RADARBONANG.ID - Huawei kembali menarik perhatian dalam ajang Mobile World Congress (MWC) 2025 dengan menghadirkan konsep smartphone revolusioner: Huawei Mate XT, ponsel pertama yang mengusung layar tiga lipatan (tri-fold).
Setelah pasar mulai terbiasa dengan model ponsel lipat dua sisi seperti Galaxy Z Fold dan Huawei Mate X series, langkah Huawei kali ini dianggap sebagai lompatan besar dalam desain smartphone.
Mate XT hadir dengan konsep yang memungkinkan layar utama dibuka menjadi selebar tablet kecil, lalu dilipat dua kali untuk kembali ke bentuk smartphone.
Baca Juga: Xiaomi MIX Flip: HP Lipat Clamshell Pertama dari Xiaomi
Layar fleksibel ini menggunakan teknologi OLED ultra-tipis yang dikembangkan in-house oleh Huawei.
Dalam keadaan terbuka penuh, layar ini mencapai ukuran 10 inci, hampir menyamai tablet.
Ketika dilipat, perangkat berubah menjadi ukuran ponsel konvensional 6,5 inci.
Tidak hanya desain, Huawei juga menanamkan berbagai teknologi terkini pada Mate XT.
Perangkat ini dilengkapi chipset Kirin 9100, RAM 16 GB, dan baterai ganda dengan total kapasitas 5.500 mAh.
Pengisian cepat 100W dan konektivitas Wi-Fi 7 juga telah tersedia.
Huawei menyatakan bahwa teknologi engsel baru yang disebut “Zero Crease Hinge” membuat bagian lipatan nyaris tak terlihat di layar utama.
Engsel ini diklaim dapat menahan hingga 300.000 kali lipatan tanpa kerusakan.
Baca Juga: Honor Magic V5 Siap Ramaikan Pasar HP Lipat Premium
Dalam demo yang ditampilkan di MWC, Mate XT mampu menjalankan tiga aplikasi secara bersamaan dalam tampilan multitasking.
Kombinasi layar lebar dan performa tinggi membuat perangkat ini tidak hanya sekadar ponsel, tapi juga alat produktivitas dan hiburan yang ringkas.
Namun, karena statusnya masih berupa konsep, Huawei belum merilis harga resmi maupun tanggal peluncuran global.
Analis memperkirakan jika rilis secara massal, harga Mate XT akan berada di kisaran Rp40–45 jutaan.
Baca Juga: Meizu 22: HP Bezel-less Premium yang Siap Menggebrak
Pakar desain gadget menyebut bahwa Huawei membuka kemungkinan baru di dunia perangkat pintar.
“Ini bukan hanya soal lipat-melipat. Ini tentang bagaimana satu perangkat bisa fleksibel secara fungsi dan bentuk,” ujar Lin Zao, analis dari TechAsia.
Huawei juga mengisyaratkan bahwa teknologi tri-fold ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk perangkat hybrid seperti phablet AI, perangkat augmented reality, bahkan komputer ultra-portabel.
Dengan peluncuran Mate XT, Huawei tampaknya ingin kembali menegaskan posisinya di pasar inovasi hardware, setelah beberapa tahun tertinggal karena pembatasan pasar global.
Jika berhasil diproduksi massal, Mate XT berpotensi mengubah cara konsumen melihat fungsi sebuah smartphone.
Kesimpulannya, Mate XT bukan sekadar eksperimen desain, tapi indikasi nyata bahwa masa depan smartphone bisa jauh lebih fleksibel—secara harfiah dan fungsional.
Huawei menantang batasan lama, dan dunia teknologi siap menyambut tantangan baru ini.
Editor : Adib Turmudzi