RADARBONANG.ID - Musim lalu menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah PSIS Semarang.
Setelah bertahun-tahun bertahan di kasta tertinggi, penampilan buruk sepanjang musim membuat Laskar Mahesa Jenar gagal keluar dari zona merah.
Inkonsistensi permainan, manajemen yang dianggap kurang stabil, hingga pergantian pelatih yang tak memberi perubahan signifikan membuat PSIS harus rela terdegradasi ke Liga 2—yang kini bernama Pegadaian Championship—untuk musim 2025/2026.
Kondisi ini memicu kegelisahan di kalangan suporter dan menuntut adanya perubahan besar pada tubuh klub.
Baca Juga: Y2K: Ketakutan Global yang Nyaris Melumpuhkan Dunia Saat Tahun Berganti ke 2000
Keterpurukan tersebut tak hanya berdampak pada mental pemain, tetapi juga membuat kepercayaan publik terhadap manajemen menurun drastis.
Berbagai elemen suporter berulang kali menyuarakan desakan agar ada restrukturisasi, baik dari sisi pengelolaan klub maupun arah kebijakan tim.
Situasi ini membuat Yoyok Sukawi selaku pemilik mayoritas saham PT Mahesa Jenar Semarang (MJS) berada di posisi sulit hingga akhirnya membuka peluang masuknya investor baru demi penyelamatan klub.
Di tengah kondisi tersebut, sebuah kabar besar datang pada Senin (17/11/2025).
PSIS Semarang resmi memiliki pemilik baru setelah Yoyok Sukawi melepas 74,25 persen saham PT MJS kepada Datu Nova Fatmawati.
Kesepakatan ini menjadi penanda babak baru sekaligus harapan baru bagi klub yang sedang terpuruk.
Datu Nova, Putri Semarang yang Pulang Mengemban Amanah
Datu Nova Fatmawati, sosok yang kini menjadi pemilik mayoritas PSIS, adalah perempuan kelahiran Semarang meski kini tinggal di Lamongan.
Ia merupakan istri dari Fariz Julinar Maurisal, pemilik Belikopi yang dikenal sebagai sponsor Persela Lamongan.
Meski memiliki kedekatan dengan klub Lamongan, hati Datu ternyata tetap melekat pada kota kelahirannya.
Dalam konferensi pers, Datu menyampaikan bahwa keputusannya membeli saham PSIS bukan semata urusan bisnis, melainkan panggilan moral dan keluarga.
Dikutip dari jatengtoday.com Datu Nova Fatmawati mengatakan, Semarang merupakan tanah kelahirannya, dan PSIS adalah tim kebanggaan almarmahum sang ayah.
“Saya lahir dan besar di Semarang meski sekarang bermukim di Lamongan. Almarhum ayah sangat cinta PSIS. Dan sekarang saya merasa punya tanggung jawab moral ketika melihat kondisi PSIS saat ini, karena saya ingin melanjutkan kecintaan ayah terhadap PSIS,” ujarnya.
Dengan kepemilikan 74,25 persen saham, Datu Nova kini menjadi pengendali penuh PT MJS dan memiliki kuasa penuh atas arah pengembangan PSIS ke depan.
Janji Perombakan Besar-besaran
Datu memastikan bahwa langkah pertama yang akan ia ambil adalah melakukan evaluasi total. Ia menyadari bahwa PSIS bukan hanya membutuhkan suntikan dana, tetapi juga pembenahan manajemen, peningkatan profesionalisme, dan pendekatan yang lebih erat dengan suporter.
“Kami akan melakukan perombakan besar-besaran dari seluruh aspek untuk mengembalikan PSIS ke jalurnya,” tegasnya.
Ia menilai komunikasi yang baik dengan suporter adalah fondasi penting agar transformasi klub dapat berjalan lancar. Datu berjanji segera bertemu dengan berbagai kelompok pendukung PSIS untuk mendengar masukan serta membangun jembatan kepercayaan.
Manajemen Lama Jelaskan Alasannya
Joni Kurnianto, juru bicara PT MJS, menyebut bahwa keseriusan Datu adalah faktor utama yang membuat proses akuisisi berlangsung mulus. Menurutnya, chemistry antara Datu dan manajemen lama terbangun dengan cepat.
Joni juga menyinggung polemik sebelumnya, ketika PT MJS memutuskan menghentikan negosiasi dengan calon investor awal, David Glenn, yang sebelumnya disebut sebagai kandidat terkuat. Keputusan tersebut sempat memicu kegaduhan di kalangan publik.
Baca Juga: Sampah Tersimpan 5 Meter di Bawah Tanah, Begini Sistem Super Efisien Andalan Belanda
Harapan Suporter dan Masa Depan PSIS
Dengan masuknya pemilik baru, suporter berharap transformasi PSIS tidak sekadar wacana. Perjalanan kembali ke kasta tertinggi tentu tidak mudah, tetapi banyak pihak menilai momentum ini adalah titik balik penting.
Kombinasi sentuhan baru dari Datu Nova dan komitmen untuk merombak manajemen dapat menjadi fondasi kebangkitan PSIS yang musim lalu harus menelan pil pahit degradasi.
Kini, mata publik sepak bola Indonesia tertuju pada langkah pertama pemilik baru: pembenahan struktur, memperbaiki skuad, dan memastikan PSIS kembali menjadi kekuatan yang disegani.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah