RADARBONAG.ID – Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA mulai menjadi sorotan setelah muncul gelombang kritik dari sejumlah petinggi sepak bola Eropa terkait rencana pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise.
Di tengah polemik tersebut, nama Nasser Al-Khelaifi disebut-sebut sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki peluang menjadi penantang kuat pada pemilihan Presiden FIFA 2027.
Meski belum ada kandidat yang secara resmi mendeklarasikan pencalonan, dinamika politik di tubuh FIFA mulai memanas.
Sejumlah organisasi sepak bola Eropa menilai kebijakan terbaru FIFA berpotensi mengubah tata kelola sepak bola dunia tanpa melalui proses konsultasi yang memadai.
Rencana FIFA Bentuk FIFA Forward Enterprise Tuai Perdebatan
Kontroversi bermula ketika FIFA mengumumkan rencana pembentukan anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise.
Melalui entitas tersebut, FIFA membuka peluang bagi investor swasta untuk memiliki kepemilikan minoritas tanpa hak mengendalikan perusahaan.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari strategi FIFA untuk meningkatkan pendapatan dan memperluas investasi demi pengembangan sepak bola global.
Nilai perusahaan baru tersebut diperkirakan mencapai 15 miliar poundsterling, atau sekitar Rp332 triliun, menjadikannya salah satu proyek komersial terbesar yang pernah dirancang FIFA.
Laporan yang beredar menyebut perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat, Thrive Eternal, menjadi pihak yang diproyeksikan memimpin proses investasi.
Perusahaan tersebut diketahui didirikan oleh Joshua Kushner, saudara dari menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Gianni Infantino menegaskan bahwa proyek tersebut bertujuan memperluas pemerataan perkembangan sepak bola di seluruh dunia.
Menurutnya, skema investasi itu akan memberikan manfaat langsung kepada seluruh asosiasi anggota FIFA melalui peningkatan dana pengembangan.
FIFA Janjikan Dana Besar untuk Seluruh Anggota
Sebagai bagian dari proposal tersebut, FIFA menawarkan tambahan pendanaan yang nilainya mencapai 30,1 juta poundsterling atau sekitar Rp667 miliar bagi masing-masing dari 211 asosiasi anggota.
Namun, terdapat ketentuan bahwa proposal harus disetujui dalam batas waktu tertentu.
Apabila tidak mendapat persetujuan dalam waktu 53 hari, total paket pendanaan yang disiapkan FIFA disebut akan berkurang secara signifikan.
Kebijakan inilah yang kemudian memicu kritik karena dinilai memberikan tekanan kepada anggota untuk segera menyetujui proposal tanpa pembahasan yang mendalam.
UEFA dan Klub Eropa Soroti Kurangnya Transparansi
Reaksi keras datang dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola Eropa, termasuk UEFA dan European Club Association (ECA).
Mereka menilai FIFA mengambil keputusan strategis tanpa melibatkan organisasi yang menjadi bagian penting dalam ekosistem sepak bola internasional.
Dalam pernyataan resminya, ECA mengaku baru mengetahui rencana tersebut melalui pemberitaan media, bukan melalui proses konsultasi langsung dengan FIFA.
Organisasi yang mewakili lebih dari 850 klub profesional di Eropa itu menyatakan bahwa perubahan sebesar ini seharusnya dibahas bersama seluruh pihak yang terdampak.
ECA juga menegaskan pentingnya tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar masa depan sepak bola dunia tetap terjaga.
Selain itu, sejumlah laporan menyebut adanya wacana boikot terhadap Piala Dunia apabila kebijakan tersebut tetap dijalankan tanpa perubahan.
Meski belum menjadi keputusan resmi, isu tersebut menunjukkan besarnya penolakan yang berkembang di kalangan sepak bola Eropa.
Nama Nasser Al-Khelaifi Muncul sebagai Kandidat Potensial
Di tengah memanasnya situasi, laporan dari Politico menyebut sejumlah pejabat sepak bola Eropa mulai melihat Nasser Al-Khelaifi sebagai figur yang memiliki peluang besar jika terjadi perubahan kepemimpinan di FIFA.
Saat ini, Al-Khelaifi memegang sejumlah jabatan strategis di dunia sepak bola internasional.
Ia merupakan Ketua Qatar Sports Investments, Presiden BeIN Media Group, Ketua European Club Association (ECA), anggota Komite Eksekutif UEFA, sekaligus anggota Dewan FIFA.
Dengan pengalaman tersebut, banyak pihak menilai Al-Khelaifi memiliki jaringan dan pengaruh yang cukup kuat untuk menjadi calon Presiden FIFA.
Seorang pejabat Uni Eropa bahkan mengatakan kepada Politico bahwa seluruh faktor pendukung sebenarnya sudah tersedia, meski keputusan akhir tetap bergantung pada kesediaan Al-Khelaifi untuk maju.
Al-Khelaifi Tegaskan Tidak Berminat Maju
Meski namanya terus dikaitkan dengan kursi Presiden FIFA, pihak Nasser Al-Khelaifi langsung memberikan klarifikasi.
Melalui perwakilannya, Al-Khelaifi disebut tidak memiliki ambisi, tidak memiliki niat, dan tidak memiliki ketertarikan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada pemilihan mendatang.
Pernyataan tersebut meredam berbagai spekulasi yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.
Namun, banyak pengamat menilai dinamika politik di FIFA masih sangat mungkin berubah hingga menjelang pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Masa Depan Gianni Infantino Masih Belum Pasti
Gianni Infantino telah memimpin FIFA sejak 2016 dan selama dua periode terakhir terpilih tanpa menghadapi lawan dalam pemilihan presiden.
Ia berencana kembali mencalonkan diri pada Kongres FIFA 2027.
Jika kembali memperoleh dukungan mayoritas anggota, masa jabatannya akan berlanjut hingga 2031.
Namun, polemik mengenai FIFA Forward Enterprise diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama yang memengaruhi peta politik organisasi sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Di satu sisi, FIFA meyakini proyek investasi ini akan memperkuat pengembangan sepak bola global melalui peningkatan pendanaan bagi seluruh asosiasi anggota.
Di sisi lain, UEFA, ECA, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya menuntut proses pengambilan keputusan yang lebih terbuka, transparan, dan melibatkan seluruh pihak sebelum kebijakan strategis diterapkan.
Dengan masih lebih dari satu tahun menuju pemilihan Presiden FIFA 2027, situasi diperkirakan akan terus berkembang.
Apakah Gianni Infantino mampu mempertahankan posisinya atau akan muncul kandidat baru yang benar-benar siap menantangnya, masih menjadi tanda tanya besar dalam politik sepak bola dunia.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : sportbible.com