RADARBONANG.ID – Selama bertahun-tahun, gelombang budaya Korea atau Hallyu Wave begitu kuat mendominasi pasar hiburan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Grup musik K-Pop dari Korea Selatan hampir selalu menguasai tangga lagu digital dan menjadi favorit generasi muda.
Namun kini, fenomena baru mulai terlihat di Indonesia.
Musik buatan musisi lokal perlahan mengambil alih dominasi tersebut dan menjadi pilihan utama pendengar di platform streaming musik seperti Spotify.
Perubahan tren ini bahkan disebut sebagai salah satu yang paling drastis di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Islandia Gunakan Zebra Cross 3D untuk Perlambat Kendaraan, Efek Ilusi Optiknya Bikin Takjub
Musik Lokal Indonesia Melonjak Tajam
Berdasarkan analisis grafik Spotify Daily Chart Asia Tenggara yang dibagikan akun X @tsurezure_lab, dominasi musik lokal Indonesia mengalami peningkatan sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pangsa lagu-lagu lokal atau Indo Pop disebut melonjak dari sekitar 60 persen hingga mencapai 78 persen di tangga lagu harian Spotify Indonesia.
Sebaliknya, popularitas musik K-Pop justru mengalami penurunan tajam.
Jika sebelumnya genre tersebut masih memiliki porsi sekitar lima persen di chart harian, kini angkanya disebut hanya tersisa sekitar satu persen saja.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam selera musik pendengar Indonesia.
Lagu Bernadya Jadi Simbol Kebangkitan Musik Lokal
Salah satu contoh paling nyata dari kebangkitan musik lokal adalah kesuksesan lagu Satu Bulan milik Bernadya.
Lagu bernuansa melankolis tersebut berhasil mencatat lebih dari 410 juta streams di Spotify.
Tak hanya itu, lagu tersebut juga mampu bertahan di puncak tangga lagu utama selama 10 minggu berturut-turut.
Kesuksesan Bernadya dianggap menjadi simbol kuat bahwa karya musisi Indonesia kini mampu bersaing secara masif di platform digital.
Selain itu, munculnya banyak musisi indie baru serta berkembangnya genre seperti pop melayu hingga hipdut turut memperkuat posisi musik lokal di hati pendengar tanah air.
Pendengar Kini Lebih Suka Lagu yang Relate
Perubahan tren musik ini bukan terjadi tanpa alasan.
Banyak pendengar saat ini disebut lebih menyukai lagu dengan lirik berbahasa Indonesia yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Kedekatan emosional menjadi faktor penting yang membuat lagu lokal lebih mudah diterima publik.
Selain itu, kualitas produksi musik Indonesia juga dinilai berkembang sangat pesat.
Aransemen, kualitas rekaman, hingga visualisasi karya para musisi lokal kini dianggap mampu bersaing dengan produksi musik internasional.
Karena itu, banyak pendengar mulai merasa bahwa musik Indonesia sudah memiliki kualitas yang setara dengan karya luar negeri.
Tren Penurunan K-Pop Terjadi di Negara Lain
Fenomena menurunnya dominasi K-Pop ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia.
Negara tetangga seperti Thailand juga mengalami tren serupa.
Pangsa musik lokal Thailand disebut meningkat hingga 78 persen, sementara popularitas K-Pop turun dari 27 persen menjadi sekitar 11 persen.
Sementara itu, musik Indonesia justru mulai memperluas pengaruhnya ke pasar regional.
Di Malaysia, minat masyarakat terhadap lagu-lagu Indonesia dilaporkan meningkat dari 18 persen pada 2023 menjadi sekitar 22 persen pada pertengahan 2026.
Kenaikan tersebut ikut menekan popularitas K-Pop di Malaysia yang kini berada di kisaran 13 persen.
Baca Juga: Ujaran Kebencian di X Jadi Sorotan Inggris, Ofcom Desak Platform Elon Musk Bertindak Tegas
Industri Musik Indonesia Dinilai Makin Kuat
Perubahan besar ini dianggap menjadi sinyal positif bagi industri musik Indonesia.
Musik lokal kini bukan hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mulai menunjukkan pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara.
Dengan semakin banyaknya karya berkualitas dan dukungan pendengar domestik, musisi Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus berkembang di pasar internasional.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa pendengar Indonesia kini semakin bangga dan percaya terhadap kualitas karya anak bangsa sendiri.
Editor : Muhammad Azlan Syah