TUBAN-Seiring perkembangan teknologi, sekarang ini masyarakat lebih suka menggunakan cashless sebagai metode pembayaran utama.
Bahkan, di sejumlah kota besar, sejumlah toko dan restoran hanya mau bertransaksi dengan cashless dan menolak pembayaran tunai.
Pembayaran dengan metode cashless mengharuskan para pengguna men-scan barcode QRIS untuk membayar.
Dikutip dari cnnindonesia.com, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan transaksi melalui QRIS melesat 213,31 persen setiap tahunnya.
Terlebih, jumlah pengguna QRIS di tanah air mencapai 49,76 juta pengguna dengan 32,25 juta merchant di seluruh tanah air.
Meski diklaim lebih aman dan praktis, tak dimungkiri selalu ada celah untuk meraup keuntungan dari teknologi ini.
Menurut para pakar, QRIS sering disalahgunakan para oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan pribadi.
Ketua Umum Asosiasi Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem mengatakan, penyalahgunaan QRIS merupakan tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan.
Dengan mengedukasi masyarakat dan merchant pengguna QRIS, risiko bisa diminimalisasi.
Berikut beberapa modus penipuan menggunakan QRIS:
1. Tangkapan layar QRIS palsu
Modus ini merupakan salah satu modus penipuan QRIS yang wajib diwaspadai para pedagang.
Tak jarang para pelaku memanfaatkan ketidaktelitian pedagang untuk mengambil keuntungan pribadi.
Modusnya, para pelaku menunjukkan screenshot bukti pembayaran QRIS lama mereka kepada para pedagang.
Notifikasi pembayaran sebenarnya akan masuk jika pembeli sudah membayar, namun jika situasi ramai pedagang berpotensi lengah.
2. Mengubah barcode QRIS ilegal
Bentuk modus penipuan QRIS berikutnya adalah mengubah barcode QRIS.
Biasanya, modus penipuan ini sering terjadi pada barcode QRIS yang ditempatkan pada gerai umum. Salah satunya QRIS pada kotak amal di masjid.
Pelaku dapat dengan mudah mengubah QRIS tersebut dan menukarnya dengan barcode miliknya.
Tujuannya, sumbangan jamaah masjid masuk ke rekening pribadinya.
3. Phising
Modus penipuan ini sering digunakan sebagai penyamaran.
Para pelaku biasanya menggunakan website palsu yang dibuat semirip mungkin dengan website aslinya.
Dengan begitu, para korbannya tidak mengetahui.
Saat korban tidak sadar telah memasukkan data pribadi mereka dan melakukan transaksi menggunakan QRIS, maka pelaku akan mendapatkan data pribadi korban serta dana dari transaksi tersebut.
Dengan modus-modus tersebut, para pedagang dan pembeli harus sama-sama paham dan berhati hati saat menggunakan metode transaksi cashless. (*)
Editor : Dwi Setiyawan