Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kenapa Tren Padel Mulai Sepi? Ternyata Polanya Mirip Es Kepal Milo dan Tren FOMO Anak Muda

M. Afiqul Adib • Selasa, 12 Mei 2026 | 15:03 WIB
Dulu penuh antrean dan viral di media sosial, sekarang lapangan padel mulai sepi. Fenomena ini bikin banyak orang teringat tren Es Kepal Milo yang dulu juga sempat meledak lalu perlahan hilang. (Photo by Sergio Contreras on Unsplash)
Dulu penuh antrean dan viral di media sosial, sekarang lapangan padel mulai sepi. Fenomena ini bikin banyak orang teringat tren Es Kepal Milo yang dulu juga sempat meledak lalu perlahan hilang. (Photo by Sergio Contreras on Unsplash)

RADARBONANG.ID – Beberapa waktu lalu, lapangan padel di berbagai kota besar Indonesia sempat dipenuhi anak muda.

Mulai dari selebgram, komunitas olahraga, pekerja kantoran, sampai content creator ramai-ramai mencoba olahraga raket yang populer di Eropa dan Amerika Latin tersebut.

Media sosial penuh dengan video bermain padel.

Feed Instagram dipenuhi outfit olahraga estetik.

Baca Juga: Kenapa Minuman Literan Selalu Terlihat Menarik? Ternyata Bukan Soal Haus, Tapi Strategi Bisnis dan Konten

TikTok ramai dengan konten rally dan pertandingan seru.

Saat itu, padel terlihat seperti simbol gaya hidup modern dan kelas sosial baru.

Namun sekarang, situasinya mulai berubah.

Beberapa lapangan yang dulu penuh reservasi perlahan tidak lagi seramai sebelumnya.

Fenomena ini membuat banyak orang teringat pada satu tren lama yang pernah sangat viral: Es Kepal Milo.

Padel dan Es Kepal Milo Punya Pola yang Mirip

Meski berasal dari dunia berbeda, padel dan Es Kepal Milo ternyata punya pola tren yang hampir sama.

Keduanya sempat viral luar biasa dalam waktu singkat.

Es Kepal Milo dulu sampai membuat antrean panjang di pinggir jalan dan pusat kuliner.

Sementara padel sempat membuat banyak orang berlomba mencari slot bermain di lapangan premium.

Bisnis bermunculan cepat karena melihat hype besar dari masyarakat.

Lapangan padel dibangun di berbagai kota.

Gerai Es Kepal Milo dulu juga menjamur hampir di setiap sudut jalan.

Namun ketika rasa penasaran publik mulai turun, perlahan tren ikut meredup.

Lapangan mulai tidak penuh lagi.

Gerai mulai tutup satu per satu.

Dan perhatian masyarakat pindah ke tren baru berikutnya.

Fenomena FOMO Jadi Penyebab Utama

Salah satu alasan kenapa tren seperti ini cepat meledak adalah karena fenomena FOMO atau fear of missing out.

Banyak orang merasa harus ikut mencoba sesuatu yang sedang viral agar tidak tertinggal dari lingkungan sosial mereka.

Media sosial memperkuat dorongan tersebut.

Ketika timeline dipenuhi orang bermain padel atau memegang Es Kepal Milo, publik jadi merasa aktivitas itu wajib dicoba minimal sekali.

Bahkan kadang bukan karena benar-benar suka.

Tetapi karena takut merasa “ketinggalan zaman”.

Fenomena ini sekarang semakin umum terjadi di era digital.

Ramai di Awal, Sepi Setelah Hype Turun

Pola seperti ini sebenarnya bukan hal baru.

Banyak tren viral biasanya mengalami siklus yang sama:

Karena sebagian besar tren hanya bertumpu pada rasa penasaran publik.

Begitu rasa penasaran itu selesai, minat masyarakat biasanya ikut turun.

Padel sempat menjadi aktivitas sosial yang dianggap keren dan eksklusif.

Sama seperti Es Kepal Milo yang dulu dianggap minuman wajib coba.

Namun setelah hype mereda, hanya orang-orang yang benar-benar menikmati aktivitas tersebut yang tetap bertahan.

Sisanya perlahan pindah ke tren baru lainnya.

Antara Hobi, Gengsi, dan Konten Media Sosial

Fenomena tren viral sekarang sering kali tidak sepenuhnya soal kebutuhan atau kesenangan pribadi.

Banyak orang mencoba sesuatu karena ingin terlihat mengikuti gaya hidup tertentu.

Padel misalnya, bukan hanya olahraga.

Tetapi juga menjadi bagian dari citra sosial dan konten media sosial.

Begitu juga Es Kepal Milo dulu.

Yang membuatnya viral bukan cuma rasa, tetapi tampilannya yang menarik untuk difoto dan diunggah.

Karena itu, banyak tren modern sebenarnya lebih dekat dengan kebutuhan validasi sosial dibanding kebutuhan nyata.

Dan ketika validasi tersebut tidak lagi menarik perhatian publik, tren perlahan kehilangan daya tariknya.

Kenapa Banyak Tren Sulit Bertahan Lama?

Ada beberapa alasan kenapa tren viral cepat hilang.

Salah satunya karena tren sering menjual sensasi, bukan nilai jangka panjang.

Kalau sebuah aktivitas hanya menarik karena sedang viral, maka daya tahannya biasanya pendek.

Berbeda dengan aktivitas yang benar-benar memberi manfaat atau punya komunitas kuat.

Karena itu, tidak semua tren bisa bertahan menjadi bagian dari gaya hidup jangka panjang.

Sebagian hanya menjadi hiburan sesaat di tengah cepatnya perubahan tren internet.

Media Sosial Membuat Siklus Tren Semakin Cepat

Dulu sebuah tren bisa bertahan bertahun-tahun.

Sekarang, tren bisa viral dan tenggelam hanya dalam hitungan bulan.

Karena media sosial membuat perhatian publik bergerak sangat cepat.

Hari ini padel viral.

Besok mungkin muncul tren olahraga atau makanan baru lagi.

Akibatnya, masyarakat semakin mudah berpindah perhatian.

Dan bisnis yang terlalu bergantung pada hype biasanya paling rentan terkena dampaknya.

Tidak Semua yang Viral Harus Diikuti

Fenomena padel dan Es Kepal Milo sebenarnya memberi pelajaran sederhana.

Tidak semua yang viral harus langsung diikuti.

Baca Juga: Pengendara Motor Tipe Ini Bikin Orang Geleng Kepala, dari Perokok sampai Motor Tanpa Lampu Malam Hari

Karena kadang sesuatu ramai bukan karena benar-benar dibutuhkan, tetapi hanya karena sedang menjadi pusat perhatian internet.

Bukan berarti mengikuti tren itu salah.

Tetapi penting untuk memahami apakah kita benar-benar menikmatinya atau hanya takut tertinggal dari orang lain.

Karena pada akhirnya, tren akan selalu datang dan pergi.

Yang biasanya bertahan justru hal-hal yang benar-benar memberi manfaat, kenyamanan, dan kesenangan yang tulus bagi diri sendiri. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#tren padel #Es Kepal Milo #fenomena FOMO #tren viral media sosial #gaya hidup anak muda