Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Thomas Frank Terlalu Sering Sebut Arsenal, Pemain Tottenham Jadi Bete hingga Berujung Pemecatan

Muhammad Azlan Syah • Kamis, 12 Februari 2026 | 16:05 WIB

Performa buruk dan terlalu sering sebut Arsenal disebut jadi pemicu ketegangan di ruang ganti Spurs. Tottenham akhirnya resmi memecat Thomas Frank
Performa buruk dan terlalu sering sebut Arsenal disebut jadi pemicu ketegangan di ruang ganti Spurs. Tottenham akhirnya resmi memecat Thomas Frank

RADARBONANG.ID – Tottenham Hotspur resmi memecat manajer mereka, Thomas Frank, di tengah performa tim yang terus menurun di Liga Inggris musim 2025/2026.

Namun di balik keputusan tersebut, terselip cerita menarik soal dinamika internal ruang ganti Spurs.

Salah satu hal yang disebut ikut memicu ketegangan adalah kebiasaan Frank yang terlalu sering membicarakan rival sekota, Arsenal.

Frank didatangkan dengan harapan membawa stabilitas dan karakter baru bagi Tottenham. Reputasinya saat menangani Brentford membuat manajemen Spurs optimistis ia bisa membangun tim yang kompetitif dan konsisten.

Baca Juga: Hidden Paradise di Timur Indonesia! Pulau Kei, Surga Pasir Putih dan Laut Biru Kristal yang Masih Sepi Turis

Akan tetapi, realitas di lapangan berkata lain. Spurs justru terpuruk di papan bawah klasemen dan hanya berjarak tipis dari zona degradasi.

Dalam 17 laga terakhir Liga Inggris sebelum pemecatannya, Tottenham hanya mampu meraih dua kemenangan.

Rentetan hasil buruk itu membuat tekanan terhadap Frank semakin besar. Namun bukan hanya soal taktik dan hasil pertandingan, suasana ruang ganti juga disebut mulai memanas.

Arsenal Terus Jadi Perbandingan

Menurut sejumlah laporan media Inggris, Thomas Frank kerap menyebut nama Arsenal dalam berbagai kesempatan, baik dalam konferensi pers maupun pembicaraan internal tim.

Ia beberapa kali membandingkan perkembangan dan konsistensi Arsenal sebagai contoh yang perlu ditiru Tottenham.

Bagi sebagian pemain, pendekatan tersebut awalnya dianggap sebagai motivasi. Namun seiring waktu, perbandingan yang terus-menerus justru menimbulkan kejengkelan.

Arsenal adalah rival abadi Spurs dalam derbi London Utara, sehingga menyebutnya terlalu sering dianggap sensitif dan tidak tepat secara emosional.

Beberapa sumber menyebut ada pemain yang merasa lelah mendengar Arsenal dijadikan tolok ukur dalam hampir setiap evaluasi tim.

Di ruang ganti, muncul keluhan bahwa fokus seharusnya diarahkan pada identitas Tottenham sendiri, bukan membandingkan diri dengan musuh bebuyutan.

Situasi makin menjadi sorotan ketika sebuah momen memperlihatkan Frank memegang cangkir bergambar logo Arsenal menjelang laga Tottenham.

Walau mungkin tak disengaja atau tak bermaksud provokatif, insiden itu memicu reaksi keras dari suporter dan menjadi bahan perbincangan luas di media sosial.

Tekanan Performa dan Keputusan Manajemen

Terlepas dari isu internal tersebut, faktor utama pemecatan tetaplah performa tim yang mengecewakan.

Spurs kesulitan menjaga konsistensi permainan, lini pertahanan rapuh, dan produktivitas gol menurun drastis dibanding musim sebelumnya.

Manajemen klub akhirnya mengambil langkah tegas dengan mengakhiri kerja sama bersama Frank.

Keputusan ini diambil menjelang jadwal penting, termasuk laga derbi melawan Arsenal yang selalu sarat gengsi dan tekanan.

Bagi Tottenham, pergantian pelatih di fase krusial musim tentu bukan keputusan mudah.

Namun manajemen menilai perubahan diperlukan untuk menyelamatkan musim dan memulihkan kepercayaan pemain serta suporter.

Reaksi dari Rival

Menariknya, pelatih Arsenal, Mikel Arteta, justru memberikan komentar simpatik terhadap pemecatan Frank.

Arteta menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari kerasnya dunia sepakbola profesional dan tetap menghormati kualitas Frank sebagai pelatih.

Pernyataan itu menjadi kontras dengan narasi internal Spurs yang sempat memanas akibat penyebutan nama Arsenal secara berulang.

Tantangan ke Depan

Kini Tottenham dihadapkan pada tugas berat mencari pengganti yang mampu membangkitkan moral tim sekaligus memperbaiki posisi di klasemen.

Nama-nama kandidat mulai dikaitkan dengan kursi panas tersebut, namun yang terpenting adalah bagaimana klub membangun kembali harmoni ruang ganti.

Kasus Thomas Frank menjadi pelajaran bahwa dalam sepakbola modern, komunikasi sama pentingnya dengan strategi.

Baca Juga: Pindah dari iPhone ke Android Semakin Gampang! iOS 26.3 Bawa Fitur Baru

Membandingkan tim dengan rival bisa menjadi motivasi, tetapi jika tidak dikelola dengan bijak, justru dapat menimbulkan resistensi.

Di klub sebesar Tottenham, sensitivitas terhadap rivalitas historis sangat tinggi. Arsenal bukan sekadar tim lain di klasemen, melainkan simbol persaingan panjang yang sarat emosi.

Pada akhirnya, kombinasi performa buruk dan dinamika internal membuat perjalanan Thomas Frank di Tottenham berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.

Spurs kini menatap babak baru, berharap pergantian ini menjadi titik balik sebelum musim benar-benar terlanjur hilang.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#pemecatan #arsenal #Premier League #totteham hotspur #liga inggris #pelatih