RADARBONANG.ID – Komunitas motor trail kini semakin berkembang di berbagai daerah, termasuk di Tuban.
Mereka menyebut aktivitas ini sebagai “trabas,” yakni menjelajah jalur ekstrem yang jarang tersentuh, dari hutan, bukit, hingga jalan desa.
Suara knalpot meraung, debu beterbangan, dan tanah basah jadi sahabat setia.
Itulah rutinitas akhir pekan bagi mereka yang tergabung dalam komunitas motor trail.
Tapi jangan salah, ini bukan soal adu gaya atau kebut-kebutan.
Di balik helm dan lumpur, ada cerita tentang persaudaraan, petualangan, dan solidaritas yang kuat.
“Naik trail itu bukan soal ngebut. Tapi soal menikmati jalur, menaklukkan tantangan alam, dan tetap saling bantu kalau ada yang kesulitan,” kata Andi Brontak, salah satu anggota komunitas trail Tuban yang sudah ikut trabasan sejak 2015.
Yang bikin motor trail beda dari hobi bermotor lainnya adalah jalurnya yang nggak biasa.
Mereka melintasi tanjakan berlumpur, sungai kecil, batu terjal, hingga hutan jati.
Sensasi terpeleset, nyungsep di lumpur, atau motor mogok justru jadi bagian paling seru.
“Pernah motor saya jatuh di tanjakan licin, terus ditarik bareng-bareng sama yang lain. Nggak ada yang tinggalin,” cerita Pak Joko, pensiunan guru yang aktif trabas setiap Sabtu-Minggu.
Anggota komunitas motor trail juga dikenal suka ngoprek motor mereka sendiri.
Dari setting suspensi, ban, gear, hingga stiker body custom, semuanya hasil kerja tangan sendiri.
“Mau main di jalur berat, motornya harus siap juga. Di sinilah bedanya: antara trail hobi dan trail hati,” ujar Rian, montir sekaligus rider komunitas Trail Ronggolawe Tuban.
Uniknya lagi, komunitas trail ini juga aktif dalam kegiatan sosial.
Beberapa kali mereka menggelar bakti sosial ke pelosok desa yang sulit dijangkau kendaraan biasa.
Dari membagikan sembako, membantu akses air bersih, hingga buka rute darurat saat ada bencana longsor.
“Saat jalan rusak parah, cuma motor trail yang bisa tembus. Kita bantu angkut logistik,” kata Ucup, anggota komunitas yang kerap ditugaskan di jalur evakuasi bencana.
Meski berasal dari latar belakang berbeda—pengusaha, buruh, guru, montir, bahkan mahasiswa—mereka disatukan oleh satu hal: cinta terhadap motor trail dan solidaritas tanpa batas.
Kalau satu jatuh, yang lain bantu. Kalau satu kesasar, semua cari.
“Inilah rumah kedua. Di sini nggak ada yang sok jago. Semua belajar bareng, jatuh bareng, bangkit bareng,” ucap Bayu, salah satu penggagas komunitas Trail Blazer Tuban.
Motor trail bukan sekadar hobi. Ini tentang menyatu dengan alam, melawan batas diri, dan menemukan keluarga baru di antara lumpur dan tikungan tajam.
Kalau kamu tipe petualang sejati, mungkin tempatmu bukan di aspal, tapi di jalur trabas bersama komunitas yang solid dan seru.
Jadi, kamu siap kotor-kotoran demi tawa dan brotherhood? (*)
Editor : Amin Fauzie