RADARBONANG.ID – Kekerasan dalam sepak bola Inggris pernah mencapai titik paling kelam pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an.
Di era tersebut, hooliganisme bukan sekadar insiden sporadis, melainkan budaya kekerasan yang mengakar kuat di tribun, jalanan, hingga transportasi umum.
Demi menghentikan fenomena ini, kepolisian Inggris bahkan menempuh langkah ekstrem: menyamar sebagai hooligan dan menyusup ke jantung kelompok pendukung paling brutal.
Saat itu, banyak klub besar Inggris memiliki kelompok fanatik yang dikenal sebagai firm.
Nama-nama seperti Red Army (Manchester United), Inter City Firm (West Ham United), dan Headhunters (Chelsea) identik dengan bentrokan fisik, intimidasi, dan teror terhadap suporter lawan.
Baca Juga: Mengenal Aji Lembu Sekilan, Ilmu Kebal Legendaris yang Jadi Bagian Cerita Rakyat Jawa
Kekerasan terjadi bukan hanya di stadion, tetapi juga di pub, stasiun, hingga kereta api.
Situasi ini membuat sepak bola kehilangan sisi ramahnya. Banyak keluarga dan penonton muda enggan datang ke stadion karena takut terjebak kerusuhan.
Tekanan publik yang semakin besar akhirnya mendorong kepolisian Inggris mencari cara yang lebih radikal untuk membongkar jaringan hooliganisme dari dalam.
Salah satu strategi paling berani yang diterapkan adalah Operasi Pegasus, sebuah operasi rahasia yang dijalankan oleh Kepolisian Metropolitan London.
Dalam operasi ini, sejumlah polisi muda ditugaskan menyusup ke kelompok hooligan dengan identitas palsu, menjalani kehidupan ganda, dan berbaur sepenuhnya layaknya anggota firm sungguhan.
Salah satu sosok kunci dalam Operasi Pegasus adalah James Bannon, polisi berusia 21 tahun saat itu.
Ia ditugaskan menyusup ke kelompok hooligan Millwall yang terkenal brutal, Bushwackers. Demi menjaga penyamarannya, Bannon menggunakan identitas palsu sebagai tukang cat dan dekorator bernama Jim Ford asal Wandsworth.
Ia bahkan berpura-pura menjadi ayah muda agar latar belakang hidupnya terdengar masuk akal.
“Kami datang ke pub Millwall mengenakan baju kerja tukang cat dan dekorator,” ujar Bannon dalam dokumenter Channel 4 Italia 90: When Football Changed Forever. Ia mengakui, penyamaran tersebut bukan perkara mudah.
“Itu sangat licik dan tidak menyenangkan, masuk ke sebuah tempat dan meyakinkan orang-orang bahwa kamu adalah sesuatu yang sebenarnya bukan dirimu.”
Meski begitu, Bannon menyadari bahwa penyamaran adalah satu-satunya jalan.
“Itu satu-satunya cara untuk menghentikan orang-orang yang memukuli orang lain, padahal banyak dari korban itu tidak melakukan apa-apa,” tambahnya.
Risiko terbesar Operasi Pegasus bukan hanya ancaman terbongkarnya identitas polisi, tetapi juga beban moral yang harus ditanggung.
Bannon mengaku pernah menyaksikan langsung kekerasan brutal terhadap seorang pendukung Crystal Palace yang sama sekali tidak bersalah. Insiden itu terjadi di dalam kereta, disaksikan oleh istri dan anak-anak korban.
“Orang itu tiba-tiba berdiri, memukul kepala pria tersebut, lalu menendangnya,” tutur Bannon kepada LADbible.
Tangisan anak-anak dan istri korban menggema di dalam kereta, sementara korban tergeletak dengan luka parah.
“Setiap urat dalam tubuh saya ingin melompat dan menangkap pelaku, tetapi kami tidak bisa. Jika identitas terbongkar, seluruh operasi akan hancur.”
Menjelang Piala Dunia 1990 di Italia, strategi polisi menyamar ini diperluas. Aparat menyusup ke kelompok pendukung Arsenal, Chelsea, Manchester City, hingga Manchester United.
Tujuannya jelas: mencegah kekerasan suporter Inggris di luar negeri yang berpotensi mencoreng nama bangsa.
Seiring waktu, hooliganisme sepak bola Inggris mulai menurun drastis. Pengetatan keamanan stadion, penggunaan CCTV, larangan stadion bagi pelaku kekerasan, serta penegakan hukum yang tegas menjadi kombinasi ampuh dalam mengubah wajah sepak bola Inggris.
Kini, kisah James Bannon dan Operasi Pegasus dikenang sebagai bab penting dalam sejarah penanggulangan kekerasan sepak bola.
Sebuah pengingat bahwa di balik stadion yang aman dan ramah keluarga hari ini, ada risiko besar dan pengorbanan aparat yang pernah menyusup ke dunia paling gelap dalam sepak bola Inggris.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah