RADARBONANG.ID - Pesan tegas disampaikan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Tuban menyusul akuisisi Persatu Tuban oleh manajemen baru.
Di tengah euforia harapan kebangkitan klub kebanggaan wong Tuban itu, Askab menekankan satu hal penting: jangan lagi mencampuradukkan sepak bola dengan kepentingan politik.
Ketua Askab PSSI Tuban Budi Sulistiyono menilai, salah satu penyebab utama runtuhnya eksistensi Persatu setelah gagal bertahan di Liga 2 adalah kuatnya tarik-menarik kepentingan politik di dalam tubuh manajemen.
“Paling penting, jika sepak bola dicampuradukan dengan politik, maka tidak akan bisa maju,” kata Budi Sulistiyono kepada Jawa Pos Radar Bonang.
Menurutnya, pelajaran besar itu harus menjadi pedoman bagi manajemen baru agar Persatu bisa benar-benar bangkit tanpa beban politik apa pun.
Lebih jauh, Budi juga mengungkap faktor lain yang kerap luput dari perhatian publik.
Dia menyebut, akar persoalan bermula sejak Persatu naik kasta ke Liga 2 pada 2017, ketika manajemen terburu-buru membentuk badan hukum PT Persatu Putra Tuban untuk memenuhi syarat klub profesional.
“Pembentukan PT dilakukan tanpa mempertimbangkan jangka panjang klub,” ujarnya.
Dalam struktur kepemilikan, Persatu berada di bawah naungan PT Persatu Putra Tuban yang dimiliki oleh empat pemegang saham: Fahmi Fikroni, Miyadi, Ratna Juwita Sari, dan Nashruddin Ali. Keempatnya merupakan politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
“Idealnya, sebuah klub dimiliki pemegang saham tertinggi. Jika dimiliki bersama akan sulit membawa arah klub, sebab harus menyatukan pemikiran yang berbeda-beda,” jelas Budi.
Dia menambahkan, karena para pemegang saham merupakan kalangan politikus, maka arah dan dinamika politik tidak bisa dipisahkan dari perjalanan klub.
“Yang bisa menyelamatkan Persatu hanya orang yang benar-benar suka sepak bola,” tegasnya.
Lebih lanjut, Budi menekankan pentingnya melibatkan suara suporter dalam setiap langkah pengelolaan klub. Bagi dia, loyalitas dan cinta suporter merupakan fondasi utama agar klub bisa berjalan sehat dan transparan.
“Malah akan bagus jika memasukkan pentolan suporter dalam jajaran kepengurusan tim. Artinya, maju mundurnya klub bisa terkontrol secara langsung,” tandasnya.
Pesan ini menjadi refleksi penting di tengah semangat baru Persatu yang kini dikelola oleh manajemen baru di bawah Eko Wahyudi.
Harapan besar kembali menggema: agar Persatu bangkit bukan karena kepentingan politik, melainkan karena cinta sejati terhadap sepak bola. (*)
Editor : Amin Fauzie