RADARBONANG.ID – Raksasa teknologi Apple tengah bersiap menyambut pemulihan besar-besaran di paruh kedua tahun fiskal 2025.
Optimisme ini muncul berkat kehadiran produk baru seperti iPhone 17 Slim yang kabarnya bakal tampil super tipis dan elegan.
Peluncuran ini diyakini jadi pendorong utama rebound kinerja Apple, meski perusahaan asal Amerika Serikat ini masih bergulat dengan tekanan tarif tinggi dari Presiden Donald Trump.
Analis dari Bank of America Securities, Wamsi Mohan, memperkirakan pendapatan Apple di kuartal ketiga bakal tembus US$90,2 miliar, dengan laba per saham (EPS) sekitar US$1,45 atau setara Rp23.815 (kurs Rp16.424 per dolar AS).
Sementara margin kotor diprediksi 46,1%, Apple disebut harus menanggung beban tarif hingga US$900 juta.
Memasuki kuartal keempat, Apple diproyeksikan mencatatkan pendapatan US$99,5 miliar dengan EPS US$1,66 atau Rp27.265 per saham.
Sayangnya, margin kotor diperkirakan turun jadi 45% akibat tambahan dampak tarif senilai US$1 miliar.
Meski demikian, BofA optimis margin ini bakal membaik menjelang tahun fiskal 2026.
Di sisi pasar saham, Apple sempat naik 0,3% pada perdagangan Senin, meski secara tahunan masih melemah 14%.
BofA menetapkan rekomendasi Buy dengan target harga US$235, sembari mengingatkan bahwa margin kuartal ini tetap jadi risiko utama, terutama akibat tekanan tarif pada periode Juni–September.
Berbeda dengan BofA, TC Cowen juga memberi rekomendasi Buy, namun dengan target lebih tinggi yakni US$275.
Cowen menyoroti lemahnya strategi Apple dalam bidang kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu beban terberat, meski mereka percaya Apple masih punya waktu sekitar 1,5 tahun untuk menghadirkan solusi AI yang menjanjikan.
Sementara itu, JPMorgan mengusung rekomendasi Overweight, dengan catatan bahwa Apple bisa terdampak lanjutan dari gugatan monopoli terhadap Alphabet (induk Google).
Apabila Departemen Kehakiman AS melarang Google membayar Apple untuk distribusi pencarian, maka potensi margin Apple bisa terguncang.
iPhone 17 Slim Jadi Andalan Baru
Salah satu faktor paling menarik adalah iPhone 17 Slim, yang disebut-sebut bakal diluncurkan musim gugur 2025.
Menurut Mohan, model ini kemungkinan menggantikan iPhone 16 Plus dan akan hadir dengan layar 6,6 inci serta desain super tipis hanya 6 mm.
Yang membuatnya makin menarik, iPhone 17 Slim—kemungkinan diberi nama iPhone Air—bakal dijual dengan harga sekitar US$100 lebih tinggi dari iPhone 16 Plus.
Ini menjadi strategi Apple untuk mengisi celah antara lini Pro dan non-Pro dengan tampilan lebih elegan dan ringan.
Dengan strategi peluncuran produk baru, fokus pada efisiensi margin, dan penyesuaian harga yang agresif, Apple tampaknya berusaha bangkit dari tekanan pasar dan regulasi yang mendera sepanjang 2025.
Apakah iPhone 17 Slim akan jadi penyelamat? Kita nantikan gebrakan resminya musim gugur nanti. (*)