RADARBONANG.ID - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kembali menjadi perhatian publik setelah menyampaikan bahwa dirinya kini benar-benar meninggalkan dunia politik.
Hal tersebut ia ungkapkan dalam orasi Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sebuah momentum yang dianggapnya tepat untuk menjelaskan arah hidup barunya setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam panggung kepemimpinan nasional.
Dalam pidatonya, SBY menegaskan bahwa fase politik dalam hidupnya telah selesai.
Baca Juga: Golnya Mendunia! Tapi Jika Rizky Ridho Menang Puskás Award, Hadiahnya Apa?
Ia memilih memasuki babak baru yang jauh berbeda: dunia seni.
Keputusan ini membuat banyak pihak terkejut sekaligus memahami, mengingat dalam beberapa tahun terakhir ia memang terlihat semakin aktif berkarya sebagai pelukis, penulis, dan musisi.
Lebih Merdeka Setelah Lepas dari Protokol Politik
SBY mengungkapkan bahwa dirinya kini menikmati kebebasan yang tidak ia rasakan selama puluhan tahun berkarier sebagai prajurit, pejabat negara, dan kemudian presiden.
Menurutnya, dunia seni memberikan ruang yang jauh lebih luas untuk menyampaikan gagasan tanpa terikat aturan formal dan protokol kenegaraan.
“Dulu, dalam politik dan pemerintahan, banyak sekali batasan,” ujar SBY dalam orasinya.
Ia menjelaskan bahwa setiap ucapan, keputusan, dan gerak-geriknya harus mengikuti standar resmi, protokol ketat, serta beban moral untuk menjaga stabilitas negara.
Kini, sebagai seniman, ia merasa dapat berbicara dengan lebih jujur, lebih bebas, dan lebih personal.
Kebebasan itu pula yang membuatnya memilih meninggalkan politik secara total.
SBY menegaskan tidak lagi memiliki ambisi maupun keinginan untuk kembali dalam panggung kekuasaan, meskipun tetap mengikuti perkembangan bangsa.
Fokusnya kini sepenuhnya tercurahkan pada proses kreatif.
Melukis, Menulis, dan Musik Menjadi Rutinitas Baru
Dalam kesempatan tersebut, SBY menjelaskan bahwa hari-harinya kini dipenuhi dengan kegiatan seni.
Ia menghabiskan banyak waktu di studio melukisnya, menghasilkan sejumlah karya yang mulai mendapatkan perhatian publik.
Beberapa lukisannya bahkan telah dipamerkan dalam berbagai acara dan mendapat apresiasi positif dari para penikmat seni.
Selain melukis, SBY juga aktif menulis puisi, esai reflektif, hingga merampungkan proyek novel.
Ia mengaku menemukan ketenangan dalam proses merangkai kata—sebuah kegiatan yang sebenarnya sudah ia tekuni sejak muda, namun sempat terhenti karena tanggung jawab negara.
Tak berhenti di sana, musik juga menjadi medium yang ia pilih untuk menyampaikan perasaan dan kegelisahan batinnya.
SBY diketahui sudah beberapa kali merilis lagu, sebagian besar bertema cinta, kenangan, dan perjalanan hidup.
Baginya, seni musik adalah cara untuk merangkum emosi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ruang Refleksi Setelah Masa Kehilangan
SBY tidak menutupi bahwa perjalanan seni yang kini ia pilih sangat berkaitan dengan fase sulit yang ia alami, terutama setelah kepergian istrinya, Alm. Ani Yudhoyono.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan seni membantunya menemukan ketenangan, ruang refleksi, dan sarana untuk mengolah kesedihan secara kreatif.
“Melalui seni, saya belajar berdamai,” ucapnya. Menurutnya, proses kreatif membuka ruang intim untuk memaknai ulang banyak hal dalam hidup—dari kehilangan hingga harapan.
Karya-karya yang ia hasilkan dalam beberapa tahun terakhir, baik lukisan maupun tulisan, disebutnya sebagai potret perjalanan batin yang ia tempuh setelah masa-masa berat tersebut.
Ia berharap karyanya dapat menginspirasi banyak orang untuk terus berproses dan menemukan cahaya baru setelah mengalami kehilangan.
Mengaku Masih Amatir, Tapi Berkomitmen Menekuni Dunia Seni
Meski telah menghasilkan banyak karya, SBY dengan rendah hati menyebut dirinya masih sebagai “seniman amatir”. Ia menganggap bahwa seni adalah dunia yang luas, penuh teknik dan disiplin yang terus berkembang. Karena itu, ia berkomitmen untuk belajar, bereksperimen, dan menekuni karya seni sebagai profesi penuh waktu.
Ia juga tak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan seniman muda serta membuka ruang pameran yang lebih besar. Kesungguhannya dalam berkarya memperlihatkan bahwa babak baru ini bukan sekadar hobi, melainkan panggilan hidup.
Dengan pernyataan tersebut, publik kini melihat SBY dalam wujud yang berbeda: bukan lagi tokoh yang berdiri di podium politik, melainkan sosok yang lebih personal, reflektif, dan kreatif—yang ingin mengabdikan sisa hidupnya untuk seni.
Editor : Muhammad Azlan Syah