RADARBONANG.ID - Pertandingan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta selalu menghadirkan cerita lebih dari sekadar skor akhir.
Rivalitas panjang yang dikenal sebagai El Clasico Indonesia itu kembali memantik perhatian publik dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Kali ini, sorotan tak hanya tertuju pada hasil pertandingan, tetapi juga pada isu penunjukan wasit yang memimpin laga.
Persib yang bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Gelora Bandung Lautan Api berhasil mengamankan kemenangan tipis 1-0.
Namun, hasil tersebut seolah menjadi latar dari perbincangan yang lebih luas terkait konsistensi dan pola penugasan pengadil lapangan di pertandingan besar.
Baca Juga: Belajar Istirahat Tanpa Merasa Bersalah: Saat Anak Muda Mulai Capek Jadi “Produktif Terus”
Penunjukan Wasit Asing Kembali Terulang
Dalam laga tersebut, federasi kembali menunjuk wasit asing untuk memimpin pertandingan Persib melawan Persija di Bandung.
Wasit asal Korea Selatan dipercaya mengawal jalannya laga yang berlangsung dengan tensi tinggi sejak menit awal.
Bagi kubu Persib, penunjukan wasit dari luar negeri bukanlah hal baru. Pola serupa disebut telah terjadi berulang kali setiap kali Persib menjamu Persija.
Situasi ini kemudian dibandingkan dengan laga-laga Persib saat bertandang ke Jakarta, yang kerap dipimpin oleh wasit lokal.
Sindiran Bernuansa Kritik
Pelatih Persib, Bojan Hodak, menanggapi situasi tersebut dengan nada menyindir. Ia menilai adanya kebiasaan yang terkesan timpang dalam penugasan wasit pada laga besar dua rival abadi ini.
Sindiran itu tidak disampaikan secara emosional, melainkan bernuansa satir yang menyiratkan kritik terhadap sistem yang berjalan.
Bagi Hodak, perbedaan perlakuan tersebut patut dipertanyakan, terlebih ketika pertandingan yang sama-sama berisiko tinggi justru dipimpin oleh jenis pengadil yang berbeda tergantung lokasi pertandingan. Hal ini memunculkan persepsi bahwa standar pengamanan laga belum sepenuhnya konsisten.
Isu Wasit dan Tekanan Derby
Derby Persib vs Persija memang dikenal sebagai salah satu laga dengan tekanan tertinggi di sepak bola nasional.
Atmosfer stadion, rivalitas suporter, serta ekspektasi publik menjadikan pertandingan ini rawan konflik dan kontroversi.
Penunjukan wasit asing sering dipandang sebagai upaya meredam potensi tekanan tersebut.
Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan pertanyaan tentang kepercayaan terhadap kualitas wasit lokal, khususnya dalam memimpin pertandingan berlevel tinggi di kompetisi domestik.
Fokus Persib Tetap pada Hasil
Di tengah polemik soal wasit, Persib tetap menunjukkan fokus pada performa di lapangan. Gol cepat yang tercipta di babak pertama menjadi kunci kemenangan Maung Bandung atas rival abadinya.
Setelah unggul, Persib memilih bermain lebih disiplin dan menjaga keunggulan hingga peluit akhir.
Kemenangan ini memberi dampak penting bagi posisi Persib di papan atas klasemen sementara.
Tambahan tiga poin membuat persaingan di jalur juara semakin ketat, sekaligus memperkuat kepercayaan diri tim dalam menghadapi laga-laga berikutnya.
Tantangan Kompetisi Nasional
Selain isu wasit, Hodak juga menyoroti kerasnya kompetisi Liga Indonesia secara keseluruhan. Jarak tempuh antarkota yang jauh, jadwal padat, serta tekanan dari suporter menjadi tantangan tersendiri bagi setiap tim.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut konsistensi regulasi dan pengelolaan kompetisi yang lebih matang agar persaingan tetap berjalan adil dan profesional.
Derby besar seperti Persib vs Persija dinilai menjadi cermin penting bagi wajah sepak bola nasional di mata publik.
Baca Juga: Scan, Pay, Repeat: Saat Fintech Bukan Lagi Alat Bayar, Tapi Gaya Hidup Anak Muda
Rivalitas yang Selalu Menyisakan Cerita
Pertandingan Persib melawan Persija hampir selalu menyisakan perdebatan, baik soal taktik, emosi di lapangan, hingga keputusan wasit.
Sindiran Bojan Hodak mengenai penunjukan pengadil asing kembali menegaskan bahwa rivalitas ini tak pernah benar-benar usai di luar lapangan.
Di balik kemenangan Persib, isu konsistensi dan keadilan kompetisi kembali mengemuka. El Clasico Indonesia pun sekali lagi membuktikan diri sebagai pertandingan sarat gengsi, tekanan, dan cerita panjang yang terus berlanjut dari musim ke musim.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah