Bung Rayana dan Romansa Serie A, Bukan Sekadar Sepak Bola

Tulus Widodo • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:36 WIB
Bagi penggemar yang tumbuh bersama Liga Italia di RCTI, Rayana Djakasurya menjadi salah satu sosok yang melekat dalam kenangan. Laporan dari Italia dan ulasannya tentang rivalitas klub membuat pengalaman mengikuti Serie A terasa lebih dekat. (Istimewa)
Bagi penggemar yang tumbuh bersama Liga Italia di RCTI, Rayana Djakasurya menjadi salah satu sosok yang melekat dalam kenangan. Laporan dari Italia dan ulasannya tentang rivalitas klub membuat pengalaman mengikuti Serie A terasa lebih dekat. (Istimewa)

RADARBONANG.ID – Bagi generasi yang tumbuh bersama tayangan Liga Italia di RCTI, sepak bola memiliki kenangan yang sulit dilupakan.

Ada Francesco Totti dengan loyalitasnya kepada AS Roma, Alessandro Del Piero bersama Juventus, hingga rivalitas AC Milan dan Inter Milan yang membuat akhir pekan terasa istimewa.

Di antara sosok yang ikut membangun kenangan tersebut, nama Rayana Djakasurya masih diingat pencinta Serie A di Indonesia.

Bukan hanya karena laporannya langsung dari Italia, tetapi juga karena kehadirannya memberi gambaran tentang sepak bola dari tempat kompetisi itu berlangsung.

Pada era ketika akses informasi sepak bola belum semudah sekarang, laporan koresponden dari Italia menjadi salah satu penghubung bagi penonton di Tanah Air.

Mereka tidak hanya mengikuti pertandingan, tetapi juga mendapat informasi mengenai klub, pemain, dan suasana sepak bola di negara asalnya.

Baca Juga: Menelusuri Gua Sunyaragi Cirebon, Situs Bersejarah dengan Arsitektur Batu Karang dan Cerita Para Sul

Bukan Sekadar Membaca Jalannya Pertandingan

Laporan Pantau pada Februari 2002 mencatat Rayana sebagai koresponden RCTI di Italia.

Dalam pola siaran sepak bola saat itu, ia menyampaikan laporan dari negara tempat pertandingan berlangsung, melengkapi ulasan yang disampaikan komentator di studio. 

Peran tersebut menjadi bagian dari pengalaman menonton Serie A di televisi Indonesia.

Penonton bisa mengikuti jalannya pertandingan sekaligus memperoleh informasi tambahan dari lingkungan sepak bola Italia.

Sementara itu, komentator Mohamad Kusnaeni atau yang dikenal sebagai Bung Kus turut memberikan warna melalui ulasan pertandingan.

Keduanya memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi dalam menyajikan tayangan sepak bola kepada penonton.

Pada masa tersebut, siaran langsung dan program sepak bola televisi menjadi salah satu sumber utama informasi bagi penggemar.

Berita transfer, kondisi pemain, hingga persaingan antarklub belum bisa diakses secepat sekarang melalui media sosial atau layanan digital.

Karena itu, laporan dari Italia memiliki nilai tersendiri.

Informasi yang disampaikan bukan sekadar pelengkap tayangan, melainkan bagian dari pengalaman mengikuti kompetisi yang berlangsung ribuan kilometer dari Indonesia.

Ketika Rivalitas Milan dan Inter Dibaca Lebih Dalam

Rayana juga dikenal sebagai pengamat sepak bola yang memberikan perhatian pada dinamika klub-klub Italia.

Salah satu pembahasannya yang terdokumentasi adalah mengenai persaingan AC Milan dan Inter Milan.

Dalam wawancara dengan Liputan6.com pada 5 Februari 2022, Rayana menilai kedua klub memiliki kekuatan yang hampir seimbang.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan sosok pemilik dan kekuatan pengelolaan di balik masing-masing tim.

“Ini tidak terlepas dari (sosok-sosok) yang punya Inter dan AC Milan.

Kedua pemilik dari tim ini adalah orang-orang yang berpengaruh,” ujar Rayana dalam wawancara tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa kedua klub tetap memiliki kekuatan dan kualitas yang membuat persaingan mereka menarik untuk diikuti.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa rivalitas sepak bola tidak hanya ditentukan oleh taktik, susunan pemain, atau hasil pertandingan.

Ada pula faktor manajemen, kepemilikan, kekuatan finansial, dan strategi klub yang ikut membentuk persaingan.

Derby della Madonnina pun memiliki dimensi yang lebih luas daripada perebutan tiga poin.

Pertemuan dua klub dari kota yang sama itu membawa sejarah panjang, kebanggaan pendukung, serta persaingan yang melibatkan identitas masing-masing tim.

Nostalgia Serie A Bukan Hanya soal Skor

Bagi penggemar yang mengikuti Serie A pada era 1990-an hingga awal 2000-an, kenangan terhadap Liga Italia sering kali berkaitan dengan banyak hal sekaligus.

Nama-nama pemain seperti Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Paolo Maldini, hingga Ronaldo Nazario menjadi bagian dari cerita yang melekat pada masa tersebut. Rivalitas klub, gaya permainan, dan suasana pertandingan ikut membentuk ingatan para penonton.

Di tengah keterbatasan akses informasi pada masa itu, siaran televisi memiliki peran besar dalam memperkenalkan pemain dan klub kepada masyarakat Indonesia.

Tayangan pertandingan dan laporan dari Italia membuat penggemar merasa lebih dekat dengan kompetisi yang mereka ikuti.

Kini, perkembangan internet memungkinkan penonton mencari statistik, cuplikan pertandingan, berita transfer, dan wawancara pemain dalam hitungan detik.

Namun, pengalaman menonton sepak bola pada era televisi memiliki konteks tersendiri bagi mereka yang tumbuh bersamanya.

Menunggu jadwal pertandingan, menyimak ulasan komentator, hingga mendengar laporan koresponden menjadi bagian dari rutinitas penggemar. Pengalaman tersebut sulit dipisahkan dari kenangan terhadap Serie A.

Kalimat Ikonik dan Kenangan yang Bertahan

Hingga kini, sejumlah kalimat puitis tentang sepak bola Italia kerap beredar di kalangan penggemar dan dikaitkan dengan komentator atau koresponden era tersebut.

Baca Juga: Wamendikti Ungkap Tantangan Kuliah Gratis, UKT Murah Harus Tetap Diimbangi Gaji Dosen dan Dana Riset

Namun, atribusi sebuah kalimat perlu diperiksa melalui rekaman siaran, transkrip, atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tanpa bukti yang bisa diverifikasi, kalimat tertentu tidak dapat dipastikan sebagai ucapan asli Rayana.

Hal itu tidak mengurangi nilai nostalgia yang muncul ketika penggemar mengenang tayangan Serie A di televisi.

Kenangan tersebut bukan semata-mata tentang satu kutipan, melainkan juga suasana ketika sepak bola terasa seperti kisah panjang tentang kota, sejarah, rivalitas, dan kesetiaan.

Rayana Djakasurya menjadi salah satu nama yang terkait dengan pengalaman tersebut melalui perannya sebagai koresponden RCTI di Italia dan pandangannya mengenai sepak bola.

Pertandingan mungkin hanya berlangsung selama 90 menit.

Namun, bagi penonton yang tumbuh bersama tayangan itu, cerita dan kenangannya bisa bertahan jauh lebih lama.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
Rayana Djakasurya RCTI nostalgia bola serie a liga italia