RADARBONANG.ID – Isyana Sarasvati kembali mencuri perhatian publik dengan arah musik yang semakin personal dan mendalam. Penyanyi yang dikenal lewat lagu Tetap Dalam Jiwa ini kini tidak lagi berfokus pada popularitas atau angka penjualan album.
Lewat karya terbarunya, Eklektico, Isyana memilih pendekatan yang lebih sederhana, intim, dan jujur terhadap dirinya sendiri.
Album tersebut menjadi ruang bagi dirinya untuk mengekspresikan perjalanan batin serta refleksi kehidupan yang ia alami selama beberapa tahun terakhir.
Dalam sebuah perbincangan hangat bersama Habib Jafar, Isyana secara terbuka menceritakan transformasi dirinya.
Baca Juga: Update Tragedi Bantar Gebang: Gunungan Sampah Longsor Menimbun 5 Truk, 4 Korban Ditemukan Tewas
Ia mengaku kini lebih menempatkan nilai spiritual dan kejujuran dalam berkarya dibandingkan sekadar memenuhi tuntutan industri musik.
Musik Sebagai Bahasa Pertama
Bagi Isyana, musik bukan sekadar hiburan atau profesi. Musik adalah bahasa hati yang telah menemaninya sejak kecil.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa pada masa kecilnya, musik menjadi sarana utama untuk mengekspresikan diri, terutama saat ia mengalami periode mutism, yaitu kondisi ketika seseorang enggan berbicara selama jangka waktu tertentu.
“Musik selalu menjadi medium terbaik untukku berekspresi. Musik tidak pernah menilai. Justru membantu menyempurnakan apa yang ingin aku sampaikan yang kadang tidak bisa keluar lewat kata-kata,” ujar Isyana.
Baginya, setiap nada dan melodi yang ia ciptakan bukan hanya karya seni, tetapi juga bagian dari proses penyembuhan diri.
Perjalanan Hidup yang Membentuk Kedewasaan
Lulusan Royal College of Music ini juga mengalami berbagai peristiwa yang membentuk kedewasaannya. Salah satu pengalaman paling berat terjadi pada tahun 2023 ketika ia mengalami keguguran.
Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi dirinya. Namun di balik kesedihan itu, Isyana merasa mendapatkan pelajaran besar tentang penerimaan dan keikhlasan.
Ia menyadari bahwa dinamika kehidupan—baik kebahagiaan maupun kesedihan—merupakan bagian yang membentuk manusia menjadi lebih utuh.
Dalam momen refleksi tersebut, ia juga merasa semakin dekat dengan Tuhan.
“Rasanya sangat indah ketika bisa berbicara langsung dengan Tuhan. Ada keajaiban yang terasa. Kedekatan itu benar-benar hadir di dalam hati,” ungkapnya dengan tulus.
Mencari Keseimbangan Jiwa dan Raga
Memasuki usia 30 tahun, Isyana mengaku semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan mental, spiritual, dan fisik.
Ia percaya bahwa kecantikan sejati bukan berasal dari penilaian orang lain, melainkan dari rasa nyaman terhadap diri sendiri.
Di tengah era media sosial yang penuh komentar dan ekspektasi publik, Isyana memilih untuk lebih fokus pada kedamaian batin daripada validasi dari luar.
Pesan untuk Para Kreator
Selain berbicara tentang perjalanan pribadinya, Isyana juga menyampaikan pesan kepada para kreator dan musisi muda.
Ia mengingatkan bahwa kejujuran dalam berkarya adalah hal yang paling penting. Menurutnya, seorang seniman tidak seharusnya mengorbankan identitas hanya demi mengikuti selera pasar.
Bagi Isyana, integritas seorang seniman justru terletak pada keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.
“Kita harus jujur pada karya kita. Supaya saat karya itu kita gaungkan, kita melakukannya dengan sepenuh hati. Jangan sampai kita membunuh karakter dan kejujuran diri sendiri hanya demi menyenangkan orang lain,” tuturnya.
Melalui perjalanan musik dan kehidupan yang ia jalani, Isyana Sarasvati menunjukkan bahwa seni bukan sekadar produk hiburan. Musik juga dapat menjadi ruang refleksi, penyembuhan, dan cara untuk memahami diri sendiri secara lebih dalam.
Editor : Muhammad Azlan Syah