RADARBONANG- China kembali membuat gebrakan di dunia teknologi dengan meluncurkan DeepSeek, kecerdasan buatan (AI) yang menyaingi dominasi perusahaan-perusahaan AI asal Amerika Serikat.
Dalam waktu singkat, DeepSeek V-3 dan R1 telah menunjukkan performa luar biasa, bahkan dalam beberapa aspek melampaui AI buatan AS seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude.
Terobosan ini semakin mengejutkan mengingat AS selama ini menerapkan pembatasan ekspor teknologi canggih ke China, termasuk chip semikonduktor.
Namun, DeepSeek berhasil mengatasi keterbatasan ini dengan menggunakan chip lama Nvidia H800s, membuktikan bahwa inovasi bisa tetap berkembang meskipun ada kendala.
DeepSeek telah menjadi aplikasi asisten AI gratis yang paling banyak diunduh di App Store AS, melampaui ChatGPT dari OpenAI.
Kejutan ini langsung berdampak pada pasar saham AS, dengan harga saham Nvidia anjlok 17% dalam sehari dan indeks semikonduktor AS turun 9,2%, mencatatkan kerugian terbesar sejak Maret 2020.
Penurunan juga dialami raksasa teknologi lainnya:
- Microsoft turun 2,1%
- Alphabet (Google) turun 4,2%
- Dell Technologies turun 8,7%
- Digital Realty (operator pusat data) turun 8,7%
- Vista (perusahaan listrik) turun 28,3%
CEO Scale AI, Alexander Wang, menyebut peluncuran DeepSeek sebagai "alarm bangun bagi Amerika", sementara investor teknologi Marc Andreessen menyamakannya dengan "momen Sputnik dalam AI", mengacu pada peluncuran satelit Soviet yang memicu perlombaan luar angkasa era Perang Dingin.
DeepSeek bukanlah AI pertama dari China. Sebelumnya, raksasa teknologi seperti Alibaba (QwenAI) dan ByteDance (Doubao) juga mengembangkan AI mereka.
Namun, DeepSeek berhasil melampaui mereka dengan model yang lebih ringan, cepat, dan akurat dalam berbagai pengujian.
Dalam uji benchmark oleh laboratorium independen, DeepSeek terbukti lebih unggul dari Llama 3.1 (Meta), GPT-4o (OpenAI), dan Claude Sonnet 3.5 (Anthropic) dalam:
- Pemecahan masalah matematika kompleks
- Kompetisi pemrograman
- Mendeteksi dan memperbaiki bug kode
Selain itu, DeepSeek juga memiliki kemampuan multi-bahasa, dengan performa luar biasa dalam bahasa Inggris dan Mandarin.
CEO Microsoft Satya Nadella bahkan mengakui kehebatan DeepSeek dalam efisiensi komputasi, menekankan bahwa AI China harus disikapi dengan sangat serius.
Salah satu faktor yang membuat DeepSeek begitu fenomenal adalah efisiensi biayanya. Menurut laporan, DeepSeek hanya menghabiskan $5,6 juta untuk pengembangannya. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan investasi AI dari perusahaan AS:
- OpenAI: $5,4 miliar per tahun
- Google: $51 miliar pada 2024
- Microsoft: $13 miliar untuk OpenAI
Sebagian besar pengembang DeepSeek adalah lulusan baru atau profesional AI pemula, tetapi mereka berhasil menciptakan AI dengan performa luar biasa.
Keunggulan DeepSeek juga terletak pada sifatnya yang open-source, berbeda dengan AI milik perusahaan Silicon Valley yang cenderung eksklusif.
Hal ini memungkinkan komunitas pengembang untuk mengakses, memodifikasi, dan meningkatkan AI ini secara bebas.
Dengan dukungan pemerintah yang menargetkan China sebagai pemimpin dunia dalam AI pada 2030, investasi di bidang ini diprediksi akan terus meningkat.
Para analis menilai keberhasilan DeepSeek sebagai bukti bahwa perusahaan-perusahaan China mampu mengatasi rintangan yang diterapkan oleh Barat.
Namun, masih ada pertanyaan besar tentang bagaimana AS akan merespons kebangkitan AI China ini.
Kim Forrest, kepala investasi di Bokeh Capital Partners, menyebut DeepSeek sebagai pukulan telak bagi saham teknologi AS, tetapi dampak jangka panjangnya masih perlu diamati.
Yang jelas, dengan hadirnya DeepSeek, peta persaingan AI global telah berubah selamanya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni