RADARBONANG.ID – Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun memaksa Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) melakukan evaluasi besar-besaran.
Berbagai perubahan mulai disiapkan, termasuk pembentukan struktur baru yang diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Azzurri di panggung internasional.
Salah satu fokus utama FIGC saat ini adalah mencari sosok yang tepat untuk mengisi posisi strategis dalam proyek pembenahan tim nasional.
Nama Paolo Maldini sempat disebut sebagai kandidat ideal untuk memegang peran penting tersebut. Namun berbagai laporan dari Italia menyebutkan bahwa legenda AC Milan itu diperkirakan akan menolak tawaran federasi.
Situasi tersebut membuat FIGC mulai mengalihkan perhatian kepada sejumlah nama lain yang dinilai memiliki kapasitas untuk membantu membangun kembali sepak bola Italia.
Baca Juga: Tak Mau Kalah dari Red Bull, McLaren Siapkan Paket Pembaruan Penting untuk Taklukkan Red Bull Ring
Paolo Maldini Masih Jadi Kandidat Impian
Bagi banyak pengamat sepak bola Italia, Paolo Maldini merupakan figur yang dianggap paling cocok untuk memimpin proyek kebangkitan Azzurri.
Selain dikenal sebagai salah satu bek terbaik sepanjang sejarah sepak bola, Maldini juga memiliki pengalaman di level manajemen setelah sukses menjalankan peran sebagai eksekutif di AC Milan.
Kombinasi pengalaman sebagai pemain elite dan pengambil keputusan di level klub membuat namanya dianggap ideal untuk membantu membangun kembali identitas sepak bola Italia yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemunduran.
Namun hingga kini belum ada sinyal kuat yang menunjukkan Maldini tertarik menerima posisi tersebut.
Sejumlah media Italia bahkan memperkirakan mantan kapten AC Milan itu akan menolak jika tawaran resmi benar-benar diajukan oleh FIGC.
Claudio Ranieri Muncul Sebagai Opsi Terdepan
Jika Maldini tidak bersedia bergabung, FIGC telah menyiapkan alternatif lain yang tak kalah menarik.
Salah satu nama yang kini masuk dalam daftar teratas adalah Claudio Ranieri.
Pelatih veteran berusia 74 tahun tersebut dikenal luas berkat perjalanan kariernya yang panjang dan penuh pengalaman di berbagai kompetisi elite Eropa.
Namanya semakin melegenda setelah membawa Leicester City menjuarai Liga Inggris dalam salah satu kisah paling fenomenal dalam sejarah sepak bola modern.
Menurut berbagai laporan, Ranieri kini dipertimbangkan untuk mengisi peran direktur teknis tim nasional Italia.
Pengalamannya dalam membangun tim, mengembangkan pemain, serta memahami kultur sepak bola Italia dinilai bisa menjadi aset berharga bagi FIGC.
Buffon Berpeluang Kembali ke Tim Nasional
Selain Ranieri, nama lain yang juga masuk dalam pembahasan adalah Gianluigi Buffon.
Legenda hidup Italia tersebut sebelumnya menjabat sebagai kepala delegasi tim nasional.
Namun ia memutuskan mundur setelah kegagalan Italia mengamankan tiket menuju Piala Dunia.
Kini Buffon kembali disebut sebagai salah satu kandidat yang berpotensi mengambil peran penting dalam struktur baru tim nasional.
FIGC menilai pengalaman Buffon sebagai pemain yang pernah meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk trofi Piala Dunia 2006, dapat memberikan pengaruh positif bagi generasi baru sepak bola Italia.
Kedekatannya dengan para pemain serta pemahamannya terhadap kultur Azzurri menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan.
Reformasi Besar Jadi Prioritas FIGC
Kegagalan lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara berturut-turut menjadi pukulan besar bagi sepak bola Italia.
Sebagai salah satu negara dengan sejarah paling sukses di dunia sepak bola, absennya Italia dari turnamen terbesar dunia selama tiga edisi beruntun dianggap sebagai krisis yang harus segera diatasi.
Presiden baru FIGC, Giovanni Malagò, telah menegaskan bahwa reformasi menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak.
Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh tim senior, tetapi juga mencakup pengembangan pemain muda, sistem pembinaan akademi, hingga struktur teknis yang menopang seluruh program tim nasional.
Karena itu, posisi direktur teknis dipandang sebagai jabatan yang sangat penting dalam menentukan arah sepak bola Italia ke depan.
Waktu FIGC Tidak Banyak
Dengan agenda internasional yang semakin padat, termasuk kompetisi UEFA Nations League dan persiapan menuju kualifikasi turnamen besar berikutnya, FIGC ingin segera menyelesaikan proses restrukturisasi.
Federasi tidak ingin proyek pembenahan berjalan terlalu lama karena setiap keputusan yang tertunda dapat berdampak terhadap perkembangan tim nasional.
Jika Paolo Maldini benar-benar memutuskan menolak tawaran tersebut, maka Claudio Ranieri dan Gianluigi Buffon diperkirakan menjadi dua kandidat terkuat untuk mengambil peran sentral dalam proyek kebangkitan Azzurri.
Harapan Mengembalikan Kejayaan Italia
Bagi publik Italia, perubahan yang sedang disusun FIGC bukan sekadar pergantian jabatan atau restrukturisasi organisasi.
Langkah tersebut menjadi simbol harapan untuk mengakhiri periode suram yang membuat salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia kehilangan tempatnya di panggung Piala Dunia.
Kini seluruh perhatian tertuju pada keputusan yang akan diambil federasi dalam beberapa pekan mendatang.
Apakah Paolo Maldini akan berubah pikiran, atau justru Claudio Ranieri dan Gianluigi Buffon yang akan menjadi wajah baru kebangkitan sepak bola Italia.
Yang pasti, FIGC tidak lagi memiliki banyak waktu untuk menemukan arah baru demi mengembalikan Azzurri ke level yang selama ini menjadi identitas mereka sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia.
Editor : Muhammad Azlan Syah