Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Uters Dancer Taiwan Sukses Gelar “Formosa Warrior Culture Festival II”

Muhammad Azlan Syah • Minggu, 23 November 2025 | 16:15 WIB

Peserta Formosa Warrior Culture Festival II di depan museum Taipei, menampilkan keberagaman kostum dan kekayaan budaya Indonesia yang dibawa oleh para pekerja migran dan komunitas  seni di Taiwan
Peserta Formosa Warrior Culture Festival II di depan museum Taipei, menampilkan keberagaman kostum dan kekayaan budaya Indonesia yang dibawa oleh para pekerja migran dan komunitas seni di Taiwan

RADARBONANG.ID — Komunitas Uters Dancer yang bernaung di Universitas Terbuka (UT) Taiwan kembali membuat gebrakan budaya dengan sukses menyelenggarakan Formosa Warrior Culture Festival II.

Festival tahunan ini digelar di kawasan Museum Nasional Taiwan, tepat di samping Taman 228 di Taipei, Minggu (16 November), dan berhasil menarik ribuan peserta serta penonton.

Acara dibuka pagi hari dengan rangkaian lomba tradisional yang penuh semangat: balap karung, joget-balon, hingga tarik tambang, semuanya diwarnai sorak sorai dan tawa para peserta.

Baca Juga: Timnas Cerebral Palsy Indonesia Cetak Sejarah, Lolos ke IFCPF World Cup 2026

Keberagaman budaya Indonesia ditampilkan bukan hanya melalui permainan rakyat, tetapi juga lewat karnaval kostum: sekitar 150 pekerja migran Indonesia ikut berparade dari pintu keluar Stasiun Kereta Taipei hingga ke Taman 228, mengenakan pakaian tradisional Indonesia yang dimodifikasi dengan sentuhan modern.

Setibanya di tenda utama, acara semakin meriah. Upacara pembukaan diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”, lalu sambutan dari Ketua Panitia Vika Agustiana dan perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei.

Mereka menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi wadah diplomasi budaya dan perayaan identitas pekerja migran di Taiwan.

Sajian Seni dan Budaya Indonesia yang Memukau

Rangkaian seni menjadi jantung acara. Penampilannya dibuka dengan musik angklung yang lembut, kemudian dilanjutkan oleh pertunjukan tari tradisional oleh Uters Dancer dan grup tari dari Bali.

Selanjutnya, peragaan busana menjadi daya tarik utama: puluhan peserta berjalan anggun di atas panggung dengan kostum adat Indonesia yang kreatif, dirancang sendiri oleh para pekerja migran.

Salah satu peserta bahkan membuat pakaian dalam tema mahkota merak, sebuah simbol keanggunan dan kebijaksanaan.

Suasana semakin menggembirakan ketika penyanyi dangdut Koplo tampil dan mengajak penonton berjoget bersama di tengah kerumunan.

Keakraban sangat terasa, bahkan beberapa penonton memberi apresiasi dengan menyawer sang penyanyi, menambah kehangatan festival.

Puncak acara ditandai dengan penampilan Reog Ponorogo yang menawan: empat penari menarikan kuda lumping, dua singo barong berbulu merak, serta penari bujang ganong yang melakukan salto dan gerakan dinamis.

Penampilan ini sangat energik dan berhasil memukau ribuan penonton yang menyaksikannya dengan penuh antusiasme.

Pesan Panitia: “Pejuang Budaya” dalam Identitas Migran

Vika Agustiana, Ketua Panitia yang juga pekerja migran sekaligus mahasiswa UT di jurusan Sastra Inggris, menyatakan bahwa persiapan festival ini memakan waktu hampir satu tahun.

Ia berharap festival bisa menjadi acara tahunan yang terus berkembang dengan dukungan komunitas luas.

Menurut Vika, melalui acara seperti ini, para pekerja migran di Taiwan bisa menunjukkan bahwa mereka bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga duta budaya.

Mereka dapat memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke masyarakat lokal Taiwan, sekaligus menegaskan rasa bangga dan kecerdasan budaya mereka.

Mengokohkan Diplomasi Budaya dan Solidaritas Migran

Festival ini mendapat dukungan penuh dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei.

Pihak kantor menyatakan bahwa menjaga citra positif pekerja migran melalui ekspresi budaya kreatif sangat penting.

Di sisi lain, acara ini mempererat solidaritas antar pekerja migran: mereka berkumpul, merayakan budaya, dan berbagi semangat perjuangan bersama.

Tema “pejuang Formosa” dalam festival memiliki makna simbolis yang dalam: para pekerja migran dipandang sebagai pejuang dalam kehidupan, berjuang demi masa depan keluarga dan kampung halaman.

Identitas ini dijalin dengan kebanggaan diri dan rasa tanggung jawab sebagai duta budaya di negeri rantau.

Tinjauan Lebih Luas: Diplomasi Melalui Budaya

Festival ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar di kalangan pekerja migran Indonesia untuk memperkuat diplomasi budaya dan solidaritas komunitas.

Sebelumnya, komunitas Uters Dancer dan kelompok migran lain telah menggelar pesta budaya seperti festival Austronesia di Taiwan.

Melalui seni tradisional dan pertunjukan kreatif, mereka membangun jembatan budaya antara komunitas migran dan masyarakat lokal.

Secara statistik, komunitas migran Indonesia di Taiwan cukup besar, menjadikan inisiatif seperti festival budaya sangat strategis.

Baca Juga: Y2K: Ketakutan Global yang Nyaris Melumpuhkan Dunia Saat Tahun Berganti ke 2000

Festival seperti Formosa Warrior menjadi platform utama agar pekerja migran tidak hanya dilihat sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai penjaga persebaran budaya Indonesia di luar negeri.

Keberhasilan Formosa Warrior Culture Festival II menunjukkan betapa pentingnya warisan budaya bagi komunitas pekerja migran Indonesia di Taiwan.

Melalui parade, tarian, musik, dan kostum adat, para PMI merayakan identitas, memperkuat kebersamaan, dan menyuarakan narasi sebagai “pejuang budaya.”

Festival ini lebih dari sekadar hiburan — ia adalah manifestasi kebanggaan diri dan diplomasi budaya di negeri perantauan.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Uters Dancer Taiwan #reog di Taiwan #festival PMI Taiwan #budaya Indonesia migran #Formosa Warrior Culture Festival