TUBAN-Tak dimungkiri AI memudahkan manusia untuk memproduksi sebuah konten. Proses produksi yang tadinya dibuat manusia, pada akhirnya digantikan AI.
Beroperasinya AI dinilai menguntungkan karena bisa menambah efisiensi suatu pekerjaan.
Namun, tak jarang beberapa pengguna mengoperasikan kecerdasan buatan ini kelewat batas.
Dengan mudahnya memproduksi konten dengan AI, membuat nilai suatu konten tersebut menjadi turun.
Aspek originalitas menjadi masalah penting di samping akuratnya informasi yang diberikan.
Seberapa besar dampak spam konten yang dibuat AI dan bagaimana cara Google memberantasnya? Mari kita bahas.
Citra Buruk karena AI
Adanya AI seperti chat GPT maupun Copilot akan memudahkan pengguna mendapatkan informasi sekaligus konten gratisan dari AI.
Murah dan mudahnya memproduksi konten melalui AI pada akhirnya merugikan Google.
Para ahli telah memperingatkan bahwa konten yang dihasilkan AI dalam beberapa beberapa tahun ke depan akan menjadi hal biasa. Namun, agaknya peringatan ini terjadi jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan mereka.
Hadirnya ChatBot AI semakin membuat peringatan tersebut menjadi kenyataan.
Terbukti, Google dinilai semakin kehilangan kualitas, karena hasil pencarian yang ditampilkan tidak sebagus dulu.
Para pengguna Google Search pun merasa tak nyaman dengan hasil yang diberikan.
Konten yang dihasilkan AI bisa saja merupakan sebuah berita yang berbahaya dan belum tentu benar.
Karena resource AI terbatas dan bisa saja menghasilkan narasi yang keliru.
Respon Google
Menanggapi banyaknya konten AI pada pencariannya, membuat Google turun tangan langsung untuk memberantas.
Google mengumumkan perubahan algoritma untuk menindak konten yang terasa dibuat AI daripada dibuat manusia.
Google merasa dipermainkan konten AI yang hanya bertujuan mendapatkan rating tinggi di mesin pencarinya.
Perubahan ini melibatkan sistem alogaritma inti dan menjadikan pembaharuan terbesar yang dilakukan Google.
Pembaharuan ini menyertakan sistem untuk menganalisis web yang memiliki kualitas buruk, pengalaman pengguna yang buruk, dan konten yang dibuat hanya untuk rating pada Google Search.
Google yakin perubahan dan pembaharuan mereka dapat mengurangi jumlah konten spam yang saat ini beredar hingga 40 persen.
Google juga menambahkan konten yang dibuat AI juga bertujuan untuk klik bait dengan originalitas yang rendah.
Akhir kata, respons Google dapat menjadi sebuah harapan bahwa konten berkualitas akan terus menjadi fokus utama Google.
Para penggunanya pun dituntut untuk tetap kritis terhadap website atau segala jenis informasi yang beredar di internet. (*)