TUBAN-Media sosial tidak hanya berpengaruh positif terhadap interaksi antarindividu.
Pengaruh buruk juga terbawa dalam interaksi online di media sosial.
Salah satu pengaruh buruk tersebut adalah kurangnya kesadaran menghargai pengguna lain media sosial.
Pengaruh buruk yang kerap terjadi adalah cyber bullying atau perundungan online melalui platform media sosial.
Anak anak hingga remaja yang bermain media sosial kerap menjadi sasaran empuk aksi ini.
Penggunaan smartphone yang terlalu dini merupakan salah satu faktor pemicu utama perundungan online.
Dikutip dari laman Unicef, perundungan online dapat berupa menyebarkan kebohongan dan menyebar foto memalukan seseorang di media sosial, mengirim pesan ancaman, dan menulis kata-kata yang menyinggung melalui platform chatting.
Bentuk perundungan lainnya, meniru atau mengatasnamakan orang lain untuk menyebar pesan melalui chat, mengucilkan seseorang dari lingkup pertemanan di media sosial, dan menghasut seseorang untuk melakukan hal yang dapat merugikan individu lainnya.
Hampir semua platform media sosial menyediakan ruang untuk mengomentari postingan orang lain, bahkan mengirim pesan chat ke semua orang.
Karena itu, tak jarang perundungan online berawal dari komentar- komentar yang negatif.
Perundungan online dapat menyisakan jejak digital, berupa rekaman chat atau catatan yang berguna untuk melacak keberadaan pelaku.
Bagaimana cara mencegahnya?
1. Pentingnya Pengawasan Orang Tuban terhadap Anak
Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi atau memberikan gawai kepada anaknya.
Ironisnya, di zaman sekarang, alih alih mengajak anak bermain, orang tua sekarang justru malah memberi anak gawai agar tidak rewel.
Anak yang diberi gawai sejak kecil cenderung kecanduan karena gawai memberikan konten yang menarik dibandingkan dengan yang mereka lihat di dunia nyata.
Anak-anak sangat mudah mengakses konten yang bukan ditujukan untuk umur mereka.
Karena itu, orang tua harus peka dengan berubahan sifat anak yang menjadi tanda awal terkena perundungan online.
Perubahan tersebut, cemas berlebihan, tidak bersemangat pergi ke sekolah, atau menurunnya prestasi.
Tak hanya sebagai korban, orang tua juga harus melihat anak sebagai pelaku perundungan jika menemui perilaku yang cenderung agresif hingga berkata kasar.
Think before text juga harus ditanamkan kepada diri anak.
Ajari anak tentang kontrol diri di media sosial agar tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Orang tua dituntut aktif melihat aplikasi dan permainan yang digunakan anak.
Selalu memantau aktivitas anak di dunia maya menjadi sebuah keharusan.
Perlakuan orang tua terhadap anak juga tak kalah pentingnya.
2. Pembatasan Penggunaan Gawai
Pemberian gawai pada anak usia dini merupakan sebuah bom waktu.
Selain mengurangi kesehatan fisik, mental anak juga menjadi sasaran empuk.
Pembatasi pengguna gawai pada anak merupakan langkah bijak orang tua untuk mengurangi risiko anak menjadi korban atau bahkan pelaku perundungan online.
Mengajak anak bermain dan berinteraksi di dunia luar juga merupakan suatu keharusan.
Orang tua harus menetapkan berapa lama durasi anak dalam bermain gadget.
Tak kalah pentingnya, menyampaikan secara baik-baik apa saja yang tidak boleh dilakukan di media sosial menjadi tanggung jawab orang tua. (*)