Software Bug Sepang Disorot FIA, Sistem F1 2026 Jadi Perhatian

Adib Turmudzi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 20:40 WIB
Sejumlah mobil F1 mengalami gangguan tenaga saat formation lap Bahrain Grand Prix di Sepang, Minggu (4/10), akibat persoalan software dalam kondisi lintasan basah. (Formula1.com)
Sejumlah mobil F1 mengalami gangguan tenaga saat formation lap Bahrain Grand Prix di Sepang, Minggu (4/10), akibat persoalan software dalam kondisi lintasan basah. (Formula1.com)

 

RADARBONANG.ID, SEPANG - Formula 1 menghadapi persoalan teknis serius setelah sejumlah mobil mengalami kehilangan tenaga secara bersamaan menjelang start Bahrain Grand Prix di Malaysia, Minggu (4/10).

Insiden tersebut membuat FIA memutuskan untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap gangguan software yang muncul ketika para pembalap menjalani formation lap dalam kondisi lintasan basah.

Masalah itu menjadi salah satu kejadian paling tidak biasa pada musim perdana regulasi power unit baru Formula 1.

Beberapa mobil tiba-tiba kehilangan tenaga atau melaju jauh lebih lambat dari kondisi normal ketika berada di lintasan.

Baca Juga: Verstappen Racing Menuju Portimao, Peluang Max Verstappen di GT3 Kembali Jadi Sorotan

Lewis Hamilton menjadi salah satu pembalap yang mengalami masalah tersebut.

Mobil Ferrari miliknya sempat berhenti di lintasan sebelum kembali dapat dijalankan setelah sistem mobil diaktifkan kembali.

Sejumlah pembalap lain juga menghadapi persoalan serupa sehingga proses menuju start harus dihentikan.

Race Control kemudian mengibarkan bendera merah dan seluruh pembalap kembali ke pit lane.

Situasi tersebut membuat balapan tertunda setelah sebelumnya hujan deras memang sudah menyebabkan perubahan jadwal start.

Namun, penyebab teknis di balik gangguan tersebut baru menjadi jelas setelah FIA dan para produsen power unit melakukan pemeriksaan.

Masalah berkaitan dengan kombinasi kondisi kecepatan rendah, permukaan lintasan yang licin, serta konfigurasi sistem energi yang dirancang untuk menghadapi kondisi basah.

Dalam situasi tersebut, sistem pada sejumlah mobil mendeteksi kondisi yang tidak sesuai dengan parameter yang diprogram.

Akibatnya, pembatasan energi aktif dan membuat beberapa mobil kehilangan kemampuan untuk menghasilkan tenaga seperti seharusnya.

Baca Juga: Kalender F1 2027 Tak Bentrok, Max Verstappen Punya Peluang Kembali Balapan Endurance

FIA kemudian melakukan perubahan software ketika para pembalap masih menunggu di pit lane.

Pembaruan tersebut dilakukan untuk menghilangkan batasan energi yang muncul pada kondisi tertentu.

Setelah perubahan diterapkan, mobil-mobil dapat kembali digunakan dan proses start akhirnya dilanjutkan.

Namun, insiden tersebut memunculkan pertanyaan lebih besar mengenai kesiapan teknologi power unit Formula 1 generasi 2026.

Regulasi baru memang meningkatkan peran sistem elektrifikasi dalam menghasilkan tenaga mobil.

Komponen listrik memiliki kontribusi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya sehingga manajemen energi menjadi bagian penting dari performa mobil.

Kompleksitas tersebut membuat software memiliki peran semakin besar dalam mengatur bagaimana energi disimpan, digunakan, dan disalurkan selama mobil berada di lintasan.

Masalah di Sepang menunjukkan bahwa kondisi ekstrem tertentu masih belum sepenuhnya dipahami oleh tim maupun pemasok power unit.

Nikolas Tombazis selaku Direktur Single-Seater FIA mengakui bahwa kondisi basah seperti yang terjadi di Sepang belum mendapatkan pengujian yang cukup sebelum regulasi baru tersebut digunakan dalam balapan.

Hal itu menjadi salah satu faktor yang kini akan diperiksa dalam investigasi FIA.

Organisasi tersebut bersama tim dan produsen mesin akan mengevaluasi data yang dikumpulkan dari kejadian di Sepang.

Baca Juga: Ocon Tinggalkan Haas, Rafael Câmara Mulai Dikaitkan dengan Kursi 2027

Tujuannya bukan hanya mencari penyebab kegagalan software, tetapi juga memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi pada balapan berikutnya.

Masalah tersebut menjadi semakin relevan karena Formula 1 langsung menuju Singapura.

GP Singapura akan berlangsung pada 9–11 Oktober di Marina Bay Street Circuit.

Lintasan tersebut dikenal memiliki suhu tinggi dan kelembapan ekstrem, sementara karakter sirkuit jalan raya membuat mobil menghadapi kombinasi tikungan lambat, pengereman keras, dan beberapa bagian berkecepatan tinggi.

Haas juga menyoroti bahwa temperatur dan kelembapan di Singapura dapat memberikan tekanan besar terhadap sistem pengereman, ban, dan pengelolaan energi mobil.

Kondisi tersebut membuat pekerjaan FIA dan tim menjadi semakin penting menjelang seri berikutnya.

Mereka harus memastikan pembaruan software yang dilakukan di Sepang mampu bekerja dalam berbagai kondisi tanpa menimbulkan konsekuensi baru.

Bagi Formula 1, insiden tersebut juga menjadi pengingat bahwa peningkatan kompleksitas teknologi harus diimbangi dengan pengujian yang memadai.

Kemenangan Max Verstappen memang menjadi hasil utama GP Malaysia, tetapi persoalan software justru meninggalkan pekerjaan besar bagi FIA sebelum rombongan F1 tiba di Marina Bay.

Editor : Adib Turmudzi
Sumber : reuters.com
GP Singapura 2026 F1 Sepang Software bug F1 2026 FIA F1 Power unit F1 2026