RADARBONANG.ID - Pelukis asal Jepang, Tatsuo Horiuchi, menjadi salah satu figur paling unik dalam dunia seni modern.
Bukan karena gaya lukisnya yang eksperimental atau pilihan medium yang aneh, tetapi karena ia memilih Microsoft Excel—sebuah perangkat lunak spreadsheet—sebagai kanvas utamanya.
Keputusan tak biasa ini lahir justru setelah ia memutuskan pensiun dari dunia kerja pada tahun 2000.
Saat memasuki masa pensiun, Horiuchi sebenarnya ingin tetap berkarya sebagai pelukis. Namun ia menyadari bahwa melukis secara tradisional membutuhkan biaya yang tidak sedikit: membeli cat, kuas, kanvas, hingga perangkat pendukung lainnya.
Baca Juga: Musim Baratan Mulai Menyapa Tuban, Warga Diminta Nikmati Keindahannya tapi Tetap Waspada
Sementara itu, ia juga tidak ingin menghabiskan uang untuk membeli software desain grafis profesional, yang harganya pada masa itu cukup tinggi.
Keinginannya untuk tetap menciptakan karya seni, tetapi dengan biaya seminimal mungkin, membuatnya mencari alternatif yang benar-benar berbeda.
Di sinilah Excel masuk sebagai jalan keluar yang tidak terduga. Pada awalnya, Horiuchi hanya melihat Excel sebagai program yang sudah tersedia di komputernya.
Ia memutuskan untuk bereksperimen dengan berbagai fitur, terutama line tool yang biasanya dipakai untuk grafik, tabel, dan diagram.
Dari percobaan sederhana itulah Horiuchi mulai menemukan bahwa Excel dapat digunakan untuk menghasilkan bentuk, lengkungan, hingga pola rumit yang menyerupai teknik melukis digital.
Seiring waktu, eksplorasinya semakin serius. Ia mendalami fungsi AutoShape, mengutak-atik kurva Bezier versi Excel, dan mencoba meniru tekstur alami seperti daun, awan, dan lipatan kain.
Horiuchi memanfaatkan setiap fitur Excel yang tersedia, bahkan yang tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan pengguna.
Dalam proses tersebut, ia membutuhkan kesabaran luar biasa—karena membuat satu objek saja terkadang memakan waktu berhari-hari.
Hasilnya? Karya-karyanya jauh dari sekadar eksperimen. Horiuchi mampu menciptakan lukisan pemandangan Jepang yang detail, mulai dari pegunungan yang berkabut, pepohonan sakura yang mekar, kuil kuno, hingga aktivitas masyarakat desa.
Banyak orang yang jika melihat karyanya untuk pertama kali tidak menyangka bahwa semua itu dibuat tanpa satu tetes cat pun, melainkan melalui ratusan bentuk Excel yang diatur sedemikian rupa.
Popularitas Horiuchi mulai melejit pada pertengahan 2000-an. Pada tahun 2006, ia mengikuti kompetisi “Excel Autoshape Art Contest”, sebuah ajang yang secara khusus menantang peserta menghasilkan karya seni menggunakan Excel.
Tidak hanya ikut serta, Horiuchi berhasil meraih juara pertama, mengalahkan peserta lain yang menggunakan pendekatan lebih konvensional dan sederhana.
Kemenangannya itu menarik perhatian publik dan media. Banyak yang menganggap Horiuchi sebagai bukti bahwa kreativitas tidak dibatasi oleh alat.
Bahkan aplikasi yang awalnya dirancang untuk hitung-menghitung pun bisa menjadi sarana melahirkan karya seni bernilai tinggi.
Keunikan tersebut membuatnya menjadi salah satu contoh fenomenal bagaimana seni dapat lahir dari medium yang tidak biasa.
Karya-karya Horiuchi kemudian dipamerkan di berbagai galeri dan ditampilkan dalam artikel seni internasional.
Banyak seniman digital yang terinspirasi dari pendekatannya, menyadari bahwa batas antara seni dan teknologi semakin kabur.
Excel, yang dulu dikenal sebagai alat pekerjaan kantor, kini memiliki citra baru sebagai medium seni berkat kegigihan satu orang pensiunan yang tidak berhenti mencoba.
Horiuchi juga membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk belajar hal baru. Ia memulai eksperimennya di Excel pada usia mendekati 60 tahun.
Dalam banyak wawancara, ia menyampaikan bahwa ketertarikannya bukan pada programnya, melainkan pada tantangan: apakah ia mampu membuat sesuatu yang indah menggunakan alat yang sebenarnya tidak dirancang untuk itu?
Baca Juga: Era Hybrid Bread: Tren Roti Silang yang Menguasai Dunia Kuliner 2025
Hingga kini, kisah Tatsuo Horiuchi tetap dianggap inspiratif dan sering dijadikan contoh bahwa kreativitas sejati bisa muncul dari rasa ingin tahu, konsistensi, dan keberanian mencoba hal di luar kebiasaan.
Dari ruang kerjanya yang sederhana, ia menciptakan warisan seni yang akan selalu diingat sebagai “lukisan Excel”—sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, tetapi kini menjadi bagian dari sejarah seni digital.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah