TUBAN-Layanan internet milik Elon Musk, Starlink menjadi primadona baru bagi masyarakat Indonesia.
Pasalnya layanan Starlink ini tidak menggunakan kabel fiber optik, namun menggunakan satelit.
Berbeda dengan layanan internet satelit biasa, Starlink dinilai lebih cepat dengan latensi yang rendah pula.
Starlink mengklaim kecepatan internetnya bisa mendapai 300 Mbps.
Angka tersebut bisa dibilang cepat dibandingkan provider internet lain di Indonesia.
Proyek Starlink dimulai pada 2015 silam dan saat ini satelitnya yang mengorbit di bumi sudah mencapai 5.000 buah.
Di balik hype-nya layanan internet ini, kita perlu tahu kelebihan dan kekurangan Starlink.
Dilansir dari infokomputer.grid.id, berikut kelebihan dan kekurangan layanan internet milik Elon Musk tersebut.
Kelebihan Starlink:
1. Mudah dirakit
Perakitan komponen yang rumit menjadi masalah tersendiri bagi sebagian orang.
Pasalnya banyak part yang membuat bingung penggunanya.
Hal ini tidak berlaku jika menggunakan Starlink.
Perakitan yang mudah menjadi nilai jual tersendiri bagi Starlink.
Pasalnya penggunanya tak perlu memiliki kemampuan khusus untuk memasang perangkatnya.
Terminal Starlink hanya memiliki panjang sekitar 30 cm saja.
Pemasangan terminal dapat dilakukan di atas rumah atau tempat terbuka lainnya.
Proses pemasangan yang mudah dan simple berdampak pada waktu perakitan juga.
Hanya dengan sekitar 30 menit, Starlink sudah siap untuk digunakan.
2. Tidak pandang tempat
Karena menggunakan satelit, Starlink bisa digunakan di mana saja.
Tidak peduli tempat terpencil atau bukan. Itu karena Starlink tidak bergantung pada layanan internet konvensional yang menggunakan kabel optik.
Bahkan, starlink menawarkan paket yang dapat digunakan di laut lepas.
Hal ini tidak bisa dilakukan penyedia layanan internet lainnya.
3. Lantesi yang rendah
Satelit Starlink yang berada di orbit rendah membuat tingkat latensinya menjadi rendah juga.
Latensi yang rendah membuat tinggat perpindahan data di jaringan menjadi lebih cepat dan stabil.
Orbit rendah ini diklaim memiliki latensi 27 milidetik.
Dengan begitu Starlink mampu digunakan saat bermain game karena memiliki latensi yang sangat rendah.
Kekurangan Starlink:
1. Tidak terhalang bangunan
Digunakannya satelit membuat terminal Starlink wajib dipasang pada area terbuka tanpa halangan.
Terminal harus langsung menghadap ke arah langit.
Starlink akan bekerja dengan sangat baik di area tersebut.
Hal ini menjadi sebuah PR tersendiri saat akan memasang terminal.
Pasalnya halangan seperti pohon atau gedung tinggi memengaruhi kinerja internet dari Starlink.
2. Lebih mahal
Menggunakan teknologi berbeda membuat harga Starlink juga tergolong lumayan tinggi.
Dikutip dari Kompas, biaya langganan provider milik Elon Musk ini mencapai Rp 750.000 per bulan, sedangkan provider konvensional lain hanya Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu.
Biaya tersebut belum termasuk perangkat terminal dan router yang mencapai Rp 7 jutaan.
Untuk awal peluncuran, harga perangkat Starlink didiskon 50 persen.
3. Lebih cocok di tempat 3T
Layanan ini diciptakan untuk menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang tak terkoneksi layanan internet.
Ini menandakan Starlink lebih cocok digunakan di tempat yang terpencil.
Starlink bak oasis di sekolah atau fasilitas lainnya di daerah 3T yang sama sekali belum terjamah layanan internet.
Starlink kurang cocok dipasang pada daerah padat penduduk yang sudah tercover layanan internet konvensional.
Apalagi harus merogoh kocek yang sedikit lebih dalam.
Hadirnya Starlink menjadi opsi baru bagi masyarakat yang membutuhkan layanan internet di mana pun mereka berada.
Dengan Starlink, masalah fundamental tentang pemerataan jaringan internet di Indonesia bisa teratasi. (*)
Editor : Amin Fauzie