RADARBONANG.ID - Honor kembali memperkuat eksistensinya di segmen menengah lewat peluncuran Honor 400 dan Honor 400 Lite 5G.
Keduanya membawa perpaduan antara kecerdasan buatan (AI), baterai besar, dan harga yang tetap bersahabat untuk pasar Indonesia.
Salah satu fitur menonjol yang ditawarkan adalah teknologi “Image-to-Video AI” yang memungkinkan pengguna mengubah foto diam menjadi video pendek dengan animasi otomatis.
Fitur ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengguna muda yang aktif di media sosial dan gemar membuat konten kreatif.
Dari sisi desain, Honor 400 tampil elegan dengan gradasi warna yang mewah dan modul kamera persegi panjang di bagian belakang.
Layarnya berukuran 6,72 inci dengan resolusi FHD+ dan refresh rate 120 Hz, memberikan pengalaman visual yang smooth saat scrolling maupun menonton video.
Untuk dapur pacu, Honor 400 mengandalkan chipset MediaTek Dimensity 7020 5G yang cukup bertenaga di kelasnya.
Chipset ini dipasangkan dengan RAM hingga 8 GB dan memori internal 256 GB.
Sementara Honor 400 Lite sedikit lebih sederhana dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB.
Kedua perangkat ini mengusung baterai besar 6.000 mAh yang mendukung pengisian cepat 35 W.
Dalam pengujian internal, daya tahan baterai mampu menembus lebih dari satu hari penuh penggunaan intensif, bahkan mendekati dua hari dalam pemakaian moderat.
Di sektor kamera, Honor 400 dilengkapi kamera utama 108 MP dan sensor AI tambahan yang mendukung berbagai efek otomatis, seperti bokeh sinematik dan penyesuaian cahaya malam.
Untuk kamera depan, tersedia sensor 32 MP dengan kemampuan beauty AI real-time.
Menariknya, seluruh fitur ini dikemas dalam harga yang tetap ramah di kantong.
Honor 400 dibanderol mulai Rp3,99 juta, sedangkan Honor 400 Lite berada di kisaran Rp3 juta, menjadikannya salah satu HP AI terjangkau yang layak diperhitungkan.
Dengan strategi kombinasi AI, daya tahan tinggi, dan harga kompetitif, Honor 400 Series tampaknya siap merebut hati generasi muda Indonesia yang ingin tampil produktif sekaligus kreatif tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Editor : Adib Turmudzi