RADARBONANG.ID – Persaingan pengembangan teknologi di Formula 1 kembali memperlihatkan bagaimana celah kecil dalam regulasi dapat menjadi sumber keuntungan teknis bagi sebuah tim.
Red Bull Racing dilaporkan harus menyesuaikan desain bagian bawah sidepod mobilnya setelah FIA bergerak memperketat aturan teknis yang berkaitan dengan komponen penyangga lantai untuk musim 2027.
Langkah tersebut juga berpotensi memengaruhi Audi, yang sebelumnya mengadopsi solusi aerodinamika serupa pada mobilnya.
Laporan Motorsport.com pada 13 Oktober 2026 menyebut perubahan regulasi itu diarahkan untuk menutup celah yang memungkinkan tim membentuk bagian tertentu dari bodi mobil dengan geometri lebih tajam daripada konfigurasi konvensional.
Solusi tersebut pertama kali terlihat pada Red Bull RB22 ketika tim memperkenalkannya di Grand Prix Austria 2026.
Beberapa seri kemudian, Audi dilaporkan menggunakan pendekatan serupa pada pembaruan mobilnya di Baku.
Baca Juga: Verstappen Menang Dua Seri Beruntun, Ancaman bagi Pesaing Mulai Terlihat
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana inovasi yang awalnya dikembangkan satu tim dapat segera menjadi perhatian pesaing ketika manfaat teknisnya mulai terlihat.
Untuk memahami persoalannya, bagian yang menjadi sorotan bukan keseluruhan sidepod, melainkan bentuk permukaan bodi di sekitar penyangga lantai atau floor body stay.
Komponen tersebut memiliki fungsi struktural, tetapi ketentuan mengenai bentuk bodi di sekitarnya juga dapat memengaruhi bagaimana udara bergerak sepanjang sisi mobil.
Dalam regulasi teknis, permukaan bodi tertentu diwajibkan memiliki radius minimum agar bentuknya tidak menjadi terlalu tajam.
Namun, terdapat ketentuan khusus yang memungkinkan bagian bodi di sekitar penyangga lantai menggunakan radius lebih kecil, yakni sekitar 20 milimeter.
Red Bull diduga memanfaatkan ketentuan tersebut dengan menempatkan kabel struktural di sepanjang bagian bawah sidepod.
Konfigurasi itu memungkinkan tim membentuk tepi bodi yang lebih tajam sekaligus menghasilkan bagian bawah sidepod dengan lekukan yang lebih agresif.
Baca Juga: Antonelli Unggul 102 Poin, Gelar Juara Dunia F1 Bisa Ditentukan di Austin
Secara aerodinamika, bentuk tersebut berpotensi membantu mengarahkan aliran udara menuju bagian lantai mobil dan area belakang.
Aliran udara di sekitar sidepod, lantai, serta diffuser saling berhubungan dalam menghasilkan gaya tekan ke bawah atau downforce yang dibutuhkan mobil untuk mempertahankan kecepatan ketika melewati tikungan.
Karena itu, perubahan kecil pada geometri permukaan dapat memengaruhi distribusi tekanan dan kualitas aliran udara di sekitar bagian bawah mobil.
Meski demikian, besarnya keuntungan yang diperoleh dari solusi tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan bentuk visual mobil.
Performa aerodinamika juga bergantung pada integrasi keseluruhan paket, termasuk desain lantai, diffuser, suspensi, dan pengelolaan aliran udara dari bagian depan.
Setelah solusi Red Bull menjadi perhatian, penggunaan pendekatan serupa oleh Audi menunjukkan bahwa konsep tersebut cukup menarik untuk dipertimbangkan oleh tim lain.
Bagi FIA, perkembangan seperti ini menjadi tantangan tersendiri karena regulasi teknis harus mampu mengantisipasi interpretasi kreatif tanpa menghambat pengembangan yang masih berada dalam batas aturan.
Menurut laporan Motorsport.com yang mengutip informasi dari AutoRacer.it, perubahan untuk 2027 akan mempersempit toleransi dimensi penyangga lantai dari 20 milimeter menjadi lima milimeter.
Penyesuaian itu ditujukan untuk menutup ruang yang memungkinkan konfigurasi tersebut digunakan sebagai bagian dari solusi aerodinamika.
Jika perubahan tersebut diterapkan sesuai laporan, Red Bull dan Audi harus mengevaluasi kembali bagian bawah sidepod mereka sebelum memasuki musim berikutnya.
Namun, aturan baru itu tidak berarti seluruh desain sidepod kedua tim dilarang.
Tim masih dapat mengembangkan konsep alternatif selama memenuhi ketentuan teknis yang berlaku.
Baca Juga: Rossi Hadapi Verstappen di GT3, Dua Legenda Balap Siap Berbagi Lintasan
Situasi ini juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Red Bull akan kehilangan keunggulan performa secara signifikan, sebab dampak sebenarnya bergantung pada hasil desain ulang dan efektivitas solusi pengganti.
Bagi Red Bull, pekerjaan para insinyur kini bukan hanya mempertahankan karakter aerodinamika RB22, tetapi juga menemukan cara lain untuk memperoleh manfaat serupa tanpa melanggar batas regulasi.
Sementara itu, Audi menghadapi tantangan serupa setelah mengikuti pendekatan yang sebelumnya dikembangkan rivalnya.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa di Formula 1, keunggulan teknis tidak selalu bertahan lama karena interpretasi aturan terus berkembang mengikuti inovasi yang muncul di lintasan.
Editor : Adib TurmudziSumber : Motorsport.com