RADARBONANG.ID – Dunia akuntansi diam-diam sedang hijrah.
Bukan cuma ngitung duit, tapi sekarang mulai serius ngitung dampak lingkungan.
Tren ini dikenal sebagai Green Accounting alias akuntansi hijau.
Kedengarannya idealis, tapi jangan salah, ini bukan cuma buat jaga citra, tapi sudah jadi alat ukur strategis yang menentukan masa depan bisnis.
Tak heran kalau perusahaan-perusahaan besar, dari perbankan sampai industri energi, mulai berlomba-lomba menunjukkan laporan keuangan plus laporan emisi karbon.
Jadi pertanyaannya sekarang: Green accounting ini benar-benar efektif atau cuma jargon tren?
Apa Itu Green Accounting? Bukan Sekadar Akuntansi Biasa
Green accounting adalah sistem akuntansi yang memperhitungkan faktor lingkungan hidup ke dalam laporan keuangan perusahaan.
Artinya, selain neraca rugi-laba, perusahaan juga harus mencatat dampak mereka terhadap alam: mulai dari konsumsi energi, limbah produksi, hingga jejak karbon.
Tujuannya? Supaya keberlanjutan (sustainability) jadi bagian dari strategi, bukan cuma kampanye pemasaran.
Kenapa Green Accounting Jadi Tren? Ini 5 Faktanya:
Tekanan Regulasi Global
Banyak negara mulai mewajibkan pelaporan ESG (Environmental, Social, Governance), terutama untuk emisi karbon dan limbah industri.
Investor Makin Peduli Lingkungan
Investor besar sekarang menilai portofolio dari sisi keberlanjutan. Perusahaan yang punya nilai ESG baik lebih dilirik.
Akuntansi Tradisional Sudah Nggak Cukup
Selama ini, biaya lingkungan dianggap eksternalitas. Sekarang, semua harus dihitung sebagai beban operasional nyata.
Krisis Iklim Tak Bisa Diabaikan
Perusahaan harus ikut tanggung jawab atas perubahan iklim. Green accounting adalah langkah awal paling konkret.
Perbankan Hijau dan Pendanaan Berbasis ESG
Lembaga keuangan kini mulai selektif. Kredit hijau dan investasi berbasis ESG hanya diberikan ke perusahaan yang transparan secara lingkungan.
Contoh Penerapan Green Accounting di Dunia Nyata
- Unilever mulai menghitung biaya air dalam produksinya untuk kampanye hemat air.
- PLN mulai melaporkan porsi energi terbarukan dalam laporan tahunan mereka.
- Startup pertanian digital kini memasukkan jejak karbon pengiriman sebagai data akuntansi.
Green Accounting di Indonesia: Sudah Siap?
Di Indonesia, kesadaran akan akuntansi lingkungan mulai naik, terutama setelah pemerintah mendorong transparansi data ESG.
Tapi tantangannya masih besar: dari minimnya standar pelaporan nasional, hingga belum banyak SDM akuntansi yang paham metodologinya.
Meski begitu, beberapa universitas dan startup mulai membuka pelatihan green accounting.
Bahkan, profesi baru seperti sustainability accountant atau carbon auditor mulai dicari.
Bagi para pelaku bisnis, green accounting bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
Perusahaan yang tidak mulai menghitung jejak lingkungannya akan tertinggal, bukan hanya di mata regulator, tapi juga di mata konsumen dan investor. (*)
Editor : Amin Fauzie