Presiden UEFA Aleksander Čeferin Dikabarkan Boikot Final Piala Dunia 2026, Polemik Folarin Balogun Picu Ketegangan dengan FIFA

Bihan Mokodompit • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 17:33 WIB
Hubungan FIFA dan UEFA kembali memanas! Presiden UEFA Aleksander Čeferin dikabarkan memilih absen dari final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes atas keputusan kontroversial FIFA terkait Folarin Balogun. (Sumber foto: UEFA)
Hubungan FIFA dan UEFA kembali memanas! Presiden UEFA Aleksander Čeferin dikabarkan memilih absen dari final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes atas keputusan kontroversial FIFA terkait Folarin Balogun. (Sumber foto: UEFA)

RADARBONAG.ID – Final Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya menyajikan pertarungan sengit di atas lapangan, tetapi juga memunculkan kontroversi besar di balik layar.

Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, dilaporkan memilih tidak menghadiri partai puncak turnamen sebagai bentuk protes terhadap serangkaian keputusan FIFA, terutama terkait kasus penangguhan hukuman penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Laporan tersebut pertama kali diungkap media Inggris The Times dan kemudian dikutip sejumlah media internasional.

Ketidakhadiran Čeferin disebut menjadi simbol memanasnya hubungan antara UEFA dan FIFA yang telah dipenuhi berbagai perbedaan pandangan sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Selain persoalan Balogun, UEFA juga dikabarkan memiliki sejumlah keberatan terhadap kebijakan FIFA selama turnamen berlangsung, mulai dari penerapan aturan baru hingga aspek penyelenggaraan kompetisi.

Baca Juga: Manchester United Tegas Tolak Ketertarikan Newcastle United pada Amad Diallo, Winger Andalan Dipastikan Tak Dijual

Kontroversi Folarin Balogun Jadi Pemicu Utama

Perselisihan bermula ketika Folarin Balogun menerima kartu merah saat membela Amerika Serikat pada fase gugur Piala Dunia 2026.

Sesuai regulasi disiplin FIFA, kartu merah tersebut seharusnya membuat Balogun menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan.

Namun, FIFA memutuskan menangguhkan pelaksanaan hukuman tersebut berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA sehingga sang penyerang tetap dapat tampil pada pertandingan berikutnya. Keputusan itu langsung memicu kontroversi luas di kalangan sepak bola internasional.

FIFA menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan kewenangan Komite Disiplin dan diambil sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, langkah itu menuai kritik karena dinilai menciptakan pengecualian terhadap hukuman otomatis setelah kartu merah.

UEFA Nilai Integritas Kompetisi Dipertaruhkan

UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik keputusan FIFA.

Dalam pernyataannya, organisasi sepak bola Eropa itu menilai hukuman otomatis setelah kartu merah merupakan prinsip dasar yang seharusnya diterapkan secara konsisten kepada seluruh peserta turnamen.

Menurut UEFA, perubahan terhadap sanksi di tengah kompetisi berpotensi menciptakan preseden yang dapat mengganggu integritas dan kredibilitas Piala Dunia.

Federasi Sepak Bola Belgia juga sempat mengajukan keberatan atas keputusan tersebut, namun laporan menyebut banding yang diajukan tidak mengubah keputusan FIFA.

Ketidakhadiran Čeferin Jadi Sorotan Dunia

Absennya Aleksander Čeferin pada laga final menjadi perhatian besar karena secara tradisi Presiden UEFA hampir selalu hadir dalam pertandingan puncak turnamen dunia.

Menurut laporan media Inggris, keputusan tersebut dipandang sebagai bentuk protes simbolis terhadap FIFA sekaligus mencerminkan hubungan yang semakin renggang antara dua organisasi sepak bola terbesar dunia itu.

Meski demikian, hingga kini Čeferin belum menyampaikan pernyataan publik secara langsung mengenai alasan dirinya tidak menghadiri final. Informasi mengenai boikot tersebut masih mengacu pada laporan media internasional yang mengutip sumber internal.

Perselisihan Tidak Hanya Soal Balogun

Kasus Balogun disebut bukan satu-satunya sumber ketegangan antara UEFA dan FIFA.

Laporan menyebut UEFA juga menyoroti sejumlah kebijakan FIFA selama Piala Dunia 2026, termasuk perubahan aturan pertandingan, durasi jeda babak pertama pada final yang diperpanjang untuk pertunjukan hiburan, harga tiket yang dinilai terlalu tinggi, hingga sejumlah persoalan administratif lain selama turnamen berlangsung.

Baca Juga: Kabar Baik Pengguna Windows 11, Download Microsoft Store Kini Lebih Ngebut Tanpa Harus Membuka Aplikasinya

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan adanya jurang komunikasi yang semakin lebar antara kedua organisasi dalam mengelola kompetisi sepak bola terbesar di dunia.

Hubungan FIFA dan UEFA Kembali Jadi Perhatian

Kontroversi ini kembali memunculkan diskusi mengenai tata kelola sepak bola internasional dan pentingnya penerapan regulasi yang konsisten.

Banyak pengamat menilai hubungan harmonis antara FIFA dan UEFA sangat penting demi menjaga kredibilitas kompetisi global.

Karena itu, polemik yang muncul sepanjang Piala Dunia 2026 diperkirakan masih akan menjadi pembahasan dalam berbagai forum sepak bola internasional.

Sementara itu, FIFA belum memberikan indikasi akan meninjau ulang keputusan terkait Folarin Balogun.

Dengan demikian, perdebatan mengenai kasus tersebut kemungkinan masih akan berlanjut meski Piala Dunia 2026 telah resmi berakhir.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : sportbible.com
Folarin Balogun Aleksander Čeferin uefa piala dunia 2026 fifa