RADARBONANG.ID - Memasuki usia ke-96 tahun, PSSI kembali menegaskan komitmennya untuk membenahi sepak bola nasional. Momentum ini semestinya menjadi titik refleksi perjalanan panjang organisasi yang berdiri sejak 1930 tersebut.
Namun, di balik perayaan yang berlangsung sederhana di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, satu persoalan mendasar masih menjadi sorotan utama: kualitas kompetisi domestik yang belum stabil.
Persoalan ini bukan hal baru dalam sepak bola Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kompetisi liga masih diwarnai berbagai masalah klasik yang terus berulang.
Mulai dari perubahan jadwal yang mendadak, keputusan yang kontroversial dari perangkat pertandingan, hingga kondisi finansial klub yang belum sepenuhnya sehat.
Baca Juga: Program MBG Tingkatkan Semangat Belajar dan Kesadaran Gizi Siswa di Sekolah
Situasi ini membuat kompetisi domestik sulit berkembang secara konsisten dan profesional.
Wakil Ketua Umum PSSI, Zainuddin Amali, dalam pernyataannya menegaskan bahwa pembenahan sepak bola nasional harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menyebut bahwa fokus federasi tidak hanya pada prestasi tim nasional, tetapi juga memperkuat fondasi dari kompetisi dalam negeri.
Menurutnya, liga yang sehat menjadi kunci utama untuk mencetak pemain berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Kompetisi yang Belum Stabil
Liga domestik sejatinya merupakan tulang punggung pembinaan pemain. Dari kompetisi inilah talenta muda ditempa, diberi jam terbang, dan diuji secara kompetitif.
Namun realitanya, kompetisi di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Ketidakpastian jadwal kerap menjadi masalah utama yang merugikan banyak pihak.
Tak jarang, klub harus menyesuaikan program latihan secara mendadak akibat perubahan jadwal pertandingan.
Bahkan, dalam beberapa kasus, kompetisi sempat terhenti di tengah jalan karena faktor non-teknis. Hal ini tentu berdampak besar pada stabilitas tim dan performa pemain.
Selain itu, persoalan lisensi klub dan profesionalisme manajemen juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Tidak semua klub mampu memenuhi standar yang ditetapkan, baik dari segi finansial, infrastruktur, maupun tata kelola organisasi. Kondisi ini membuat kualitas kompetisi menjadi tidak merata.
Jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, liga di Indonesia masih tertinggal dalam hal stabilitas.
Kompetisi di Thailand dan Vietnam, misalnya, mulai menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi manajemen, kualitas pertandingan, maupun daya tarik komersial.
Dampak ke Timnas Indonesia
Buruknya kualitas kompetisi domestik tidak bisa dilepaskan dari performa Timnas Indonesia di level internasional.
Meskipun dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren positif, fondasi utama tetap berasal dari liga yang kuat dan kompetitif.
Pemain yang terbiasa tampil di kompetisi berkualitas akan memiliki mental dan kemampuan yang lebih siap saat bermain di level internasional.
Sebaliknya, jika liga berjalan tidak optimal, maka proses pembinaan dan regenerasi pemain juga ikut terganggu.
Hal ini menjadi tantangan besar bagi PSSI yang kini menargetkan pencapaian ambisius, termasuk membawa Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030.
Target tersebut tentu membutuhkan persiapan matang yang tidak hanya bertumpu pada tim nasional, tetapi juga didukung oleh sistem kompetisi yang solid.
Tanpa liga yang stabil dan berkualitas, sulit bagi Indonesia untuk bersaing secara konsisten di level internasional.
Oleh karena itu, pembenahan kompetisi domestik menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Harapan di Usia ke-96
Memasuki usia ke-96, PSSI diharapkan mampu menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk melakukan perubahan nyata.
Perbaikan tidak cukup dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh seluruh aspek, mulai dari manajemen liga, kualitas perangkat pertandingan, hingga profesionalisme klub.
Langkah konkret seperti transparansi pengelolaan kompetisi, peningkatan kualitas wasit, serta penguatan regulasi klub harus segera diwujudkan.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Kecil Orang dengan Motivasi Tinggi agar Energi Tetap Membara, Kata Psikologi
Selain itu, pengembangan infrastruktur dan pembinaan usia muda juga perlu menjadi prioritas utama.
Dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sponsor, dan suporter, juga sangat dibutuhkan untuk mendorong perubahan yang berkelanjutan.
Sepak bola bukan hanya soal pertandingan di lapangan, tetapi juga ekosistem yang saling terhubung.
Pada akhirnya, kekuatan Timnas Indonesia tidak dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses panjang yang dimulai dari kompetisi domestik yang sehat, konsisten, dan profesional.
Jika hal ini mampu diwujudkan, maka bukan tidak mungkin sepak bola Indonesia dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi di masa depan.
Momentum 96 tahun PSSI pun seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa perubahan nyata bisa dilakukan demi masa depan sepak bola Indonesia yang lebih baik. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah