RADARBONANG.ID – Dunia sepak bola internasional kembali dihebohkan oleh konflik yang melibatkan dua tokoh besar FIFA.
Mantan Presiden UEFA, Michel Platini, resmi mengajukan gugatan pidana dan perdata terhadap Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino.
Langkah hukum tersebut muncul di saat perhatian dunia sedang tertuju pada persiapan pembukaan Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Gugatan ini sontak memunculkan kembali perdebatan mengenai salah satu periode paling kontroversial dalam sejarah FIFA.
Platini menilai dirinya menjadi korban dari serangkaian tindakan yang diduga sengaja dirancang untuk menghentikan langkahnya menuju kursi Presiden FIFA pada pemilihan tahun 2016.
Baca Juga: Harga Rumah Melonjak, Gaji Jalan di Tempat: Mengapa Generasi Muda Semakin Sulit Membeli Hunian?
Menurut legenda sepak bola Prancis itu, berbagai kejadian yang menimpanya tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik yang terjadi di tubuh organisasi sepak bola dunia saat itu.
Tuduhan Adanya Upaya Sistematis Menghalangi Pencalonan
Dalam berkas gugatan yang diajukan ke pengadilan Prancis, Platini menuding sejumlah tokoh penting FIFA terlibat dalam proses yang menurutnya merugikan reputasi dan kariernya.
Selain Gianni Infantino, nama mantan Direktur Hukum FIFA Marco Villiger dan mantan Ketua Komite Audit FIFA Domenico Scala juga disebut dalam dokumen hukum tersebut.
Platini meyakini bahwa berbagai keputusan dan tindakan yang terjadi sepanjang tahun 2015 bukan sekadar rangkaian proses administratif atau hukum biasa.
Ia menilai terdapat upaya yang secara tidak langsung membuat dirinya kehilangan kesempatan untuk mengikuti pemilihan Presiden FIFA ketika peluangnya sedang berada di puncak.
Kala itu, Platini memang dianggap sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Sepp Blatter yang menghadapi tekanan besar akibat berbagai skandal yang mengguncang FIFA.
Berawal dari Kasus Pembayaran 2 Juta Franc Swiss
Akar konflik ini berasal dari kasus pembayaran sebesar 2 juta franc Swiss yang diterima Platini dari mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, pada tahun 2011.
Pembayaran tersebut kemudian menjadi sorotan penyelidikan dan memicu sanksi berat terhadap kedua tokoh tersebut pada 2015.
Platini dan Blatter dijatuhi larangan berkegiatan dalam dunia sepak bola yang secara otomatis menghentikan ambisi politik mereka di FIFA.
Sanksi tersebut menjadi pukulan telak bagi Platini yang saat itu sedang mempersiapkan pencalonan sebagai Presiden FIFA.
Namun setelah melalui proses hukum yang panjang selama bertahun-tahun, pengadilan Swiss akhirnya membebaskan Platini dan Blatter dari tuduhan penipuan.
Putusan tersebut kemudian berkekuatan hukum tetap, sehingga keduanya secara hukum dinyatakan tidak bersalah dalam perkara tersebut.
Meski demikian, bagi Platini, kerusakan terhadap reputasi dan kariernya sudah terlanjur terjadi.
Infantino Dinilai Menjadi Pihak yang Paling Diuntungkan
Ketika Platini tersingkir dari persaingan akibat sanksi yang dijatuhkan, peta politik FIFA berubah drastis.
Pada saat itulah Gianni Infantino yang ketika itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA memutuskan maju sebagai kandidat Presiden FIFA.
Infantino kemudian memenangkan pemilihan dan mulai memimpin FIFA sejak 2016 hingga saat ini.
Situasi tersebut membuat Platini beranggapan bahwa Infantino merupakan pihak yang memperoleh keuntungan terbesar dari tersingkirnya dirinya dari bursa pencalonan.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan pengadilan yang membuktikan tuduhan tersebut.
Gugatan terbaru yang diajukan Platini menjadi upaya hukum terbaru untuk menguji berbagai dugaan yang selama ini ia suarakan.
Tuntut FIFA dan Minta Ganti Rugi
Selain mengajukan gugatan pidana, Platini juga menempuh jalur perdata terhadap FIFA.
Pria berusia 70 tahun itu menilai dirinya mengalami kerugian besar akibat kegagalan menjadi Presiden FIFA dan hilangnya berbagai kesempatan profesional yang seharusnya bisa diraih selama satu dekade terakhir.
Menurut pihak Platini, dampak dari kasus yang menimpanya tidak hanya menyangkut reputasi pribadi, tetapi juga masa depan kariernya dalam dunia sepak bola internasional.
Karena itu, ia meminta kompensasi atas berbagai kerugian yang menurutnya muncul akibat peristiwa tersebut.
Bayangi Persiapan Piala Dunia 2026
Munculnya gugatan ini menjadi perhatian tersendiri karena terjadi menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, turnamen terbesar yang pernah diselenggarakan FIFA dengan format baru yang melibatkan lebih banyak peserta.
Di tengah persiapan besar tersebut, kemunculan kembali konflik lama antara Platini dan Infantino berpotensi menciptakan sorotan tambahan terhadap FIFA.
Banyak pengamat menilai kasus ini dapat membuka kembali diskusi mengenai tata kelola organisasi sepak bola dunia yang selama satu dekade terakhir terus berusaha memperbaiki citranya pasca-serangkaian skandal besar.
Baca Juga: Tambah Jalan, Tambah Macet? Fenomena yang Membuat Kota-Kota Besar Sulit Lepas dari Kemacetan
Perseteruan Lama yang Belum Berakhir
Hubungan Michel Platini dan Gianni Infantino sejatinya pernah sangat dekat.
Keduanya bekerja bersama selama bertahun-tahun di UEFA dan menjadi bagian dari kepemimpinan sepak bola Eropa.
Namun situasi berubah drastis setelah gejolak politik dan hukum yang melanda FIFA pada 2015.
Sejak saat itu, hubungan keduanya terus memburuk dan kini kembali bertemu dalam pertarungan hukum yang menyita perhatian publik.
Satu dekade setelah perebutan kursi Presiden FIFA yang kontroversial, konflik tersebut ternyata belum benar-benar selesai.
Dengan Piala Dunia 2026 di depan mata, gugatan terbaru Platini berpotensi menjadi salah satu isu paling besar yang membayangi FIFA dan kepemimpinan Gianni Infantino dalam beberapa bulan mendatang.
Editor : Muhammad Azlan Syah