RADARBONANG.ID – Piala Dunia merupakan panggung terbesar dalam sepak bola.
Turnamen yang hanya digelar empat tahun sekali ini menjadi ajang pembuktian bagi para pemain, pelatih, hingga federasi sepak bola dari seluruh dunia.
Namun di balik kemeriahan dan persaingan ketatnya, terdapat sejumlah peristiwa yang jarang terjadi tetapi selalu menjadi sorotan. Salah satunya adalah pemecatan pelatih ketika turnamen masih berlangsung.
Tekanan besar untuk meraih hasil maksimal membuat federasi terkadang mengambil keputusan ekstrem dengan mengganti pelatih di tengah kompetisi.
Meski jumlahnya tidak banyak, beberapa kasus pemecatan pelatih di Piala Dunia telah mencatatkan sejarah tersendiri.
Pada Piala Dunia 2026, Tunisia menjadi tim terbaru yang melakukan langkah tersebut. Kasus ini kembali mengingatkan publik pada sejumlah pemecatan kontroversial yang pernah terjadi di edisi-edisi sebelumnya.
Tunisia 2026: Sabri Lamouchi Dipecat Setelah Kekalahan Telak
Kasus terbaru datang dari Tunisia yang memutuskan mengakhiri kerja sama dengan pelatih Sabri Lamouchi saat turnamen masih berjalan.
Keputusan itu diambil setelah Tunisia mengalami kekalahan telak 1-5 dari Swedia pada laga pembuka fase grup Piala Dunia 2026.
Hasil tersebut dianggap tidak mencerminkan harapan federasi yang sebelumnya menargetkan penampilan kompetitif di turnamen terbesar dunia itu.
Lamouchi sebenarnya baru ditunjuk sebagai pelatih Tunisia pada Januari 2026. Namun masa kerjanya berakhir sangat cepat setelah serangkaian hasil yang kurang memuaskan.
Dalam lima pertandingan yang dipimpinnya, Tunisia tercatat menelan tiga kekalahan. Salah satu hasil yang paling menjadi perhatian adalah kekalahan 0-5 dari Belgia dalam laga uji coba menjelang Piala Dunia.
Bagi Lamouchi, Tunisia merupakan tim nasional kedua yang pernah ditanganinya setelah sebelumnya melatih Pantai Gading.
Tunisia Pernah Melakukan Hal Serupa pada Piala Dunia 1998
Menariknya, ini bukan pertama kalinya Tunisia memecat pelatih saat Piala Dunia berlangsung.
Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, Tunisia juga mengambil keputusan serupa terhadap pelatih asal Polandia, Henryk Kasperczak.
Saat itu Tunisia kalah 0-2 dari Inggris pada laga pembuka sebelum kembali tumbang 0-1 saat menghadapi Kolombia.
Dua kekalahan beruntun membuat peluang lolos dari fase grup nyaris tertutup. Federasi kemudian memutuskan melakukan pergantian pelatih dan menunjuk Ali Selimi sebagai pengganti sementara.
Meski dipecat saat Piala Dunia, hubungan Kasperczak dengan Tunisia ternyata tidak berakhir buruk. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali dipercaya melatih tim nasional tersebut pada periode 2015 hingga 2017.
Dengan dua kejadian berbeda, Tunisia menjadi salah satu negara yang tercatat dua kali melakukan pemecatan pelatih di tengah berlangsungnya Piala Dunia.
Cha Bum-kun dan Luka Besar Korea Selatan
Masih dari Piala Dunia 1998, Korea Selatan juga menjadi sorotan setelah mengambil keputusan yang mengejutkan.
Pelatih sekaligus legenda sepak bola Korea Selatan, Cha Bum-kun, kehilangan jabatannya setelah timnya dihancurkan Belanda dengan skor telak 0-5 pada pertandingan kedua fase grup.
Kekalahan tersebut dianggap terlalu memalukan bagi federasi yang sebelumnya berharap tim tampil lebih kompetitif.
Padahal, Cha Bum-kun merupakan sosok penting yang berhasil membawa Korea Selatan lolos ke putaran final Piala Dunia.
Setelah pemecatan tersebut, posisi pelatih sementara diberikan kepada Kim Pyuk-seok hingga turnamen berakhir.
Kontroversi semakin besar ketika Cha secara terbuka mengkritik federasi sepak bola negaranya. Perselisihan itu berujung pada hukuman larangan melatih selama lima tahun yang dijatuhkan kepadanya.
Carlos Alberto Parreira Jadi Korban di Arab Saudi
Nama besar lainnya yang pernah merasakan kerasnya tekanan Piala Dunia adalah Carlos Alberto Parreira.
Pelatih asal Brasil tersebut memiliki reputasi luar biasa karena pernah mengantarkan Brasil menjuarai Piala Dunia 1994.
Namun prestasi besar itu tidak menyelamatkannya ketika menangani Arab Saudi di Piala Dunia 1998.
Arab Saudi membuka turnamen dengan kekalahan 0-1 dari Denmark. Situasi semakin memburuk setelah mereka dibantai tuan rumah Prancis dengan skor 0-4.
Dua hasil negatif itu membuat federasi Arab Saudi mengambil keputusan cepat dengan memecat Parreira sebelum fase grup berakhir.
Posisinya kemudian diisi oleh Mohammed Al-Kharashy yang bertugas sebagai pelatih sementara hingga turnamen selesai.
Kasus Julen Lopetegui yang Berbeda dari Semua Pelatih Lain
Jika pelatih-pelatih sebelumnya kehilangan pekerjaan karena hasil buruk di lapangan, cerita Julen Lopetegui memiliki latar belakang yang berbeda.
Pada Piala Dunia 2018, pelatih Spanyol tersebut dipecat hanya dua hari sebelum pertandingan pertama dimulai.
Penyebabnya bukan kekalahan atau performa buruk tim, melainkan keputusan Lopetegui menerima tawaran melatih Real Madrid tanpa koordinasi yang memadai dengan Federasi Sepak Bola Spanyol.
Keputusan tersebut membuat Presiden Federasi Spanyol saat itu, Luis Rubiales, mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Lopetegui.
Akibatnya, Lopetegui menjadi salah satu pelatih paling unik dalam sejarah Piala Dunia karena dipecat sebelum sempat memimpin timnya dalam satu pertandingan pun.
Federasi kemudian menunjuk Fernando Hierro sebagai pengganti.
Di bawah Hierro, Spanyol berhasil lolos dari fase grup. Namun perjalanan mereka berakhir di babak 16 besar setelah kalah adu penalti melawan Rusia.
Baca Juga: Lesti Kejora Bongkar Cara Mengatasi Demam Panggung, Tips Sederhana yang Bisa Ditiru Siapa Saja
Tekanan Besar yang Selalu Mengintai Pelatih Piala Dunia
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa jabatan pelatih di Piala Dunia selalu berada dalam tekanan luar biasa.
Satu hasil buruk, kekalahan telak, atau keputusan kontroversial di luar lapangan dapat berujung pada pemecatan yang datang lebih cepat dari perkiraan.
Dari Tunisia pada 1998 dan 2026, Korea Selatan, Arab Saudi, hingga kasus unik Julen Lopetegui bersama Spanyol, semuanya menjadi bukti bahwa Piala Dunia bukan hanya panggung bagi para pemain, tetapi juga ujian berat bagi para pelatih.
Ketika ekspektasi publik dan federasi begitu tinggi, kursi pelatih sering kali menjadi posisi pertama yang harus menanggung konsekuensi saat hasil yang diharapkan gagal tercapai.
Editor : Muhammad Azlan Syah