Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

LAIR: Musik Tanah Liat dari Jatiwangi yang Menggema hingga Panggung Dunia

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 22 Oktober 2025 | 02:15 WIB

Penampilan LAIR di Lost Farm Festival, Denmark. Membawa musik tanah liat dari Jatiwangi ke panggung internasional — menggabungkan tradisi, eksperimen, dan energi khas Pantura-Soul.
Penampilan LAIR di Lost Farm Festival, Denmark. Membawa musik tanah liat dari Jatiwangi ke panggung internasional — menggabungkan tradisi, eksperimen, dan energi khas Pantura-Soul.

RADARBONANG.ID – Dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, lahir sebuah band yang membawa “suara tanah” menembus batas dunia.

Mereka adalah LAIR, kelompok musik eksperimental yang mengusung genre unik bernama Pantura-Soul — perpaduan antara musik tradisi tarling pesisir utara Jawa Barat dengan soul dan eksperimen bunyi kontemporer.

Baca Juga: Kembali ke Zaman Edo: Seni Pedang dan Kehormatan Samurai dalam Budaya Jepang Modern

Musik dari Tanah, untuk Dunia

Berasal dari daerah yang dikenal sebagai sentra industri genteng terbesar di Asia Tenggara, LAIR menjadikan tanah liat bukan sekadar simbol, tapi sumber inspirasi dan medium artistik.

Tanah liat diolah menjadi alat musik, menghasilkan bunyi yang “membumi” dan otentik — seolah menghubungkan pemain dan pendengar dengan akar tanah tempat mereka berpijak.

Setiap penampilan LAIR bukan hanya konser, tapi juga pernyataan budaya: tentang hubungan manusia dengan alam, tentang industri yang lahir dari tanah, dan tentang identitas lokal yang bisa bersuara global.

Dari panggung desa hingga festival internasional, mereka menjaga semangat bahwa musik bisa menjadi bahasa universal untuk menyampaikan nilai dan kisah tempat asal.

Dari Jatiwangi ke Panggung Dunia

Nama LAIR mulai bergema setelah tampil di berbagai festival musik internasional. Mereka sempat unjuk gigi di South by Southwest (SXSW) di Amerika Serikat dan tampil di KEXP Live Seattle, dua panggung bergengsi yang dikenal menampilkan musisi independen dengan karakter kuat.

Pada 2025, LAIR menjalani tur Eropa bertajuk Lawatan Tanah Bertuah, menjelajahi enam negara dan lebih dari 20 kota.

Di setiap panggung, mereka membawa semangat Majalengka — memperkenalkan bahwa bunyi dari tanah desa penghasil genteng bisa mengguncang ruang-ruang pertunjukan dunia.

Dalam setiap lawatan, mereka bukan hanya tampil sebagai musisi, tapi juga sebagai duta budaya yang membawa pesan tentang kekayaan lokal, keberlanjutan, dan cinta terhadap bumi. Musik mereka menjadi narasi tentang tanah yang tak sekadar dipijak, melainkan dirayakan.

Penonton larut dalam irama musik LAIR di Lost Farm Festival 2025, Denmark. Energi mereka menular—membuktikan bahwa musik tanah liat dari Jatiwangi bisa menggoyang hati siapa saja, di mana saja.
Penonton larut dalam irama musik LAIR di Lost Farm Festival 2025, Denmark. Energi mereka menular—membuktikan bahwa musik tanah liat dari Jatiwangi bisa menggoyang hati siapa saja, di mana saja.

Identitas Lokal yang Mendunia

Lewat musik, LAIR mengajak publik global untuk mengenal sisi lain dari Jawa Barat. Mereka membuktikan bahwa lokalitas bukan batas, melainkan kekuatan. Bahwa dari Jatiwangi, suara tanah bisa menjelma jadi gema dunia.

Dan di tengah arus musik modern yang seragam, LAIR menjadi pengingat bahwa eksperimen bisa lahir dari kesederhanaan — dari tanah, dari desa, dari akar yang tetap kokoh meski telah menembus langit dunia.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#band LAIR Jatiwangi #musik tanah liat #musik Pantura Soul #tur Eropa LAIR #band Indonesia di SXSW