RADARBONANG.ID - Lagu “Seandainya” kembali menjadi perbincangan publik setelah populer dibawakan oleh Vierratale dalam berbagai panggung dan platform digital.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa sebelum menjadi milik band tersebut, lagu ini pernah dibawakan oleh Raisa Andriana ketika ia masih berusia 18 tahun dan tergabung dalam band Andante pada 2008.
Rekaman awal inilah yang kemudian menjadi bagian menarik dari perjalanan karier dua nama besar di industri musik Indonesia: Raisa dan Vierratale.
Pada 2008, Raisa baru saja lulus SMA ketika Kevin Aprillio tengah mencari vokalis wanita untuk proyek musiknya, Andante.
Karakter vokal Raisa yang lembut, jernih, dan penuh emosi langsung memikat Kevin.
Ia pun mengajak Raisa untuk bergabung dan ikut mengisi beberapa materi lagu, salah satunya “Seandainya”.
Di tangan Raisa, lagu ini menampilkan warna pop yang lebih manis dan mellow, sangat berbeda dengan ciri khas Vierratale yang lebih berenergi dan pop rock.
Meski memiliki peluang untuk berkembang bersama band tersebut, perjalanan Raisa di Andante terbilang singkat.
Gaya musik pop rock yang menjadi identitas band dirasa kurang sesuai dengan jati diri vokalnya. Raisa akhirnya memilih mundur dan memutuskan untuk meniti karier solo.
Keputusan itu menjadi titik penting yang mengubah perjalanan kariernya secara drastis.
Setelah merilis beberapa single dan tampil di berbagai panggung, Raisa berkembang menjadi salah satu penyanyi solo paling populer di Indonesia dengan deretan lagu hits seperti “Serba Salah”, “Apalah (Arti Menunggu)”, dan “Kali Kedua”.
Sementara itu, Andante juga melanjutkan perjalanan musikalnya.
Band ini kemudian bertransformasi menjadi Vierra dan mencetak sukses besar di industri musik Indonesia pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an.
Lagu-lagu seperti “Perih”, “Rasa Ini”, dan “Tetap Menantimu” menjadikan Vierra sebagai salah satu band paling digemari pada masanya.
Transformasi Vierra berlanjut hingga menjadi Vierratale, yang tetap aktif di panggung musik Tanah Air hingga kini.
Kembalinya “Seandainya” sebagai lagu yang dibawakan Vierratale memunculkan kembali memori tentang bagaimana lagu tersebut pernah menjadi bagian dari perjalanan awal Raisa.
Versi awalnya kini beredar kembali di media sosial sebagai artefak musikal yang menggambarkan bakat Raisa sejak usia muda.
Para penggemar pun tak jarang membandingkan karakter vokal Raisa di masa remajanya dengan versi Vierratale yang lebih energik dan modern.
Bagi sebagian orang, kisah di balik lagu “Seandainya” menjadi contoh kuat bagaimana sebuah karya bisa memiliki perjalanan panjang sebelum mencapai posisi yang dikenal publik.
Dalam kasus ini, lagu tersebut bukan hanya menjadi salah satu repertoar populer Vierratale, namun juga menjadi penanda awal mula perjalanan seorang penyanyi yang kini berada di puncak karier.
Raisa sendiri beberapa kali menyebut bahwa masa-masa awalnya di dunia musik merupakan fase penting yang membantu membangun karakter serta arah kariernya.
Keputusan untuk keluar dari Andante dan memulai langkah baru sebagai penyanyi solo adalah bentuk keberanian untuk mengikuti kata hati dan jati diri artistiknya.
Sebuah pilihan yang kemudian mengantarkannya meraih berbagai penghargaan dan panggung besar di tanah air.
Baca Juga: Riski Inrahim Cetak Sejarah, Jadi Musisi Indonesia Pertama Masuk Nominasi Grammy Awards
Sementara itu, bagi Vierratale, “Seandainya” tetap menjadi salah satu lagu yang memperkuat posisi mereka sebagai band dengan basis penggemar yang solid.
Interaksi antara sejarah band dengan perjalanan awal Raisa pun menjadi catatan menarik dalam perkembangan musik Indonesia.
Versi awal “Seandainya” kini dipandang sebagai pengingat bahwa talenta besar sering kali terlihat sejak awal, bahkan sebelum sorotan publik benar-benar datang.
Raisa, yang pernah menjadi vokalis muda penuh potensi, berhasil membuktikan bahwa mengikuti jalur yang sesuai dengan diri sendiri dapat membawa seseorang mencapai puncak karier.
Lagu ini pun menjadi simbol perjalanan dua nama besar industri musik—Raisa dan Vierratale—yang masing-masing menapaki jalannya dengan cara berbeda, tetapi sama-sama sukses.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah