RADARBONANG.ID – Di tengah gemuruh persiapan Porprov Bali 2025, satu sosok mencuri perhatian: seekor kera putih dengan udeng khas Bali di kepala dan gada di tangan. Ia bukan sembarang tokoh.
Ia adalah Hanoman, sosok legendaris dalam epos Ramayana, yang kini diangkat sebagai maskot resmi ajang olahraga paling prestisius di Pulau Dewata.
Pemilihan Hanoman bukan tanpa alasan. Ketua KONI Bali, I Gusti Ngurah Oka Darmawan, menegaskan bahwa Hanoman dipilih karena mewakili filosofi luhur dan semangat sportivitas yang tinggi.
“Dipilihnya maskot Hanoman karena memiliki filosofi yang tinggi, semangat dan karakter sportivitas yang kuat,” ucap Oka Darmawan dalam peluncuran resmi di Denpasar, Jumat (12/7).
Hanoman dikenal dalam kisah Ramayana sebagai sosok yang gagah berani, setia, cerdas, dan tak pernah mundur dari medan tugas.
Nilai-nilai itulah yang ingin dihadirkan dalam Porprov Bali 2025, sebuah semangat juang yang tak lekang, kerja sama tanpa pamrih, dan dedikasi untuk kebaikan yang lebih besar.
Bukan sekadar maskot, Hanoman dihidupkan sebagai cerminan ideal seorang atlet sejati.
Wujud maskot ini pun sarat makna. Udeng atau ikat kepala khas Bali melambangkan pengikat hati dan kehormatan.
Gada di tangan kanan bukan sekadar atribut tempur, tetapi simbol kekuatan dan keteguhan hati.
Ring emas yang melingkar menjadi lambang kesucian dan kejujuran.
Lalu ada saput tridatu—kain berwarna merah, putih, dan hitam—yang mewakili keseimbangan hidup dalam falsafah Bali.
Tak lupa, sepatu merah disematkan sebagai pemantik semangat dan keberanian untuk melangkah maju.
Sementara logo Porprov Bali 2025 memancarkan kekuatan visual yang tak kalah bermakna.
Lima gunung dalam desain logo mewakili kontur alam Bali yang sakral dan kokoh, sedangkan tiga lingkaran diambil dari inspirasi logo Olimpiade, sebagai simbol persatuan dan semangat kompetitif global.
Tak ketinggalan bentuk segi lima sebagai dasar logo, mewakili nilai-nilai Pancasila dan filosofi Pemprov Bali yang menjadi pilar utama pelaksanaan kegiatan.
Dengan mengusung motto Loka Hita Samudaya yang berarti "Bersama Menuju Masa Depan", Porprov kali ini menekankan pentingnya solidaritas dan sportivitas di atas sekadar medali.
Ajang ini bukan hanya soal siapa yang tercepat, terkuat, atau paling akurat.
Ini adalah panggung untuk membangun generasi baru yang menjunjung nilai-nilai luhur olahraga.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, I Ketut Ngurah Boy Jayawibawa, yang hadir mewakili Gubernur Wayan Koster saat peluncuran, menyatakan bahwa ajang Porprov tak hanya berfungsi sebagai kompetisi, tapi juga alat pemicu pembangunan infrastruktur dan semangat hidup sehat.
“Dengan demikian tujuan pembangunan keolahragaan di tanah air seperti pengembangan dan pembinaan prestasi olahraga semakin meningkat,” ujarnya.
Porprov Bali 2025 dijadwalkan berlangsung mulai 9 hingga 17 September 2025, mempertemukan atlet dari seluruh kabupaten/kota se-Bali.
Lebih dari sekadar pertandingan, ini akan menjadi perayaan energi, tradisi, dan cita-cita bersama yang digambarkan lewat sosok Hanoman: tangguh, suci, dan tak kenal lelah demi kebaikan bersama. (*)