomer, dan Pre Boomer masih menunjukkan gap digital signifikan.
Arif juga menggarisbawahi fenomena anak-anak usia dini yang sudah akrab dengan dunia digital.
Dia menyebutkan bahwa banyak anak yang bahkan sejak usia nol tahun sudah akrab dengan internet, meski belum dapat dijadikan objek survei karena keterbatasan usia.
“Anak-anak kita yang baru lahir kalau nggak nonton YouTube, nggak mau makan,” ungkapnya, menggambarkan betapa internet sudah menjadi bagian dari rutinitas sejak usia sangat muda.
Dengan terus meningkatnya angka penetrasi dan pergeseran pola penggunaan, tantangan Indonesia ke depan tak lagi sekadar soal koneksi, tapi juga pemerataan, kualitas jaringan, dan literasi digital lintas generasi. (*)
Editor : Amin Fauzie